Protokol Kyoto dan Potensi Ekonomi yang Menyertainya

Peningkatan Temperatur Bumi (Pemanasan Global)

Pemanasan global merupakan isu yang sangat panas di tahun-tahun terakhir ini dan kemungkinan besar untuk beberapa decade yang akan datang.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanasan global yang terjadi saat ini >90% merupakan dampak dari aktifitas manusia. Dari tahun 1850-2000 konsentrasi karbon dioksida di atmosfer meningkat dari 280 menjadi 430ppm menyebabkan kenaikan temperatur lebih kurang 0,5-0,8 ◦C, dan jika tidak dilakukan tindakan pembatasan diperkirakan konsentrasinya meningkat menjadi 550ppm yang berakibat pemanasan temperature bumi lebih kurang 2◦C pada tahun 2035.

Gambar 1: Data profil temeratur rata-rata permukaan bumi dari tahun 1000 sampai tahun 2000.

Dari Gambar 1 dapat dilihat bahwa kenaikan temperature bumi proporsional terhadap peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (methan dan karbon dioksida). Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer secara signifikan mulai awal  dan pertengahan abad 18 yaitu ketika masa keemasan dari revolusi industri dimulai.

Efek Rumah Kaca

Istilah efek rumah kaca, pertama kali diusulkan oleh Joseph Fourier pada 1824, yaitu proses pemanasan permukaan suatu benda langit (terutama planet atau satelit) yang disebabkan oleh komposisi dan keadaan atmosfernya. Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas tertentu, selanjutnya disebut gas rumah kaca. Kenaikan konsentrasi gas rumah kaca tersebut terjadi akibat akumulasi di atmosfer karena melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya. Energi yang masuk ke bumi mengalami : 25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer 25% diserap awan 45% diadsorpsi permukaan bumi 5% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi (lihat Gambar 2). Energi yang diadsoprsi dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi infra merah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar infra merah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas rumah kaca lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Dalam keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda.

Gambar 2: Mekanisme pemanasan (Rumah Kaca)

Dampak pemanasan global

Pemanasan global menjadi isu yang sangat strategis karena memberikan dampak yang sangat besar. Secara prinsipil pemanasan global mengakibatkan perubahan iklim terutama menyangkut perubahan temperatur, presipitasi awan/hujan, dan naiknya ketinggian air laut akibat mencairnya es di kedua kutub bumi. Hal ini akan secara tidak langsung berdampak pada kesehatan seperti kematian akbibat perubahan iklim, dan infeksi penyakit. Dalam bidang pertanian berakibat rendahnya produktifitas dan meningkatnya kebutuhan irigasi. Di bidang kehutanan akan berakibat berubahnya komposisi tanaman hutan, rentang gegrafis hutan, serta produktifitas hutan. Sumber air juga akan dipengaruhi melalui kurangnya suplai, perubahan kualitas, dan kelangkaan air. Untuk perairan laut berakibat pada erosi pantai, peningkatan biaya pemeliharaan spesies pantai, terkikisnya daratan karena abrasi. Akibat fatal lainnya yaitu hilangnya habitat dan spesies yang tdak mampu beradaptasi.

Gas Rumah Kaca

Gas rumah kaca adalah gas-gas yang ada di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca. Gas-gas tersebut sebenarnya muncul secara alami di lingkungan, tetapi dapat juga timbul akibat aktivitas manusia. Gas rumah kaca yang paling banyak adalah uap air yang mencapai atmosfer akibat penguapan air dari laut, danau dan sungai. Karbondioksida adalah gas terbanyak kedua. Ia timbul dari berbagai proses alami seperti: letusan vulkanik; pernafasan hewan dan manusia (yang menghirup oksigen dan menghembuskan karbondioksida); dan pembakaran material organik (seperti tumbuhan).

Berdasarkan guidelines IPCC 1996 yang telah direvisi, yang dikategorikan sebagai gas rumah kaca adalah CO2, metana (CH4), dinitrogen oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC, merupakan kelompok gas), perfluorokarbon (PFC, merupakan kelompok gas), dan sulfur heksafluorida (SF6). Gas-gas inilah yang juga menjadi acuan pada Protokol Kyoto (1997). Gas rumah kaca lain yang terdapat pada guidelines IPCC 2006 adalah nitrogen trifluorida (NF3), trifluorometil sulfur pentafluorida (SF5CF3), eter terhalogenasi, dan halokarbon lain. Gas-gas yang mengandung fluorida seperti HFC, PFC, SF6, SF5CF3, dan NF3 dapat dikelompokkan sebagai gas-gas terfluorinasi (fluorinated gases). Gas-gas ini diproduksi terutama sebagai pengganti zat-zat perusak ozon atau Ozone Depleting Substances (ODS), terutama klorofluorokarbon (CFC) atau freon yang banyak digunakan sebagai refrigeran dan propelan aerosol.

Ternyata usaha untuk mengganti zat-zat perusak ozon menimbulkan masalah baru, yaitu pemanasan global. Bahkan, zat-zat tersebut memiliki potensial pemanasan global (global warming potential, GWP) yang lebih besar dibandingkan dengan CO2. Sebagai contoh, SF5CF3 memiliki GWP 18.000 kali GWP CO2. NF3, senyawa yang banyak dihasilkan dari proses pembuatan semikonduktor dan pembuatan LCD ini memiliki GWP 16.800 kali GWP CO2. Namun secara keseluruhan, potensi senyawa-senyawa tersebut belum menyamai potensi yang disebabkan oleh CO2, karena emisi CO2 yang sangat besar. Namun, kontrol dini terhadap emisi senyawa-senyawa tersebut harus dilakukan agar tidak menimbulkan permasalahan yang lebih besar.

Selain gas-gas rumah kaca yang telah disepakati pada Protokol Kyoto, para ilmuwan juga menyebutkan beberapa zat yang harus diwaspadai karena ikut berperan terhadap pemanasan global. Zat-zat tersebut adalah ozon, uap air, dan aerosol. Zat-zat ini juga dapat dikategorikan sebagai gas rumah kaca. Ozon merupakan gas rumah kaca yang secara kontinyu dihasilkan dan dirusak di atmosfer melalui reaksi kimia. Di troposfer, aktivitas manusia telah meningkatkan kadar ozon melalui pelepasan gas seperti karbon monoksida, hidrokarbon, dan oksida-oksida nitrogen, yang dapat bereaksi secara kimia menghasilkan ozon.

Sumber Gas Rumah Kaca

Secara umum emisi gas rumah kaca berasal dari dua sumber utama: penggunaan lahan baru dan emisi dari pembakaran bahan baker (Lihat Gambar 2). Sejak tahun 1800, 140 Gt (Giga ton) carbon ekivalen di hasilkan akibat penggunaan lahan dan 260 Gt dihasilkan dari pembakaran bahan baker fosil (Minyak bumi, batu bara dan turunannya). Dari jumlah itu hanya 110 Gt yang berhasil diserap kembali oleh alam mellaui siklur unsur, 115 Gt diserap oleh air laut dan sisanya 180 Gt terakumulasi di atmosfer dan memicu pemanasan global.  Dari 265 Gt ekivalen gas rumah kaca tersebut, 24% bersumber untuk penyediaan listrik, 14% dari transportasi, 14% dari industri, 8 persen dari perumahan, dan 5% untuk penggunaan lainnya. Sedangkan untuk emisi penggunaan lahan, 14% dari pertanian, 18% dari pemanfaatan lahan, dan 3 persen dari limbah.

Gambar 3: Neraca masa pengeluaran dan pengambilan kembali GRK di atmosfer semenjak tahun 1800.

Gambar 4: Prosentase distribusi emisi gas rumah kaca

Proyeksi Peningkatan Temperatur Bumi

Berdasarkan data pada Gambar 3 dapat dilihat bahwa melalui proyeksi menggunakan berbagai model, diprediksikan bahwa pada tahun 2100, peningkatan temperature permukaan bumi diproyeksikan akan mencapai 1.5 sampai 6oC.

Gambar 5: Variasi  kenaikan temperature permukaan bumi dari tahun 1000-2000 dan prediksi kenaikan temperature tanpa ada upaya pembatasan gas rumah kaca.

Kalkulasi Efek yang ditimbulkan Gas Rumah Kaca

Potensi pemanasan global (PMG) merupakan satuan yang digunakan untuk mengukur dampak gas rumah kaca untuk memicu radiasi panas akibat penambahan gas tersebut di atmosfer. Biasanya digunakan satuan ekivalen ton CO2 (tCO2). Berdasarkan satua tersebut, berikut PMG untuk beberapa senyawa kimia yang memberikan dampak sangta signifikan terhadap pemanasan global.

• Karbon Dioksida (CO2) –> 1

• Metana (CH4) –> 21

• Nitrogen Oksida (N2O) –> 310

• Freon (PFC) –> 6500

• Hidroflorokarbon (HFC) –> 11700

• Belerang florida (SF6) –> 23900


Protokol Kyoto

Protokol Kyoto adalah sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), sebuah persetujuan internasional mengenai pemanasan global. Negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluaran karbon dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam perdagangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas-gas tersebut, yang telah dikaitkan dengan pemanasan global. Jika sukses diberlakukan, Protokol Kyoto diprediksi akan mengurangi rata-rata cuaca global antara 0,02°C dan 0,28°C pada tahun 2050. (sumber: Nature, Oktober 2003)

Nama resmi persetujuan ini adalah Kyoto Protocol to the United Nations Framework Convention on Climate Change (Protokol Kyoto mengenai Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim). Ia dinegosiasikan di Kyoto pada Desember 1997, dibuka untuk penanda tanganan pada 16 Maret 1998 dan ditutup pada 15 Maret 1999. Persetujuan ini mulai berlaku pada 16 Februari 2005 setelah ratifikasi resmi yang dilakukan Rusia pada 18 November 2004.

Menurut rilis pers dari Program Lingkungan PBB:

Protokol Kyoto adalah sebuah persetujuan sah di mana negara-negara perindustrian akan mengurangi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5,2% dibandingkan dengan tahun 1990 (namun yang perlu diperhatikan adalah, jika dibandingkan dengan perkiraan jumlah emisi pada tahun 2010 tanpa Protokol, target ini berarti pengurangan sebesar 29%). Tujuannya adalah untuk mengurangi rata-rata emisi dari enam gas rumah kaca – karbon dioksida, metan, nitrous oxide, sulfur heksafluorida, HFC, dan PFC – yang dihitung sebagai rata-rata selama masa lima tahun antara 2008-12. Target nasional berkisar dari pengurangan 8% untuk Uni Eropa, 7% untuk AS, 6% untuk Jepang, 0% untuk Rusia, dan penambahan yang diizinkan sebesar 8% untuk Australia dan 10% untuk Islandia.

Protokol Kyoto adalah protokol kepada Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC, yang diadopsi pada Pertemuan Bumi di Rio de Janeiro pada 1992). Semua pihak dalam UNFCCC dapat menanda tangani atau meratifikasi Protokol Kyoto, sementara pihak luar tidak diperbolehkan. Protokol Kyoto diadopsi pada sesi ketiga Konferensi Pihak Konvensi UNFCCC pada 1997 di Kyoto, Jepang. Sebagian besar ketetapan Protokol Kyoto berlaku terhadap negara-negara maju yang disenaraikan dalam Annex I dalam UNFCCC.

Pada saat pemberlakuan persetujuan pada Februari 2005, ia telah diratifikasi oleh 141 negara, yang mewakili 61% dari seluruh emisi. Negara-negara tidak perlu menanda tangani persetujuan tersebut agar dapat meratifikasinya: penanda tanganan hanyalah aksi simbolis saja. Daftar terbaru para pihak yang telah meratifikasinya ada di sini. Menurut syarat-syarat persetujuan protokol, ia mulai berlaku “pada hari ke-90 setelah tanggal saat di mana tidak kurang dari 55 Pihak Konvensi, termasuk Pihak-pihak dalam Annex I yang bertanggung jawab kepada setidaknya 55 persen dari seluruh emisi karbon dioksida pada 1990 dari Pihak-pihak dalam Annex I, telah memberikan alat ratifikasi mereka, penerimaan, persetujuan atau pemasukan.” Dari kedua syarat tersebut, bagian “55 pihak” dicapai pada 23 Mei 2002 ketika Islandia meratifikasi. Ratifikasi oleh Rusia pada 18 November 2004 memenuhi syarat “55 persen” dan menyebabkan pesetujuan itu mulai berlaku pada 16 Februari 2005.

Hingga 3 Desember 2007, 174 negara telah meratifikasi protokol tersebut, termasuk Kanada, Tiongkok, India, Jepang, Selandia Baru, Rusia dan 25 negara anggota Uni Eropa, serta Rumania dan Bulgaria. Ada dua negara yang telah menanda tangani namun belum meratifikasi protokol tersebut: Amerika Serikat (tidak berminat untuk meratifikasi), dan Kazakstan. Pada awalnya AS, Australia, Italia, Tiongkok, India dan negara-negara berkembang telah bersatu untuk melawan strategi terhadap adanya kemungkinan Protokol Kyoto II atau persetujuan lainnya yang bersifat mengekang. Namun pada awal Desember 2007 Australia akhirnya ikut seta meratifikasi protokol tersebut setelah terjadi pergantian pimpinan di negera tersebut.

Mekanisme dan Target Pencapaian?

Pasar Carbon Credit dan Mekanis me Perdagangan?


Bersambung

Sumber: Klik disini

3 Comments

  1. Luthfi said,

    February 4, 2010 at 8:16 pm

    il.. kyoto akan berakhir 2012, dan kurasa (mungkin) paman sam akan memelopori protokol baru. tp keknya si percuma saja (jadinya protokol sampah spt kyoto juga). tak ada ikatan, cuma cakap aja.. lagian, selama cina masi belum mau berpartisipasi, percuma aja negara2 “kecil” berkoar2.

  2. M Roil BILAD said,

    February 4, 2010 at 8:56 pm

    Iya itulah Fi—
    Saya maunya kita siap-siap saja.
    Ratusan milyar euro yag dikucurkan dari protokol Kyoto saja kita gak dapet apa-apa. karena indon-indon cuman berkoar-koar mau ikutan berpartisipasi. Kalah jauh sama negara-negara nepal, indihe atau bahkan negara-negara afrika lainnya.

    Padahal dengan pelihara hutan saja, kita bisa lunasin semua hutang — Ini aku mau coba belajar untuk maju dr sektor swasta saja. Mudah-mudahan saja setelah 2012 nanti akan ada lanjutannya.

  3. M.Husni Kotta said,

    January 10, 2013 at 11:43 pm

    Program Kyoto merupakan dasar kuat konvensin rangka kerja PBB untuk perubahan iklim. itu sangat baik,,,tapi kalau hanya sebatas konsep aja”teori doang’ nggak bisa diaplikasi sama aja’ bo- ong’, saya mengharap ada kerjasama negara-negara Eropa & ASEAN dan menghasilkan solusi yg bijak dan tdk memihak pada suatu negara tertentu., mudah2an program Kyoto ini lebih maju lagi di tahun 2013..thans you very much and congratulation if to seminary and aplikation this program kyoto…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: