MENUJU SWASEMBADA BERAS ORGANIK DI PULAU LOMBOK

Salah satu dari sub proyek KS untuk pertanian terpadu adalah pertanian padi organik. Ketika laporan kegiatan tersebut ditulis, padi yang di uji tanamkan pada areal 30 are belum di panen sehingga produktifitas yang diperoleh belum bisa di laporkan. Berdasarkan laporan yang di dapatkan dari pemilik lahan tempat dilaksanakan uji coba tersebut, lahan 30 are tersebut menghasilkan panen padi sebanyak 1,9 ton, dengan kata lain produktifitas lahan mencapai 6.5 ton per hektar. Hasil yang diperoleh ini lebih tinggi dari rata-rata produktifitas lahan pada musim tanam pertama menggunakan sistem pertanian in-organik yaitu 4-5 ton per hektar.

Keberhasilan pertanian organik murni ini pada dasarnya memberikan cakrawala baru dan titik terang sebagai upaya untuk peningkatan kesejahteraan petani. Pertanian organik-murni ini merupakan solusi atas serentetan permasalahan pertanian padi terutama di pulau lombok seperti; tingginya harga pupuk, kelangkaan pupuk, tingginya harga pestisida dan rendahnya  harga gabah atau beras. Dengan melakukan pengomposan limbah organik rumah tangga maka kebutuhan pupuk pertanian dapat dipenuhi sekaligus memperbaiki sanitasi lingkungan. Selain itu biaya pembelian pupuk juga bisa diminimalisir digantikan dengan kompos limbah rumah tangga yang dibuat sendiri. Kebutuhan pupuk organik untuk pertanian organik murni ini relatif jauh lebih tinggi dari pupuk kimia biasa, mencapai 3-4 ton pupuk per hektar. Namun demikian potensi bahan organik yang tersedia sangat melimpah. Selama masa istirahat tanah (tidak ada penanaman) limbah organik dikomposkan dan dikumpulkan dan baru digunakan pada masa penanaman.

Yang paling menjanjikan dari pertanian organik adalah besarnya margin harga. Jika menggunakan komoditi beras sebagai pembanding, harga beras biasa di indonesia hanya berkisar empat sampai lima ribu rupiah per kilo gram. Sedangkan harga beras organik di pasar singapura saja mencapai empat puluh sampai lima puluh ribu rupiah per kiogram. Dengan demikian margin harganya sampai sepuluh kali lipat. Sebagai ilustrasi untuk memberi bayangan kuantitatif, jika petani mampu meproduksi 1 ton beras organik hanya dari 10 are lahan yang dimilikinya (dua kali masa tanam), jika menggunakan pertanian konvensional maka akan diperoleh pemasukan kotor sebesar 4,5 juta rupiah, sedangkan jika merupakan beras organik dan diekspor maka harganya menjadi 45 juta rupiah. Atau mudahnya untuk satu hektar lahan bisa memberikanpemasukan kotor mencapai 450 juta rupiah. Dengan berbagai potensi benefit dan profit tersebut maka dimasa yang akan datang pertanian organik ini merupakan pilihan yang sangat tepat.

Strategi menuju pertanian organik di lombok

Penulis meyakini bahwa apa yang telah dicapai melalui proyek percontohan ini merupakan sebuah pijakan strategis bagi masa depan petani khususnya di lombok. Namun demikian tantangan terbesar justru adalah bagaimana kita bisa mentransfer ilmu dan selanjutnya disebar luaskan dan menjadi standard/tata cara pertanian secara luas. Beberapa langkah strategis berikut mungkin bisa dijadikan alternatif, baik sebagai masukan untuk pemerintah, maupun dilaksanakan oleh komunitas sasak sendiri.

1. Meningkatkan jumlah titik percontohan beserta pendampingan petani

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi terutama dalam memperkenalkan teknologi kepada masyarakat dengan pendidikan rendah adalah sulitnya merubah paradigma dan keyakinan kokohnya pada tratisi teknologi (tradisional) yang sudah dijalankan dan dipahaminya bertahun-tahun. Terlebih lagi akibat banyaknya salah terima informasi yang selama ini dari sumber-sumber yang kredibilitasnya rendah. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk menghempaskan ke kolotan dan kejumudan tersebut adalah melalui bukti-bukti nyata. Ini tidak bisa dibuktikan hanya sekali namun berulang-ulang. Apalagi didorong juga oleh pemicu efisiensi dan efektifitas yang meningkat nyata dari pertanian organik kontra pertanian konvensional.

2. Membangun kelompok pengembangan petani organik dan koperasi petani organik

Strategi efektif untuk pemasyarakatan sistempertanian organik adalah melalui pembentukan  kelompok petani organik yang diorganisasi dalam bentuk koperasi. Untuk sementara market organik bisa membidik pasar lokal seperti; rumah sakit, rumah makan, maupun hotel. Jika produksi sudah besar dan memenuhi kuota, maka beras organik bisa di eksport ke pasar luar negeri sehingga memberikan margin yang sangat signifikan.

Sumber: Klik disni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: