Pemuda Pembawa Korek Api

Oleh: M Roil Bilad

Masih terngiang dengan sangat jelas sebuah percakapan antara seorang pemuda dengan salah seorang bapak-bapak di kampung itu. Bapak ini semestinya sih orang yang terdidik karena dia berprofesi sebagai pegawai negeri. “Embe taokm kuliah to jawe? Singkat dia bertanya. “Lek Bandung pak, ITB”, Singkat pula pemuda itu menjawab. “La, kasugihm aran kamu, bani bayah petangdase jute tame ITB”, dia melanjutkan. Kemudian percakapan itu berlanjut dengan penjelasan panjang dari pemuda itu bahwa sesungguhnya jalur resmi itu tidak semahal itu, bahkan dia bisa masuk dengan gratis.

Teringat juga peristiwa beberapa tahun sebelumnya ketika dengan mantab sebuah keluarga sederhana mengirim anaknya untuk belajar ke pesantren di jawa. Gunjingan luar biasa dengan berbagai kalimat menyakitkan terus-menerus diterima oleh mereka. “Sombong jeleng”, “Tinggang lalok kemelekn”, dan ungkapan bernada sinis lainnya seperti tombak, terus-menerus menikam hati.

Satu atau dua tahun yang lalu ketika seorang mahasiswa singgah di mushalla untuk sholat di perjalanannya pulang kampung, masih juga menerima pertanyaan yang lucu. “Embe laikm meranto kamu tatik?”.  “To Malaysia pak”, Ape gawekm to tatik, lek bangunan ape sawit?”. “Endek papuk, tiang to Malaysia lalo sekolah”. “Oooo kembekn ka jaok laim kuliah, marak endekn arak universitas te lombok bae, nyedak-edak kepeng doang”. Itu adalah beberapa kutipan dialog yang sering didengarkan dari sekian banyak dialog lainnya yang harus dihadapi oleh jundi-jundi sasak yang berjuang mencari cahaya dari gelapnya matahari di gumi sasak.

Anak-anak sasak sejatinya dilahirkan sebagai insan luar biasa yang hidupnya sangat berbahagia. Di sekolah mereka diajarkan untuk menggantung cita-cita setinggi langit: Menjadi dokter, pilot, insinyur, diplomat, arsitek, dan banyak lagi profesi-profesi profesional nan mulia lainnya. Dalam permainan sehari-hari anak-anak memainkan permainan super kreatif. Bagi yang ingin menjadi dokter mereka membuat stethoscope dari bambu. Bagi yang ingin jadi insinyur anak-anak mengukir empol puntik dan dibentuk seperti mobil lengkap dengan rodanya sekalin. Sebagian bermain dengan ban bekas sambil ber dren-dren menyuarakan suara mobil yang sebenarnya. Bagi yang ingin jadi tentara, anak-anak bermain ter-teran, atau membuat sendiri peledok dari dahan bambu untuk menghasilkan suara “dar-dar”, seperti suara senapan yang dilihatnya di film-film televisi. Calon insinyur sipil dan arsitek juga tidak kalah hebatnya. Mereka bisa membangun rumah mini dengan kayu-kayu kecil dari dahan kangkung laut, lengkap dengan atap, dinding dan kamar-kamarnya sekalian. Bagi calon ahli telekomunikasi, mereka membuat sambungan telepon menggunakan potongan kaleng dan benang kasur. Anak-anak itu seolah-olah dipersiapkan untuk kelak mengenggam dunia. Meletakkan dunia diatas telapak tangan mereka.

Anak-anak sasak sayang sekali, harus menerima untuk tumbuh dilingkungan yang menyedihkan. Ketika beranjak remaja dan mampu menganalisa sendiri fakta-fakta yang ada, mimpi-mimpi mereka mulai memudar dan terkisis sedikit-demi sedikit dan pada akhirnya hilang ditelan waktu. Bagaimana tidak, ketika harus mempersiapkan ujian akhir nasional dengan sangat berwibawa guru dan kepala sekolahnya memberikan nasihat tentang urgensi dan importansi menuntut ilmu dan keikhlasan dalam belajar. Namun ketika ujian tiba, guru-guru itu menjilat ludah mereka sendiri memberikan bocoran jawaban, meminta si pintar memberi tahu sibodoh agar semua siswa lulus dan nama sekolah menjadi baik. Hati kritis si kecil itu kemudian dengan cerdas berbicara, apa gunanya belajar sepanjang tahun jika akhirnya akan seperti ini. Belajar yang dilakukan selama ini hanya pura-pura saja. Bahkan orang yang mengajarinya menunjukkan cara menghianati sumpah sendiri.

Ketika tumbuh dewasa, disekelilingnya dilihatnya para sarjana momot meco memeluk lutut, antri menunggu bukaan tes pegawai negeri. Padahal formasi yang dibuka cuman satu yang antri hingga ribuan jumlahnya. Ketika gelar sarjana itu berubah menjadi fitnah maka tak heran banyak yg mencibir dan merendahkan. Ketinggian itu kemudian mengerdil dan menjadi hina, hingga yang sedang tumbuh takut untuk menjadi lebih tinggi. Sementara tampak jelas dimata pegawai negeri sipil itu bermetamorfosis menjadi pegawai negeri santai yang ongkang-ongkang kaki menunggu tanggal muda untuk menerima gaji.  Maka jangan heran kalau pemuda-pemudi sasak lebih memilih jadi TKI di Malaysia dan arab Saudi dibandingkan menjadi mahasiswa/i di perguruan tinggi Merealah potret pahlawan sasak yang sesungguhnya.

Sungguh malang nasib orang sasak. Sarjana lulusan perguruan tinggi hanya jadi beban ekonomi sementara para TKI-nya didzolimi disana sini.  Sementara itu, orang-orang dewasanya hanya sinis, menghancurkan semangat, membunuh karakter, dan justru mematikan lilin terakhir yang akan menyelamatkan semuanya lilin harap. Padahal disekolah-sekolah itu diajarkan dengan bahasa sangat keren. If there is a hope, there is a way.

Duh malangnya si sasak, karena kebodohannya dia memilih siboNgoh sebagai pemimpinnya. Hingga saat ini, kesinisan itu semakin eksis, “lihatlah itu bupati kita, tidak lulus SMA saja bisa jadi bupati, jadi ngapain sekolah tinggi-tinggi!!!”. Sedih sekali, di tanah itu anak-anak sudah mulai berhenti berharap. Padahal itu adalah tameng terakhir untuk maju dan membuka tabir kejayaan dan martabat dikemudian hari. Ketika di tanah lainnya matahari bersinar kian cerah di siang hari, di gumi sasak lilin terakhirpun telah dipadamkan dimalam yang gelap gulita. Lalu siapakah pemuda pembawa korek api itu? Untuk menyalakan kembali lilin harapan yang kini telah padam.

Wallahu A’lam

Rahayu Bangse Sasak

Sumber: Klik disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: