Catatan dari Sasak Diaspora di Tanah Seberang

Oleh: M Roil Bilad

[Sasak.Org] Sekilas terbayang punggung itu, sosok tua dengan rambut putih yang berjalan menjauh diantara kepulan debu terminal dan ramainya makelar yang berlalu-lalang mengejar para penumpang. Mungkin saat itulah kita tatap wajahnya untuk yang terakhir kalinya, entah sampai kapan, wallahua’lam, karena esok belum tentu kita bertemu kembali dengan matahari. Sosok itu hanya tersenyum tanpa berkata sepatah katapun. Tangan kanannya erat dijabatkan menebalkan keyakinan, sedang tangan kirinya menepuk-nepuk bahu. Terasa jelas, dia menggenggamkan kertas di tangan. Dengan tetap diam, tersenyum lalu berbalik tanpa berkata sepatah katapun. Bus malam sebagai kendaraan pertama menuju tujuan diberangkatkan dan petualangan di tanah seberang ada di hadapan.

Penasaran hati untuk membukanya, apakah gerangan itu. Biasanya, seperti sudah menjadi tradisi orang sasak untuk menggenggamkan uang kepada setiap sanak saudaranya yang pergi merantau ke tanah orang, apalagi ke negeri orang. Orang sasak selalu merasa ingin menjadi bagian dari perjuangan sanak saudaranya, setidaknya dengan memberikan bekal materi meskipun dari hasil peluhnya berbulan-bulan. Bagi sebagian yang masih belum tercerahkan, bebadong, azimat, maupun berbagai bekal ilmu dalam di turunkan, sebagai upaya memperkokoh tekad dan kepercayaan diri. Aku kanak sasak, dendek andang kiri, dendek andang kanan, dendek engat muri, maju juk julu jangkem jari.Perjalanan merupakan salah satu momen yang paling baik untuk meperbaharui semangat, mempertegas tujuan, meluruskan niat, dan membulatkan tekad. Terbayang sekilas wajah-wajah orang yang ditinggalkan. Orang tua yang semakin lanjut usia tapi masih harus terus menanggung beban, adik-adik yang masih sekolah. Istri atau suami tercinta yang merelakan kebersamaan yang terjalin dalam ikrar akbar pernikahan untuk mengasuh anak semata wayang. Berpisah dengan sahabat-sahabat tercinta yang selalu siap sedia dalam suka dan duka.

Bagi sasak diaspora, mereka berada dalam pertaruhan besar meninggalkan orang-orang yang dicintai dengan segala risiko dan memilih untuk mengadu nasib bekerja atau belajar di negeri seberang dengan suatu tekad bahwa kelak kita bisa membuat sebuah perubahan. Bahwa apa yang kita perbuat kini bisa menjadi titik balik yang selanjutnya bisa merubah arah hidup menjadi lebih baik. Terbebas dari belenggu lingkaran setan perekonomian dan pendidikan. Menjadi inisiator dari kristalisasi strata sosial, membentuk struktur baru yang lebih terorientasi. Seperti layaknya garam yang membatu dari larutnya di air laut oleh terik mentari yang menyinarinya, tuk kemudian melarut kembali di dalam belanga. Kita berusaha merubah keputus asaan menjadi harapan, kecemasan menjadi ketenangan, tiada menjadi berada, meminta menjadi memberi. Memutar episode demi episode kehidupan menjadi cerita indah untuk diwariskan dari masa ke masa.

Tidak terasa begitu jauh harus dipertaruhkan nasib ini, dengan bekal ilmu seadanya. Terlalu berat bagi orang tua yang berkubang dengan apa yang dimakan hari ini untuk membuat perencanaan demi kebutuhan jauh-jauh hari kemudian, apalagi untuk pendidikan anak yang memadai. Seringkali perjuangan menggapai pendidikan tinggi, lagi-lagi terbentur masalah ekonomi. Masalah ini justru terus menggeluti turun-temurun dari kakek-nenek ke orang tua, dari orang tua ke kita, dan bisa jadi juga akan bersambung ke anak cucu kita. Perjalanan jauh meninggalkan sanak saudara adalah jihad besar memutus lingkaran setan itu.

Perjalanan yang dilalui tidaklah singkat, kadang-kadang harus membelah lengkungan dari bulatnya bola bumi. Menembus hembusan panas angin sahara, atau kabut tebal kiriman kebakaran hutan di sumatra di negeri jiran Mayasia. Melihat dengan mata kepala, rumah bertembok kertas atau jendela bertirai bambu. Menembus cuaca dingin di negara dengan rakyat yang menyembah matahari atau hiruk-pikuk di negara yang mempertuhankan uang.

Bagi sasak diaspora, tidak boleh lagi ada ketakutan, tidak ada lagi keragu-raguan, tidak akan pernah mundur meski sejengkal untuk terus berusaha menggapai impian. Kita harus bersematkan semangat dan keberanian menempuh setiap tantangan, laksana pasukan Gibraltar yang tidak punya jalan mundur untuk menaklukkan britania. Kapal-kapal itu telah kita bakar ketika kaki telah pertama kali dijejakkan hingga tidak ada lagi jalan kembali.

Belajar atau bekerja di negeri orang tidak seindah yang sering banyak orang bayangkan. Kita berhadapan dengan serba kebaruan. Lingkungan baru, masyarakat baru, budaya baru yang seringkali bersebrangan dengan keyakinan dan kemauan kita. Belajar atau bekerja dinegeri sebrang sebagai tenaga kerja indonesai bukanlah sekedar berpindah tempat saja. Kesungguhan dan komitmen adalah urat nadi keberhasilan. Kemampuan beradaptasi dan kemampuan menjunjung langin dimana kaki dipoijakkan adalah kunci untuk bisa bertahan. Sering kali apa yang mereka lihat tidak seindah yang sebenarnya.

Ketika sisi lemah kemanusian menghampiri, kemalasan, kejenuhan, hilang semangat, dan berada disebrang jurang keputus asaan. Lalu kita mengingat kembali perjalanan panjang yang telah kita lalui. Perjuangan dan pengorbanan dari keluarga dan sanak saudara yang tiada terperi. Lalu dibukalah kertas azimat yang digenggamkan di saat-saat akhir perpisahan. Tertulis jelas disana kata bijak yang dikutib dari pengajian sebuah masjid di pojok kampung “Antum a’lamu, liumuuriddunyaakum – engkau lebih tahu urusan duniamu”. Mereka telah memberi apa yang mereka bisa, kita telah berjalan terlalu jauh untuk berhenti. Saat ini tidak ada lagi yang akan membela karena kita telah jauh dari sanak saudara. Genderang perang telah ditabuh, terompet komando telah ditiupkan. Saatnya untuk berjuang sendiri, dengan tangan sendiri, dibawah perlindungan Allah dan kekuatan doa dari keluarga yang ditinggalkan. Tidak ada pilihan selain terus berpacu bersama waktu tuk gapai harapan dan cita-cita, jemput impian, gapai keberhasilan, dan raih kemenangan.

Jayalah bangse sasak!!!

Jayalah sasak diaspora dimanapun kita berada!!!

Sumber: Klik disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: