Biogas-Listrik: Teknologi Tepat Guna untuk Implementasi Program Desa Mandiri Energi di Nusa Tenggara Barat

Desa Mandiri Energi (DME)

Dari lebih kurang 70 ribu desa di Indonesia, 45% diantaranya merupakan desa tertinggal dan terpencil dan hingga saat ini, sekitar 6.200 desa belum mendapatkan pasokan listrik. Krisis ekonomi dan krisis energi nasional memicu pemerintah untuk mencanagkan program kemandirian energi nasional dengan memfokuskan pada pemanfaatan energi terbarukan.

Untuk itu, pemerintah merintis program desa mandiri energi listrik dengan potensi sumber daya lokal, terutama sumber energi terbarukan yang ditargetkan pemenuhannya sampai 2015 nanti, dan akan menelan dana sampai Rp 15 triliun.

Program Desa Mandiri Energi, merupakan salah satu program pemerintah sebagai upaya pengembangan desa melalui pemenuhan kebutuhan energi dengan intervensi dan investasi teknologi untuk memproduksi energi dari sumber daya lokal yang dapat diperbaharui.

Selanjutnya energi tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat setempat dalam memenuhi kebutuhan energinya, baik untuk penerangan, memasak maupun untuk kegiatan ekonomi produktif lainnya. Dengan demikian, diharapkan desa/wilayah tersebut secara bertahap akan lebih terbuka dan tercipta lapangan kerja yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sumber energi terbarukan yang dapat dikembangkan antara lain:  bahan bakar nabat (bioethanol, biodiesel), geothermal, panel surya, angin, mikrohidro, dan biogas. Untuk dapat dijadikan DME, suatu desa atau wilayah harus memenuhi kriteria terpencil, belum mendapatkan listrik, dan memiliki potensi sumber energi terbarukan yang dapat dikembangkan. Program DME meliputi: penyediaan (pembangkit dan distribusi) energi lokal terbarukan yang terjangkau dan berkelanjutan; pemberdayaan masyarakatdalam pengoperasian, pemeliharaan dan distribusi, serta pemberdayaan masyarakat untuk pemanfaatan energi dalam rangka peningkatan produktifitas dan kesempatan kerja. Dengan demikian diharapkan terwujudnya peningkatan pemenuhan kebutuhan energi dari sumber daya lokal terbarukan, penurunan penggunaan bahan bakar tidak terbarukan, dan peningkatan kegiatan ekonomi melalui pemanfaatan energi tersebut.

Program ini secara resmi diluncurkan pada tanggal 14 Pebruari 2007 oleh Presiden yang sekaligus juga mengumumkan keterlibatan tujuh departemen untuk berperan dalam kegiatan-kegiatan program yang terkait dengan kewenangannya. Ketujuh departemen tersebut adalah Departemen Energi dan Sumberdaya Alam, Departemen Pertanian, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Departemen Dalam Negeri, Kementrian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementrian Negara BUMN, dan Departemen Kelautan dan Perikanan.

Sepanjang tahun 2007, program ini dilaksanakan di 200 desa, sedangkan pada tahun 2006, kegiatan yang sama dilaksanakan di 100 desa (menggunakan bio-fuel), dan 40 desa (menggunakan non bio-energy) sehingga total mencapai 120 desa di 81 kabupaten dan pada tahun 2009  ditargetkan 2.000 desa di Indonesia diharapkan mencapai swasembada energi. Hingga saat ini sudah ada 165 Desa Mandiri Energi.

Desa Mandiri Energi di NTB dan Program Unggulan Bumi Sejuta Sapi

Sebagai tindak lanjut program DME pemerintah pusat, pemerintah provinsi NTB telah merealisasikan program tersebut melalui penerapan teknologi mikrohidro. Hal ini dilakukan melalui pemanfaatan ketersediaan air terjun di tujuh lokasi di desa setempat. Salah satunya, pembangkit listrik mikro hidro (PLMH) Teras Genit di Kabupaten Lombok Barat yang mampu menghasilkan listrik sebesar 30 kilowatthour (KWH). Selain pemanfaatan air terjun, penelitian potensi panas bumi di Sembalun Lombok Timur juga telah selesai dilakukan Badan Geologi yang mendapati 65 megawatt. Selain itu juga, vdikembangkan energi dari panas bumi di Huu Kabupaten Dompu. Bahkan energi arus bawah laut pun telah dibangun di Lombok Timur yang dapat menghasilkan listrik.

Pada bulan desember 2008, pemerintah provinsi NTB mencanangkan program unggulan Bumi Sejuta Sapi, program ini bertujuan untuk memaksimalkan potensi NTB untuk pengembangansapi. Saat ini NTB memiliki populasi sapi sekitar 500.000 ekor. Dalam tiga sampai empat  tahun mendatang, dicanangkan bisa mencapai satu juta ekor dan diharapkan mampu memenuihi kebutuhan nasional menuju swasembada daging nasional.

Program Bumi Sejuta sapi sangat tepat untuk bersinergi dengan program desa mandiri energi.  Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan kotoran ternak sebagai bahan baku produksi biogas  sebagai tindak lanjut program pemerintah provinsi dalam meningkatkan daya dukung energi (kelistrikan) bersumber dari renewable energy (energi baru terbarukan) selain angin, matahari dan panas bumi. Jika seluruh kotoran ternak yang ada di NTB dimanfaatkan untuk menghasilakn biogas maka potensi energy dalam bentuk listrik sebesar 480 mega watt per hari yang dapat menutup seluruh defisit kebutuhan listrik NTB.

sumber: Klik disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: