Gerakan 100 ribu wirausahawan baru

Oleh: M Roil Bilad

Maka kepada TGB aku memohon, turunlah sejenak dari puncak pohon itu, saatnya menghancurkan penghalang itu dengan bekerja bersama mereka”.

Setelah menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah yang tersisa dari pemimpin sebelumnya dan menginisiasi berbagai program terobosan untuk mencapai misi NTB Bersaing, TGB kembali mencanangkan salah satu program unggulan, yaitu gerakan 100 ribu wirausahawan baru. Gerakan ini rencananya akan difokuskan mulai tahun 2010 ini sebagai upaya untuk yang di brand dalam kegiatan 3P: Penanggulangan kemiskinan, Perluasan kesempatan kerja dan Penurunan angka pengangguran. Program ini akan ditunjang oleh program pengembangan pariwisata, dan pembentukan dua ribu koperasi berkualitas. Program ini termasuk dalam program prioritas ekonomi yang diharapkan dapat meningkatkan kelembagaan ekonomi masyarakat yang semakin kuat dan memiliki jaringan yang mengakar.Apa yang sudah dibuktikan sebagai trademark TGB dalam memimpin NTB adalah kemampuannya dalam menciptakan mimpi bagi masyarakat. Dengan berbagai selogan dan semboyan yang telah luas diketahui oleh masyarakat seperti bumi sejuta sapi (BSS), 3A (Absano, Akino dan Adono), Visit lombok-Sumbawa 2012 dan berbagai selogan yang lain, dan kini Gerakan 100 ribu wirausahawan baru. TGB seperti mencoba membangkitkan gairah hidup masyarakat NTB sebagai seorang pemimpin yang memiliki visi dan arah bagi pembangunan masyarakat. Dia seolah-olah senang menaiki puncak pohon tertinggi dan berteriak “kita akan menuju kesana”.

Namun demikian, sebagai seorang pemimpin, seyogyanya tidak hanya sebatas kreator dari selogan atau mimpi-mimpi saja. Keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari seberapa banyak mimpi yang dia tawarkan kepada rakyatnya, namun diukur dengan sebanyak apa mimpi-mimpi itu yang menjadi nyata. Keberhasilan TGB memimpin NTB akan dinilai secara langsung oleh masyarakat sejauh mana perubahan hidup dan kesejahteraannya mampu ditingkatkan.

Jumlah penduduk NTB pada tahun 2006 tercatat sebanyak 4.257.306 jiwa. Rasio jumlah wirausahawan secara umum di Indonesia terhadap jumlah penduduk hanya mencapai 0,7% berbeda jauh dengan Singapura yang mencapai 20%. Konon inilah salah satu mengapa Indonesia tidak pernah benar-benar bangkit perekonomiannya, karena mayoritas rakyatnya lebih senang menjadi buruh. Jika ditambah dengan 100 ribu wirausahawan baru di NTB, maka rasio tersebut akan menjadi 3% yang dipandang ideal untuk kemandirian perekonomian suatu daerah. Menurut hemat penulis, ini adalah perhitungan briliant dan akan menjadi excellent jika perhitungan diatas kertas ini bisa terealisasi diatas tanah NTB.

Gerakan kewirausahawan seperti ini memang secara mutlak harus dicanangkan. Kondisi NTB sebagai lumbung TKI nasional (pengangguran tinggi) dan nomor wahid dalam hal jumlah janda (tingginya angka ketergantungan) menyebabkan NTB mau tidak mau harus menggeliat dari keterpurukan ini.

Namun demikian, dari ratusan ribu penduduk NTB yang pernah atau sedang mengenyam status sebagai TKI, percayalah bahwa sebenarnya hal yang paling mereka angan-angankan adalah “Bekerja untuk mendapatkan modal usaha”. Tanpa disosialisasikan, tanpa diajarkan masyarakat sudah tahu kalau mereka semestinya berdikari, mandiri, berdiri diatas kaki dan usahanya sendiri. Yang tidak ada adalah iklim ekonomi yang baik. Pemerintah belum mampu membangun kondisi ekonomi yang memungkinkan terciptanya wirausahawan baru yang dapat menjalankan usahanya dengn baik dan sukses. Meskipun telah sekian banyak program yang dikemas dalam berbagai nama, BLT, PNPM mandiri, desa mandiri energi, koperasi berkualitas dan lain-lain kete belece, kebanyakan non-sense. Bank-bank telah mendapatkan kucuran dana bermiliar-miliar untuk UKMK dan usaha mikro namun hanya sebagian kecil yang mengalir dan bergulir untuk menstimulasi kegiatan ekonomi.

Meskipun sekian banyak program telah dicanangkan namun permasalahan malah kian berlipat jumlahnya. Program pemerintah yang di brand sedemikian indah seolah menyebabkan amaq Loyok dan papuk Omah yang terbiasa memanggul cangkul, menyandang sabit dan berlindung di balik kecapil enggan untuk datang dan meminta pertolongan. Ada semacam subuah penghalang yang direpresentasikan atas nama “pemerintah” (orang yang kerjaannya membei perintah), karena sebenarnya salah menerjemahkan kata government, yang seharusnya dimaknai sebagai bagian dari komunitas yang diberikan mandat untuk menegakkan aturan, hukum dan regulasi. Bukannya tukang perintah yang cendrung turun dari kata usang bahasa sasak yaitu “datu”. Maka kepada TGB aku memohon, turunlah sejenak dari puncak pohon itu, saatnya menghancurkan penghalang itu dengan bekerja bersama mereka. Sehingga amaq loyok tidak lagi malu menyapamu sebagai saudaranya. Wallahu A’lam!!!

Sumber: Klik disni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: