Maka akan kemanakah engkau pergi duhai anak sasak?

Oleh: M. Roil Bilad

Setiap selesai ujian akhir nasional (UAN), lombok ditinggalkan pepadu-pepadu mudanya merantau menuntut ilmu ke luar daerah. Kecenderungan untuk memilih sekolah terutama perguruan tinggi di luar daerah ini sudah sangat umum. Hal ini disebabkan tidak adanya jurusan yang menampung minat calon mahasiswa tersebut di daerah atau karena memang kualitas kampus yang ada di lombok sangat rendah sehingga tidak dilirik oleh putra-putri lombok sendiri. Pelajar-pelajar tercerdas diantara mereka tekun mempersiapkan diri menembus ujian saringan masuk perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Sebagian yang lain meski tidak berhasil masuk ke perguruan tinggi vaporit mereka, tetap juga menempatkan universitas di luar daerah sebagai prioritas berikutnya. Hal ini memang lumrah melihat fasilitas dan kualitas yang dimiliki dan prospek alumni perguruan tinggi tersebut. Terang saja, ITS, ITB, UI, UGM, Unibraw, IPB menjadi deretan PT yang menjadi pilihan utama. Putra-putri terbaik lombok itu eksodus belajar keluar daerah meninggalkan sanak-saudara untuk menuntut ilmu. Jangan heran jika di malang, jokyakarta, surabaya, maupun jakarta kita akan menjumpai banyak bangse sasak yang kebetulan menuntut ilmu atau bekerja disana.
Dilema yang cukup besar sebenarnya terjadi ketika mereka menamatkan kuliah. Jika kembali ke daerah mereka harus bersaing dengan tidak sedikit lulusan-lulusan lokal untuk memperebutkan lowongan pekerjaan yang sangat terbatas. Meskipun harus bekerja, potensi untuk mengaktualisasikan kemampuan sendiri juga sangat terbatas. Mahasiswa cerdas multi trampil hanya disuruh oleh atasannya menjadi tukang ketik dan tukang foto kopy. Terlebih lagi apabila melihat penghargaan (baca:gaji) yang diterima hanya cukup untuk bertahan hidup saja.
Sementara itu diluar daerah bahkan diluar negeri peluang kerja yang memberikan apa yang tidak mampu diberikan di daerah terbuka lebar. Mereka yang berkualitas dan multi trampil tersebut bisa dengan mudah diterima bekerja di penusahaan nasional, multi nasional company maupun diluar negeri. Terjadilah brain drain pepadu sasak. Mereka yang cerdas dan multi trampil itu dengan sangat terpaksa harus meninggalkan daerahnya. Sementara yang tertinggal hanya mereka (mohon maaf), pencari kerja kelas dua yang berkubang mencari kerja seperti menangkap empak beru lek dalem raok. Sudah kotor, nangkepnya sulit, resiko tertusuk pun besar, licin pulak, empak beru juga tidak terlalu enak.
Bagi orang lain yang jeli melihat, orang-orang dari daerah lain memanfaatkan ini sebagai peluang. Meskipun otonomi daerah sudah lama di jalankan, tidak sedikit orang-orang dari luar daerah yang memegang tampuk kuasa baik di instansi dan birokrasi pemerintah maupun di institusi swasta yang ada di lombok.Mereka melakukan brain gain ke lombok, memanfaatkan peluang yang ada. Proyek-proyek pemda maupun pemprov dikerjakan oleh orang luar, sementara yang kecil dibagi untuk kroni para pemenang pilkada.
Bangse sasak itu hanya seperti riak-riak gelombang di pantai saja. Mereka gagah perkasa, cuman hanya di sana saja, di bibir pantai. Seolah ingin menghancurkan daratan dengan gemuruh suaranya yang dahsyat. Padahal gemuruh itu hanya terdengar disitu saja. Gemuruh dan gelombang itu bolak-balik seperti pazzle tanpa penyelesaian, maju mundur, bergerak ditempat dihiasi sorak sorai buih yang sekedar ada untuk hilang tiada. Hampir dua setengah jute bangse sasak, laguk endekn arak ambun!! Mereka berteriak, berdemonstrasi protes tidak kebagian BLT, namun suaranya tidak kemana-mana karena tidak ada yang mewakilinya di Senayan.
Lalu dimana bangse sasak? Bangse sasak ada di seberang lautan. Beberapa gelintir dari mereka menerobos dunia jadi professor di Univ. of Virginia, Amerika;  jadi Engineer di Norwegia,  Bangkir di Swiss, diplomat di Austria, budayawan di belanda. Sebagian lainnya bekerja di perusahaan multi nasional dan perusahaan nasional di seluruh Indonesia. Namun mereka itu hanya segelintir saja, sangat sedikit sekali jika dibandingkan dengan bangse sasak keseluruhannya. Bangse sasak yang besar itu ada di kebun sawit di hutan-hutan malaysia. Bangse sasak itu berjejalan tendok marah pindang lek Abu Dhabi International air port dalam perjalanan pulang-pergi jadi TKI. Sisanya yang tertinggal di lombok adalah para calon TKI, pegawai negeri, dan demonstran yang suaranya tidak mungkin didengarkan karena tidak ada yang mewakili mereka di senayan.

Sungguh kasihan bangse sasak,putra putri terbaiknya di brain drain tidak bisa turut membangun dasan mereka. Kasihan bangse sasak, di brain gain oleh outsider yang memanfaatkan kebodohan mereka. Sebagian rakyatnya di brain wash agar bermental buruh untuk jadi TKI,  tetep jari kawule terus dengan duah sak jari raje. Maka akan kemanakah engkau pergi duhai anak sasak? To drain, being gain, or being wash? Sementara orang-orang disana bilang, “sudahlah, jangan kembali!”

Wallahu a’lam

Rahayu Bangse Sasak!!!

Sumber: Klik disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: