Mempersiapkan diri menghadapi pesta demokrasi

Oleh: M. Roil Bilad dan Lalu Muhamad Jaelani

Sudah tidak asing lagi masa-masa menjelang pemilihan umum adalah masa kampanye, masa menjual diri menyongsong pesta terbesar dari demokrasi. Disini eksistensi rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi diagung-agungkan. Petani disayangi, nelayan rajin dikunjungi, perkampungan-perkampungan kumuh pun tak terlampaui. Masyarakat miskin dikasihi, anak yatim piatu disantuni, suara-suara aspirasi didengarkan dan diapresiasi. Pahlawan-pahlawan bangsa dikenang kembali, keluarga-keluarga para pahlawan digandengi, bahkan para dedengkot korupsi di beri gelar pahlawan pembela negeri. Euforia pelayanan dan pengabdian terhadap rakyat di teriakkan, kontrak-kontrak sosial diikrarkan, nilai-nilai moral menjadi hiasan pidato-pidato juru kampanye yang menggelegar. Artis-artispun laris manis menghibur kegalauan dari letih panjang anak negeri yang membantng tulang berharap kesejahteraan yang tak kunjung datang.

Para calon punggawa negeri berlomba-lomba membagi materi, masjid-masjid di rehab dan diperbaiki, mushalla-mushalla dibangun, majelis pengajian dihadiri. Tokoh-tokoh itu, yang bertahta dibawah umbul-umbul calon pemimpin negeri, mereka teredukasi dan bersematkan gelar-gelar pendidikan tinggi bersiap untuk menghapuskan segala kekecewaan masa lalu dan mengajak untuk menggapai harapan baru. Harapan-harapan baru tentang masa depan gemilang pun bersemi kembali. Bersemi bakai pucuk-pucuk dedaunan yang tumbuh dengan semangat baru setelah sekian lama berguguran karena dinginnya salju yang membunuh. Itulah kampanye, pesta demokrasi yang menghiasi pemilu, pilpres dan pilkada di negeriku.

Namun sayang beribu sayang itu hanya euforia sesaat. Setelah suara didulang, kuasa ditangan, dan segala kebijakan dipegang, saatnya untuk meradang. Calon pemimpin itu menuntut pembayaran kembali, mereka yang dulunya menyenandungkan nyanyian tentang memberi dan mengabdi, kini berubah ke wujud aslinya sebagai perampok demokrasi. Apa yang dijanjikan selama kampanye hanyalah ilusi sesaat. Ilusi yang memabukkan, hingga kita meninggalkan kesadaran untuk memberikan kedaulatan yang untuk selanjutnya dijadikan senjata anarki dengan tameng birokrasi. Seluruh yang diberikan diminta jauh lebih besar dari apa yang dahulu diberi. Perampok demokrasi itu dengan mudah menghancurkan kembali ilusi akan hari baru menjadi realita mengenaskan yang sarat penderitaan. Mereka meminta kembali setiap materi yang diberi dengan menggunakan tameng birokrasi untuk menggantikan janji-janji sebagai pengabdi dengan korupsi di sana sini. Harapan kami, rakyat negeri ini remuk redam, hancur lebur menyisakan sakit tak terperi.

Telah kau rampas hak-hak insani yang anak negeri ini miliki, dibalas dengan aksi-aksi yang dikelabui dengan program-program yang tak banyak arti. Engkau ambil kembali setiap apa yang kau beri lebih banyak lagi, kau pakai nama kami untuk mengemis hutang yang kelak (akan) dibayar oleh cucu kami. Pemilu yang sedianya adalah pesta demokrasi berubah menjadi pasar materi. Materi digelontorkan dalam buaian dan kemasan janji-janji sebagai sebuah investasi untuk selanjutnya diminta kembali jauh lebih banyak lagi dalam topeng birokrasi untuk mengeksploitasi. Kesejahteraan yang dibuih-buihkan itu hanya mimpi, yang mengema dalam tidur ilusi dan tiba-tiba sirna dalam realita yang nisbi. Membunuh harap, menggilas semangat, mematikan reaksi dan memberangus kepercayaan yang diberikan oleh anak negeri.

Seperti di bagian lain dari negeri Indonesia, euforia pesta demokrasi ini juga berlaku bagi bangse sasak. Mudah bagi mereka yang bermateri untuk mendekati bangse sasak yang begitu terbelakang dan miskin tak terbilang. Cukup dengan beberapa bungkus indomie dan kaos tanda simpati untuk membeli suara mereka. Kemiskinan dan penderitaan bangse sasak membuat mereka hanya berfikir tentang hari ini, bukan besok atau jauh-jauh hari. Sumbangan pasir, bata dan semen dikemas dalam sedekah dan infak untuk mendulang simpati. Acara maulidan dan isra’ mi’raj tiba-tiba dihadiri agar terlihat peduli.

Fenomena kampanye materi telah sekian lama melanda kampungku bangse sasak. Dari pemilihan kepala desa, anggota dewan, bupati dan gubernur. Calon-calon pemimpin itu menggadaikan karakter diri, idealisme pribadi dan harga diri demi kekuasaan yang sebenarnya tidak layak diberi. Kenyataan bahwa bangse sasak yang bertansformasi menjadi begitu pro-materi sehingga kepemilikan materi menjadikan masyarakatnya merasa terhormat dan dihormati menjadikan demokrasi materi ini seiring seirama. Bagaikan senduk bertemu kemek, alu ketemu gendeng, palu ketemu paku, menjadikannya pasangan yang begitu ideal; demokrasi-materi dan cinta-materi.

Duhai calon punggawa negeri!!

Tidak ada yang lebih dibutuhkan oleh rakyat negeri selain buah pikiran berupa solusi. Jangan pernah engkau enggan menjual gagasan yang bermanfaat untuk mereka. Sesunggunya tidak ada satupun yang lebih berharga dari seorang calon pemimpin negeri, selain gagasan atau ide brilian untuk mengangkat rakyatnya dari lumpur keterpurukan yang semakin menjadi jadi. Gagasan merupakan kompas yang akan memandu perjalanan panjang berliku yang penuh onak dan duri. Sangat mustahil bagi kaki- kaki kecil rakyat nestapa yang berkubang lumpur derita untuk mampu mengikutimu, ketika engkau berjalan dalam lorong gelap ketidak tentuan, tak berarah yang hanya dipandu tabuhan gendang materi. Derapkan langkah kaki perkasamu, jejakkan kakimu dalam kesungguhan dan keyakinan akan sebuah visi, misi dan arah yang jelas teruji.

Kampanyelah masanya engkau membuka diri. Jual ah gagasan mengenai solusi bagi masalah anak negeri. Uji dirimu dengan ajian mumpuni sehingga terkuaklah kapasitas diri. Jangan kau bersembunyi dibalik wibawa nisbi untuk terlihat teredukasi. Jadikan dirimu sebagai solusi dengan visi dan misi yang terdefinisi, sehingga jelas apa dan bagaimana kelak kau layani putera-puteri pertiwi. Karena yang engkau hadapi bukanlah masalah basi, namun petaka dahsyat hasil dari kerakusan duniawi.

Saatnya engkau buka komitmen diri, hiasi dirimu dengan ide-ide teruji bukan berkampanye dengan tarian materi. Lihatlah sekitar kita, betapa banyaknya bahkan hampir seluruhnya melakukan itu. Media massa dibanjiri iklan foto diri dan slogan kosong tanpa isi, hanya menjual warna dan figure yang tak punya relevansi. Engkau bukannya sibuk berbenah diri membangun kapasitas pribadi, justru berlomba lomba pamer diri, bahwa iklah yang wah adalah bukti kekuatan sejati. Jangan engkau permalukan papuk balokmu dengan menunjukkan cara-cara basi, hingga hanya sampai disinilah ukuran kesiapan yang engkau miliki untuk memegang tahta birokrasi. Tak ada gagasan, tak ada ide, visi yang suram, misi yang kabur, program unggulan pun tak pernah terfikirkan, apa lagi terrealisasi. Yang ada hanyalah slogan kosong yang di kemas dalam drum-drum marching band yang kau gunakan untuk mengelabui. Kau hanya bersandar pada gelontoran rupiah untuk kau tukar kedaulatan kami dengan materi.

Duhai para putera-puteri pertiwi!!

Ibu pertiwi telah lebih dari setengah abad bersusah hati. Saatnya untuk bangun dan beranjak dari kobodohan dan kehinaan ini. Belajarlah meskipun sedikit, untuk berprilaku bijak dan mawas diri kepada penjahat demokrasi. Dari sedikitnya kesempatan bagimu untuk mengecap sedikit ilmu pengetahuan itu, gunakanlah dengan seksama dan hati-hati. Perlakukan dengan benar, orang orang yang hanya pintar menebar janji, yang tampil manis untuk kemudian hari menyedot darah, menyisakan nanah yang amis bagai bekas tertusuk duri.

Engkau telah benar! Peraslah perampok negeri itu dalam kampanye yang dilakukan dengan gelontoran harta dan kekayaan. Ambillah dari apa yang diberi namun jangan sekali-kali engkau tukar dengan aspirasi. Biarlah uang entah berantah yang dipertaruhkan dalam perjudian dengan setan itu kau serap tak berbekas. Rangkullah mereka yang datang dengan gagasan yang telah lama kau tunggu, dan kau harapkan untuk secara konsisten dilaksanakan dan dipertanguung jawabkan kelak dikemudian hari. Tutup telingamu pada mereka yang membuihkan mulut mereka dengan buaian janji-janji yang tak terukur dan teruji. Sunggingkan senyummu pada mereka yang membawa artis-artis yang dengannya, mereka mengira akan mudah banginya untuk menadapatkan simpati. Sungguh tidak salah, ketika engkau untuk sementara waktu berubah menjadi preman dan penadah, menjadi pemeras calon penjahat demokrasi yang mebeli kedaulatan hakiki dengan hanya segelintir materi. Karena itulah yang engkau bisa. Karena itulah yang mereka ajarkan selama ini kepadamu. Ambil, ambillah sebanyak-banyaknya dari mereka, namun jangan pernah terbersit dihatimu bahwa dengan itu engkau menjual kedaulatan dan aspirasimu.

Duhai para punggawa negeri!!

Cukuplah kiranya kau obral janji-janji dan gelontoran materi. Hentikanlah tipu daya itu hari ini untuk kembali ke fitrah insani. Jadikanlah anugrah kemuliaan yang engkau emban sebagai amanah ilahi yang hakiki. Tinggalkanlah sebagai bagian dari masa lalu untuk kita berkaca kembali. Marilah songsong masa depan dengan solusi dan rekonstruksi. Majulah, suarakan aspirasi kami untuk membawa perbaikan dan solusi. Abdikan dirimu dengan penuh dedikasi demi anak negeri untuk kau dapatkan penghormatan sejati. Peraslah peluh, bersahabatlah dengan lelah demi penghargaan tertinggi. Biarlah badan, tangan dan kaki yang bersaksi kelak dikemudian hari dihadapan ilahi. Bahwa badan, tangan, dan kakimu telah letih melangkah, menanggung amanah, memperjuangkan kesejahteraan anak negeri dengan istiqomah.

Duhai bangse sasak lebung!!

Ambillah materi itu dan jangan pernah kau pilih mereka yang berusaha membeli. Saatnya untuk memberikan pelajaran berarti bagi calon penjahat demokrasi. Tinggalkan mereka yang no action, talk only. Berikanlah suaramu, kedaulatanmu atas panggilan hati nurani demi mendapatkan pemimpin sejati. Pilihlah mereka yang datang dengan kekuatan hati, tanpa harapan untuk mendulang materi. Pilihlah mereka yang datang dengan keikhlasan hati mengabdi dan ingin memberi. Pilihlah mereka yang membawa misi suci, menyuarakan nurani dan bekerja dengan cinta dan hati. Pilihlah mereka yang memilih untuk berbicara dengan bukti daripada yang membeberkan omong kosong tanpa isi. Cukup sampai disini kita harus hentikan perampok demokrasi itu agar berhenti. Cukup-cukupkan sudah tipudaya duniawi ini mencengkram harapan esok hari. Cukupkan punggawa kedzoliman itu bersembunyi di balik jubah birokrasi untuk terus beraksi. Hentikanlah!! Hentikanlah saat ini.

Jangan sampai apa yang terjadi kini akan terus begini. Berulang kembali dalam bilangan tahun masehi disetiap pesta demokrasi. Cukup, cukupkanlah sampai disini. Karena jika tidak, cepat atau lambat, kehancuran akan datang menimpa kita bangse sasak. Telah jelas termaktub dalam lafadz qur’ani: Dan ketika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya ketentuan kami, kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya (Al-Israa’ 16). Jangan sampai kita akan membiarkan kehancuran itu terjadi. Saatnya bertindak untuk menghentikannya saat ini, dan mulai dari diri sendiri.

Wallahu a’lam.

Sumber: Klik disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: