Menunggu Pemuda Harapan Untuk Memimpin Tanah Tastura

Setiap depa dari garda pertahanan harus tetap dipertahankan dimuka. Segenap senjata dihunus tuk pertahankan jiwa dari karma kefanaan.Segenap peluh yang tersisa diperas untuk terus berusaha. Setiap jengkal dari tanah di tindih agar tiada terjamah. Setiap kekuatan jiwa di gelorakan untuk menggerakkan kejumudan.

Ketika setiap usaha dikerahkan tuk gapai tujuan. Satu demi satu, garda-garda padam oleh badai duniawi yang melenakan. Setiap obor-obar yang menyala itu satu demi satu redup kemudian padam. Dalam perjalanan menuju ujung kehidupan, setiap pilihan seringkali bukan suatu jawaban. Setiap fragmen mozaik bukan lagi menjadi harmoni yang utuh. Setiap baris tidak mampu terangkai menjadi bait yang menyatu. Setiap lagu tidak selalu menjadi pelipur pilu. Dinamika hidup menghantarkan kita pada ujung dimana kita harus memilih untuk ikut masuk menjadi bagian dari yang salah atau merubahnya menjadi benar dengan tangan sendiri.

Hampir lima tahun sudah obor terakhir bumi tastura telah coba dipadamkan. Obor terakhir berupa harapan itu pun kini telah pudar dan sewaktu-waktu dapat tersapu padam oleh angin malam yang dingin menusuk tulang. Hampir empat tahun harapan tentang menjadi sesuatu-yang-benar dibuat menjadi tabu dan saru. Di tanah itu kemilau asa tentang harapan pupus oleh ancaman akan ketakutan dan kesewenang-wenangan. Di tanah itu, massa di bungkam dengan ancaman dan keberanian dikaburi dengan uang. Di tanah itu, manusia tiba-tiba disulap menjadi domba dan penyamun menjadi penggembala.

Ketika ditempat lain orang berlomba-lomba meluncurkan satelit ke laur angkasa, ditanah itu rakyatnya digeroh untuk bermain kuda. Di tanah itu pendidikan sudah ditempatkan di nomor sekian, pemimpinnya lebih mengedepankan preman dibanding nasihat pada ilmuan. Di tanah itu nilai pendidikan telah dinistakan oleh keteladanan yang memalukan. Di tanah itu pemudanya menistakan masjid dengan meminum hamr dan perbuatan terlarang. Di tanah itu peradaban berjalan surut sementara yang lain maju ke depan. Di tanah itu kini yang tersisa, pesimisme, rasa takut dan ketidakyakinan. Karena rakyatnya sedang bergelut dalam lumpur-hidup yang semakin menelan. Dibalik kubangan itu sayup-sayup terdengar suara panggilan…. “aku menunggumu duhai pemimpin harapan”.

Dia adalah titisan dari kekecewaan dan keputusasaaan. Hadirnya terbayang di bawah terik panas ketika buruh bangunan memanggul batu pada bahunya yang legam. Kedatangannya dirindukan oleh buruh tani yang menyiram tanaman dari peluhnya yang berjatuhan. Kedatangannya begitu ditunggu sehingga yatim-yatim itu berlarian di tumpukan jerami untuk berkendole, rehearsal memainkan musik penyambutan.

Tanah itu merindukan pemimpin yang berjanji kepada sejarah untuk tidak pernah menyerah. Berselempang semangat yang tak pernah padam dan berdiri diatas sumpah janji seorang pejuang. Tanah itu merindukan pemimpin yang sedikit berbicara banyak bekerja, senang berpeluh tiada mengeluh. Pemimpin yang memegang obor terakhir untuk menyulut kembali setiap sumbu yang telah padam oleh terpaan angin malam, tuk hilangkan gelap dan terbitkan terang. Menjemput matahari setiap pagi tuk habiskan perjalanan waktu dengan berjuang.

Sayup-sayup terdengar dalam perbincangan, seorang pemuda yang malu-malu bergumam. Akankah aku yang dinantikan? Gentar hatinya, dalam buaian semangat yang membuncah. Bisakan aku menjadi yang diharapkan? Sangsi dirinya atas kuasa pribadi dalam keyakinan bahwa dirinya bukanlah pahlawan kesiangan yang bergerak sendirian. Bisakah kita maju tanpa modal uang? Berputar pikirannya untuk memilih jalan kebenaran, untuk bergerak tidak dengan kuasa materi namun dengan kuasa hati. Sanggupkah diri ini tuk lalui tantangan ini? Takzim dirinya bahwa tidak ada satupun kuasa tanpa kuasa Allah dibaliknya. Bismillah, Allahu akbar-Allahu akbar …. mantab hatinya memilih berjuang tuk jadi pemenang dari pada berbalik menjadi pecundang.

Jika kita percaya bahwa setiap bahwa setiap kejadian telah tercatat dalam buku Tuhan. Jika kita percaya bahwa tidak ada satu pun takdir yang tidak  dapat kita penuhi. Jika kita percaya bahwa Allah tidak akan memberikan beban melainkan kita mampu mengatasinya. Jika kita percaya bahwa pemimpin kini bukan semata-mata tentang hari ini, melainkan tentang anak cucu dan generasi masa depan. Jika kita percaya bahwa seorang pemimpin akan dipilih atas dasar harapan bukan atas dasar ketakutan dan ancaman. Maka kinilah saatnya, ketika pemuda itu telah mengikrarkan tekadnya.

Jangkar diangkat, biduk disayuh, perahu pun telah melaju didayung, dan narasi tentang perjuangan mulai digoreskan. Meski sayup-sayup terdengar dibelakang orang-orang berterik sinis “jembatan itu terlalu jauh, sedang engkau begitu lemah”. Dia diam tiada bergeming berdiri tegak di buritan memegang kemudi kendali. Nanar matanya lurus menghadap tujuan, tampak dalam pantulan cahaya matanya kemilau keikhlasan. Tampak senyum tersungging di bibirnya dan di dalam hatinya dia bernyanyi lagu kemenangan.

Note:
Geroh :
mengarahkan atau memaksa (hewan) untuk berjalan ke arah yang diinginkan.
Kendole:
alat musik tiup sederhana dibuat dari batang padi

Wallahu a’lam—

Ditulis untuk menyemangati teman-teman bermain saya di tanah tastura yang menangisi nasib tanah kelahirannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: