Tiga Penyakit Kronis Bangse Sasak

Oleh: M Roil Bilad

Sebelum lebih jauh menulis, definisi bangse sasak yang dimaksud oleh penulis dalam tulisan ini adalah mayoritas bangsa sasak. Berbicara tentang penyakit moral bangsa sasak, tentu saja sangat banyak ketika dideskripsikan secara detail. Pada kesempatan ini akan dianalisis mengenai tiga penyakit kronis utama yang menurut penulis sangat berbahaya; Pegawai negeri (PN) sebagai pilihan profesi utama, menjadikan harta semata-mata sebagai bukti nyata kesuksesan, dan Kopiah putih sebagai standard ke salehan.

Pegawai Negeri Sebagai Pilihan Profesi Primadona

Entah kenapa bangse sasak selalu melihat bahwa pegawai negeri merupakan pekerjaan yang paling wah. Profesi pegawai negeri merubah panggilan dari tuaq, atau amaq menjadi pak atau bapak. Pegawai negeri dianggap memiliki jaminan hidup dan kemapanan. Seorang calon mertua akan sangat berbangga jika menantunya adalah seorang PN. Seorang amaq-amaq rela banting tulang peras keringat dan tenaga bekerja demi menguliahkan anaknya dengan secercah harapan merubah panggilan untuk nakanya, bukan lagi amaq melainkan bapak. Bahkan tidak sedikit yang rela memberikan dana sogokan puluhan juta dengan menjual bangket atau kebun warisan leluhur agar anaknya mendapatkan profesi primadona tersebut.

Padahal sangat ironis jika kita melihat realita nyata kebanyak PN. Karena expektasi masyarakat terhadap PNS cukup tinggi, ya wajarlah harus punya motor, bahkan mungkin mobil, HP canggih, dan tentu saja rumah yang diatas rata-rata. Hal ini menjadi suatu beban moral bagi seorang bapak. Bahkan mungkin juga ada keinginan dari mereka sendiri untuk sekedar show up sehingga banyak diantara mereka yang mengambil dan pada akhirnya terlilit hutang bank. Jika dihitung-hitung, karena tingkat harga dan laju inflasi yang sangat tinggi, sebenarnya gaji PNS itu terhitung hanya cukup untuk hidup normal saja. Bahkan pengalaman dari orang tua penulis yang seorang guru, gaji PNS tidak akan pernah cukup untuk membiayai kuliah anaknya di luar daerah. Untuk bisa menyekolahkan seorang anak saja perlu setidaknya 500ribu sampai satu juta rupiah, dan itu sudah 50% dari gaji rata-rata PNS (tahun 2000). Apalagi kalau menguliahkan lebih dari satu orang anak, mau dapat tambahan uang dari mana?

Walaupun begitu tetap saja PNS menjadi primadona. Kalau dilihat kasat mata, tanpa ada maksud berprasangka, menjadi PNS jauh lebih ringan pekerjaannya di bandingkan dengan pegawai swasta. Lihat saja di kantor-kantor pemerintah, pegawai dengan seragam coklat muda datang ontime demi apel dan absensi pagi, kemudian baca koran sambil ngopi, dilanjutkan dengan bergosip ria dan nonton televisi, menunggu bel pulang berbunyi. PNS tidak perlu repot bekerja karena dia dengan mudah bisa menyuruh pegawai kontrak atau pegawai honorer. Ini adalah fakta yang banyak ditemukan di kantor-kantor pemerintah. Selain itu tidak tegasnya tuntutan berprestasi, dan tentu saja salah satu keuntungan menjadi PN adalah karena sangat sulit untuk dipecat, perlu tanda tangan pejabat sekelas menteri. Jadi bisa kerja seenaknya saja.

PNS dijadikan sumber pendapatan rutin dan sementara sebgaian besar waktu di manfaatkan untuk mencari pendapatan lain. Malah tidak sedikit oknum yang memanfaatkan jabatan untuk mendapatkan uang dengan cara yang haram. Jika memang kebanyakan bangse sasak berfikiran sempit seperti ini, maka wajarlah PNS merupakan pilihan primadona. Tidak heran mengapa ribuan orang antri mendaftar PNS untuk merebutkan hanya beberapa kursi saja. Rela sikut-sana sikut sini, tipu sana tipu sini, sogok sana sogok sini. Menyedihkan!

Harta adalah bukti nyata kesuksesan

Papuq baloq kita bangsa sasak sudah terbiasa hidup miskin, terbukti tabah perkasa melampaui masa-masa dimana mereka hanya bisa bertahan hidup dengan apa yang ada. Dari bulgur1 sampai tunggak puntiq dan empol nyiur, sampai makanan super exsotik gulai ares dari batang pisang. Papuk baloq kita lebih memilih hidup seadanya daripada menggadaikan prinsip dan harga dirinya.

Namun demikian, seiring dengan waktu warisan idealisme itu kini mulai pupus. Pengaruh hedonisme telah memporak-porandakan petuah-petuah mulia mereka. Demi harta banyak yang menjual wibawa, tidak sedikit yang menipu saudara, dan ajaran agama diletakkan entah di nomor berapa. Yang sangat memedihkan adalah ketika penyakit ini kini telah mencengkram generasi muda. Seorang anak SMA memboikot orang tuanya tidak mau sekolah tanpa dibelikan sepeda motor, mereka tidak nyenyak tidurnya tanpa handphone berkamera, dengan wallpaper Luna Maya untuk cuci mata.

Desakan untuk punya harta dan kasih sayang orang tua ini tidak hanya terjadi pada keluarga-keluarga kaya saja. Seorang sasak biasa rela meninggalkan keluarga demi harapan untuk terlihat sama. Bekerja dinegara tetangga dengan modal hutang lintah darat yang snagat menyiksa. Ketika ditanya mengapa, “Aden sak pade ruen anakq kance anaq-anaq dengan sak lain” kata mereka. Padahal pendidikan anaknya justru menjadi terbengkalai dan malah justru akan merusak masa depan bersama. Aduhai betapa memilunya, ketika penyakit kronis ini kian mendera bagaikan tumor ganas stadium tiga yang meregang nyawa. Tubuh yang telah diperkokoh oleh papuk baloq kita dengan tetesan keringat, darah dan air mata kini termakan oleh penyakit kronis gila harta.

Kopiah putih adalah standard kesalehan

Bangse sasak mungkin satu-satunya bangsa di dunia yang memberikan penghormatan terbesar bagi yang telah berhaji. Dengan menyandang status haji, tiba-tiba panggilan amaq berubah menjadi Bapak, papuk menjadi papuk tuan, dan baloq menjadi baloq tuan. Penampilan sehari-haripun berubah dari yang hanya kepala saja, kini berbalut sorban dan kopiah putih yang selalu melekat di pundak dan kepala. Dari yang biasa duduk di shaff jamaah belakang menjadi terdepan di setiap sholat jum’at lengkap dengan jubah arab dan tasbih panjang yang melingkar ditangan.

Wajar memang bagi kita bangse sasak, haruslah menjadi luar biasa kita yang mayoritas miskin untuk bisa menyandang status haji. Tidak hanya kematengan agama, namun juga dituntut pengorbanan harta. Biaya perjalanan saja tidak kurang dari 35 juta, belum lagi biaya selametan, besentulak dan ziarah yang biasanya berlangsung tidak kurang dari 3-6 bulan sebelum keberangkatan, selama menunaikan ibadah, dan setelah haji. Hanya orang-orang dengan daya juang dan semangat baja yang dapat mencapainya.

Namun demikian tetap saja penulis beranggapan ini sebagai salah satu penyakit kronis. Ketika penghormatan tinggi dan harapan besar dari masyarakat ini menjadikan seolah-olah haji menjadi tuntutan sosial. Ketika seseorang sudah dianggap kaya atau sukses, mulailah berkembang desas desus, gosip maupun fitnah jika mereka tidak segera berhaji. Karena tuntutan sosial tersebut, banyak diantara bangse sasak yang memprioritaskan haji daripada pendidikan keluarga. Rela menjual warisan harta dari orang tua demi menunaikan asa untuk berhaji di jazirah arabia. Saking banyak peminatnya sampai harus bayar inden (bayar dimuka) dari jauh-jauh tahun, 4-5 tahun sebelum masa keberangkatan. Tidak sedikit calon jemaah haji yang mengesampingkan pendidikan keluarga, menjual aset semata demi meraih tahta tertinggi agama sebagai rukun islam kelima.

Rupanya penyakit wahn itu kini telah mengakar dalam diri bangse sasak. Tanda-tanda bahwa kecintaan terhadap dunia dan lupa akhirat itu kini telah terlihat sangat jelas terlihat di depan mata. Penyakit ini akan tetap menggejala, kronis memakan habis idealisme papuk baloq kita tanpa kita sendiri bangsa sasak yang mengobatinya. Hanya kita sendiri lah dokternya, karena Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum tanpa dia merubahnya sendiri. Mari kita berbenah diri, berkarya dab memberikan yang terbaik untuk keselamatan bersama di dunia dan akhirat. Rahayu bangse sasak, jaya didunia mulia di akhirat!!!

Walahu A’lam

Sumber: Klik disini

2 Comments

  1. papotz-jakarta said,

    January 18, 2011 at 8:55 pm

    assalamualaikum wr.wb
    sungguh bangga rasanya menjadi putra NTB khususnya lombok,setelah membaca blog ini sedikit sungguh miris hati saya,3 hal yg dibicarakan di atas sy benarkan soalnya saya hijrah dari lombok ke jakarta karena hal tersebut meskipun tidak secara langsung,,pengen cerita banyak soal pengalaman diluar yang saya dapat tapi alangkah baiknya saya bertemu langsung dengan pemilik blog ini untuk sekedar berbagi pengalaman suatu saat…salam kenal&bangga dari papotz di ciputat tangerang selatan

    • M Roil BILAD said,

      January 19, 2011 at 10:49 am

      Iya ditunggu sharingnyaūüôā
      Bisa contak saya via email juga kok.
      roilbilad130(at)gmail(dt)com

      salam hangat dan salam kenal.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: