Antisipasi Mendesak Penanganan Limbah Penambangan Emas Sekotong

Oleh : M Roil Bilad

Potensi hampir 1,4 juta ton deposit emas di kawasan penambangan rakyat sekotong merupakan aset luar biasa masyarakat NTB. Meskipun sampai saat ini belum ada grand design pengelolaan kekayaan alam ini, kegiatan penambangan ‘illegal’ telah begitu marak dilakukan oleh masyarakat. Penulis tidak akan mengulas mengenai kebijakan pengelolaan yang notabene telah memiliki aturan perundang-undangan yang perlu dibumikan disesuaikan dengan keadaan lapangan, namun akan lebih menekankan mengenai antisipasi teknis pencemaran lingkungan sebagai ekses dari kegiatan penambangan tersebut.Salah satu dampak negatif pencemaran lingkungan yang paling ditakutkan dari penambangan emas adalah rembesan limbah cair yang mengandung logam berat raksa (Hg). Pada proses penambangan emas, merkury digunakan untuk meningkatan laju pengendapan emas dari lumpur. Partikel merkury akan membentuk anglomerasi dengan emas sehingga meningkatkan perolehan emas. Sebenarnya peraturran internasional sudah tidak lagi memperbolehkan penggunaan merkury untuk pertambangan pada skala besar.

Logam berat ini sangat berbahaya meskipun pada konsentrasi rendah. Hg larut dalam air dan ketika terakumulasi di perairan baik sungai atau laut dapat berdampak langsung membahayakan masyarakat. Studi kasus menunjukkan pengaruh buruk mercury seperti tremor, kehilangan kemampuan kognitif, dan gangguan tidur dengan gejala kronis yg jelas bahkan pada konsentrasi uap mercury yang rendah 0.7–42 μg/m3. Penelitian menujukkan bahwa jika menghirup langsung mercury selama 4-8 jam pada konsentrasi 1.1 to 44 mg/m3 menyebabkan sakit dada, batuk, hemoptysis, pelemahan dan pneumonitis. Pencemaran akut mercury menunjukkan akibat parah seperti terganggunya system syaraf, seperti halusinasi, insomnia, dan kecenderungan bunuh diri. Yang lebih membahayakan adalah bahaya laten mercury. Jika masuk ke perairan, mercury akan terakumulasi pada ikan dan akan memberikan efek langsung seperti yang dijelaskan diatas jika ikan tersebut dikonsumsi. Oleh karena itu upaya penanganan limbah cair ini sangat mendesak untuk dilakukan.

Menurut hemat penulis, untuk menanggulangi pencemaran lingkungan di kawasan penambangan rakyat sekotong harus digunakan teknologi yang telah terbukti dan teruji, mudah dibuat dan tersedia secara lokal seluruh bahan baku dan material pembuatannya. Salah satu teknologi klasik yang mumpuni digunakan adalah menggunakan bioabsorber. Teknik ini salah satunya digunakan untuk konservasi sungai yang tercemar logam berat pasca revolusi industri di inggris dan eropa daratan.  Teknik biosorpsi ini menggunakann tumbuhan air-eceng gondok untuk menyerap logam berat yang larut pada air.

Eceng gondok memiliki kapasitas biosorbsi yang besar untuk berbagai macam logam berat terutama Hg. Logam berat tersebut diabsorbsi dan dikonversi menjadi building block sehingga tidah lagi membahayakan lingkungan. Namun demikian proses biosorbsi sangat sulit untuk menghasilkan air yang bebar logam berat. Selain laju biosorbsi yang lambat, distribusi eceng gondok juga hanya mengapung dipermukaan sehingga menyulitkan pengolahan yang homogen. Hal ini bisa diantisipasi dengan desain embung yang luas namun dangkal atau dengan melibatkan proses pengolahan lanjut dengqn pengolahan  tambahan.

Untuk kasus sekotong, secara teknis dapat dilakukan dengan membuat embung/waduk kecil sebelum pembuangan akhir (sungai atau laut). Embung tersebut harud dijadikan sebagai muara buangan air limbah pertambangan rakyat sehingga terkonsentrasi pada satu tempat. Pada embung tersebut ditumbuhkan eceng gondok yang akan mengadsorpsi logam berat yang terlarut didalamnya. Tentu saja aspek teknis untuk desain detail mengenai waktu tinggal dan lain-lain mesti disesuaikan dengan keadaan real lapangan dan spesifikasi desainnya dengan mudah didapatkan di jurnal-jurnal penelitian. Sebagai pengolahan akhir sebelum dibuang ke pembuangan air dapat digunakan saringan karbon aktif untuk mengadsorbsi kandungan sisa yang belum dapat diikat/di absorbsi oleh eceng gondok.


Gambar 1 : Skema pengolahan limbah cair penambangan emas rakyat, sekotong.

Saringan karbon aktif memiliki resolusi/derajat pemisahan yang sangat tinggi sehingga menjamin kandungan logam berat keluaran nihil atau sangat rendah. Karbon aktif secara sederhana dapat dengan mudah dibuat dari arang melalui proses aktifasi. Arang komersial (karbon) dapat dijadikan karbon aktif melalui aktifasi fisik dengan pemanasan pada temperatur 600-800 °C selama 3-6 jam.

Wallahu A’lam.

Sumber: Klik disini

2 Comments

  1. tony said,

    March 6, 2012 at 5:13 am

    kami memiliki desain yang lebih menyempurnakan sistem Bio Absorber…namun kami butuh partner untuk mengembangkannya agar bisa diaplikasikan dan dimanfaatkan masyarakat kita…email anda kami tunggu di tony.le55@yaho.co.id atau 0819079 33343

    • M Roil BILAD said,

      May 29, 2012 at 11:40 am

      Sayang saya sedang tidak berkiprah dibidang ini. Saudara bisa kontak pemda Lobar, mungkin mereka membutuhkannya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: