Sebuah Pengantar

Sebelum penulis mulai melanjutkan serial ini, terlebih dahulu penulis ingin membuat klarifikasi mengenai motivasi membuat serial tulisan ini. Jika melihat dari judulnya, tulisan ini terkesan provokatif. Padahal sebenarnya tulisan ini ditujukan sebagai rasa peduli dan perasaan hormat penulis kepada Gubernur Kepala Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat, TGH Zainul Majdi MA. Yang lebih populer disebut sebagai tuan guru bajang (TGB), yang juga merupakan cucu alm. almagfurullah TGH Zainudin Abdul Majid (Maulana Syeikh), pendiri dan yang membesarkan yayasan Nahdatul Wathan (NW).Keputusannya untuk maju sebagai pemimpin NTB setahun yang lalu menurut penulis merupakan keputusan yang beresiko besar. Selain menyandang reputasi sebagai penerus kepemimpinan NW, bergelar tuan guru seagai representasi tingginya ilmu agama yang dimilikinya, beliau adalah sosok muda yang belum memiliki pengalaman birokratis memimpin lembaga pemerintah. Meskipun pernah berpengalaman menjadi anggota DPR-RI. Kiprahnya sebagai pemegang rekor gubernur termuda di Indonesia di provinsi dengan IPM diantara yang terrendah di indonesia tentu sja menjadi sorotan. Dalam bahasa ringkas, beliau adalah ulama yang umara, ulama yang memiliki kemapanan pemahaman agama yang kini diberi amanah untuk menjadi pemimpin masyarakat.

Konsekuensi dari status tersebut, dalam memegang tampuk kepemimpinan di NTBsangat besar. TGB tidak hanya maju atas nama pribadinya, namun merepresentasikan kalangan ulama, NW dan tentu saja nama besar kakeknya Maulana Syeikh serta tentu saja membawa nama islam. Dalam proses pemilihannya sebagai kepala daerah, beliau sudah mampu memberi warna lain, membuktikan bahwa visi, misi, program yang jelas dan terukur dan itikad baik, sebenarnya mampu memberikan daya tarik lebih kepada pemilih dibandingkan tawaran harta benda dan uang.

Serial tulisan ini, yang terangkai dalam tema “TGB Watch” bertujuan untuk meng(k)awal, mengkritisi, meng(k)ritik, memberi saran serta gagasan dalam perjalanan beliau memimpin NTB. Semoga penulis diberi objektifitas dan kemandirian dalam menilai berdasarkan hati nurani dan motivasi yang lurus dengan mengharap keridhaan Allah.

4 Comments

  1. irsan said,

    January 31, 2011 at 5:09 am

    good,spt inilah sharusx,mgkawal program2 pmerintah dg mbrikan,kritik,saran,masuka, n solusi,shingga goal dr program bs trwujud. bukan sbalikx ,hx nunut sj,or kritik mbabi buta,tnpa sran,msukan,apa lg solusi. Niat yg ikhlas,obyektif akan mnjdi motivasi trsndri dr yg dbrikan

  2. Jamal said,

    February 7, 2012 at 10:53 am

    Pak Roil,

    Saya mendukung tulisan anda dalam mengkritik secara membangun kepemimpinan TGB. kritikan dan mungkin kecaman anda sangat berguna utk introspeksi. Manusia harus selalu diingatkan jika khilaf, salah atau keliru. Selamat atas Phd anda.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: