Saat Inilah Akhir Itu Akan Dimulai

Perih rasanya hati melihat rentetan peristiwa yg begitu rapuh menyusuri lorong waktu di tanah kelahiranku. Peristiwa kelam dengan stagnansi infrastruktur dan budaya seolah terpaku, terkunci dalam genggaman feodalisme yg menciutkan nyali.

Sungguh mengherankan, diantara dentuman bom syahid yang meletupkan asa perjuangan kemerdekaan palestina dan spirit yang berkobar dalam jargon “Yes We Can” para Obamania merebut tahta kekuasaan, masyarakat tanah itu masih meco memeluk lutut sambil menyeruput kopi dan hanya bisa mengeluh.
Sudah sekian lama kita melihat bahwa pemegang kekuasaan menggunakannya secara tidak arif dan tidak adil. Sudah menjadi kebenaran umum dan rahasia bersama bahwa feodalisme itu begitu kentara, bahwa nepotisme itu adalah lubang hitang yang menghisap asa dan semangat untuk terus maju.

Ditanah itu suaramu didengar setelah mereka bertanya terlebih dahulu “Sae amaqm, Sae inaqm?”. Tapi entah mengapa semua tetap hanya diam, meskipun ada yang berbicara hanya dari belakang. Tirani itu telah berhasil mencetak kepengecutan pada diri setiap masyarakat, tua maupun muda. Jika keberanian saja tidak ada, jangan pernah berharap akan perbaikan, karena harapan itu dimulai dari keberanian untuk berharap.

Di tanah itu ketika ruh keberanian menghinggapi satu dua orang maka seluruh yang lainnya mencibirnya dengan label pemimpi, gila, atau hanya menjadi bahan tertawaan dan caci maki semata. Fakta, peristiwa, dan sejarah telah secara begitu miris mencuci pandangan nurani dengan vonis sinis yang begitu anarkis sehingga cermin hati tertutupi dan logika menjadi mati. Kekuasaan kini dipandang sebagai barang dagangan yang diperjual beli bukan mandat yang diberi. Dalam logika ini yang ada hanya money politik bukan honey politik, membeli kuasa, bukan menerima kuasa. Itulah rasionalitas, itulah yang dijadikan sebagai premis dasar alam bernalar, berikrar dan berargumentasi.

Dalam logika yang terbalik, maka sesungguhnya yang rasional itu adalah yang irrasional. Yang waras itu adalah yang gila, dan hinaan itu sejatinya adalah pujian. Sudah sekian lama aku menunggu sosok berani yang berfikir dengan kerangka terbalik dalam tatanan pemikiran dari masyarakat yang sakit jiwa. Sudah sekian lama aku merindukan sosok yang berani, berkata dengan jujur meski dikomentari sebagai perkataan uzur. Sudah sekian lama aku menunggu sosok yang berikrar untuk maju berperang menumbangkan kedzoliman dengan cara yang adil. Sudah sekian lama aku menunggu dan menunggu saat dimana ketika seseorang bertanya kepadaku tentang kapan semua ini akan berakhir, aku bisa menjawabnya dengan berkata “saat inilah akhir itu akan dimulai”. Saat dimana mungkin itu bukanlah suatu titik akhir namun tercatat sebagai awal untuk sebuah perjuangan panjang.

Biarlah waktu yang berbicara. Ketika itu, dalam salah suatu labirin dari lipatan waktu, akan ada yang bercerita bahwa ada diantara pendahulu mereka yang berani memilih dan perjuangkan kebenaran ketika yang lainnya hanya duduk meco dan putus harap.

Wallahu A’lam

Sumber: Klik disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: