BSS, Beli Sapi Saja

Oleh: M Roil Bilad

“Our goals can only be reached through a vehicle of a plan, in which we must fervently believe, and upon which we must vigorously act. There is no other route to success.”

Sebagai salah satu program terobosan, bumi sejuta sapi (BSS-asli) mencanangkan pengembangan peternakan sapi di NTB hingga tercapai populasi optimal sesuai dengan daya dukung wilayah (carrying capacity). Program ini dicanangkan dari tahun 2008-2013 selama masa kepemimpinan BARU (Bajang-Badrul), dengan target-target pencapaian sebagai berikut:

  1. 2008-2009: Peningkatan populasi ternak dengan target panen anak sapi (pedet) sejumlah 93.450 ekor.
  2. 2009-2010: Swasembada daging dengan indikator substitusi impor sebesar 20.000 ekor dari proyeksi impor sebesar 350.000, serta peningkatan substitusi daging.
  3. 2010-2011: Peningkatan standard mutu daging.
  4. 2011-2012: Peningkatan pendapatan petani/peternak.
  5. 2012-2013: Tercapainya target populasi sesuai dengan daya dukung wilayah.

Program ini akan dijalankan dengan lebih mengutamakan pemberdayaan sumber daya lokal sehingga memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan masyarakat pedesaan, memenuhi kebutuhan daging nasional, memenuhi permintaan bibit sapi bagi daerah-daerah lain dan memenuhi kebutuhan konsumsi daging dalam daerah sehingga dapat menjadi lokomotif penggerak sektor ekonomi lainnya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, BSS difokuskan pada 7 (tujuh) permasalahan yang utama sebagai prioritas yang harus diselesaikan, yaitu :

  1. Populasi, produksi, dan produktivitas ternak sapi belum optimal;
  2. Tata ruang padang penggembalaan belum ada sehingga pemanfaatannya belum optimal;
  3. Pemanfaatan teknologi pakan, lahan berbasis pakan, dan limbah pertanian/industri belum optimal;
  4. Penyediaan daging ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal) masih terbatas;
  5. Pengembangan SDM dan kelembagaan belum efektif dan efisien;
  6. Sarana dan prasarana untuk pengembangan peternakan sapi belum memadai;
  7. Investasi dalam bidang peternakan masih sangat terbatas.

Dalam upaya peningkatan populasi, produksi, dan produktivitas sapi ditetapkan empat kebijakan pokok, yaitu:

  1. 3S (Satu induk–Satu anak–Satu tahun): tujuan kebijakan ini untuk mengoptimalkan produktivitas induk sapi, sehingga meningkatkan jumlah kelahiran pedet;
  2. Pengendalian pengeluaran sapi bibit betina: kebijakan ini berupa pembatasan pengeluaran sapi bibit betina selama tiga tahun pertama program NTB BSS (2009-2011), yang semula sekitar 13.000 ekor menjadi 8.500 ekor per tahun. Dengan pembatasan pengeluaran sapi bibit betina selama periode tertentu maka jumlah induk pada periode berikutnya akan meningkat;
  3. Pengendalian pemotongan betina produktif: kebijakan ini berupa upaya pengurangan persentase pemotongan betina produktif terhadap jumlah pemotongan tercatat, dari 20% pada Tahun 2009 menjadi 10% pada Tahun 2013 dan 5% pada Tahun 2018. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan jumlah induk produktif;
  4. Pengendalian penyakit pedet: kebijakan ini berupa upaya pengurangan jumlah kematian pedet yang diakibatkan oleh parasit dengan memberikan obat cacing gratis untuk pedet umur 1 sampai 6 bulan. Kebijakan ini penting karena hampir 70% kematian pedet diakibatkan oleh parasit;

Sekilas berdasarkan perencanaan program, tampak bahwa program ini telah dikonsep dengan begitu menyeluruh dan cukup realistis. Namun demikian, ketika kita meninjau mengenai realisasi dari rencana tersebut akan ditemukan banyak kelucuan. Berikut program-program aksi yang dilaksanakan untuk sebagai realisasi program diatas:

Periode 2008-2009

Pemprov NTB memberikan paket bantuan 113 ekor sapi pejantan senilai Rp 847.500.000 kepada sembilan kelompok tani di Pulau Lombok dan Sumbawa. Dari dana itu, setiap kelompok tani mendapatkan Rp 15 juta-Rp 120 juta yang digunakan membeli 6-16 ekor sapi. Secara kasat mata program ini terlihat ok-ok saja, namun berbagai kelucuan akan kita temukan kalau kita menilik lebih jauh. Pertanyaannya adalah, kemanakah kelompok peternak itu akan membeli sapi? Sapi akan dibeli dari peternak lain yang juga di NTB. Jadi sebenarnya, dana tersebut hanya bergulir untuk mengganti kepemilikan sapi saja. Tidak menambah populasi “pejantan tangguh unggul dan berdaya saing” yang didatangkan dari luar, untuk meningkatkan kualitas anakan baru. Program seperti ini tidak akan memberikan dampak apapun, apalagi jika kita membandingkan dengan target pencapaian yang dicanangkan. Bagaimana populasi ternak bisa ditingkatkan dengan mempertukarkan kepemilikan sapi jantan? Jawabnya tanyakan kepada pemprov NTB, dan tidak bisa dijawab hanya dengan goyang-goyang kepala.

Periode 2009-2010

Memasuki tahun 2010, program yang akan dicanangkan sudah mulai disiapkan yaitu dengan membeli 900 ekor sapi dari Australia. Sampai saat ini, penulis masih simpang siur mengenai tujuan pembelian sapi tersebut. Ada yang mengatakan 900 ekor sapi tersebut akan dikembangbiakkan di lombok, ada juga yang mengatakan bahwa sapi-sapi tersebut akan disembelih sedemikian sehingga sapi-sapi lokal tidak perlu disembelih untuk memenuhi kebutuhan daging. Estimasi penulis, jika di perkirakan harga sapi Australia tersebut adalah masing-masing 20 juta rupiah, maka total kebutuhan dananya akan mencapai 18 milyar rupiah.

Mari kita tinjau kedua pendapat mengenai tujuaan pembelian sapi tersebut. Pada tahun 1998 program pembelian sapi dari Australia sudah dilakukan, dengan hasil GATOT alias gagal total. Petani belum terbiasa dengan pola pemeliharaan dan iklim tidak mendukung untuk budi daya sapi tersebut. Selain itu, jelas-jelas tertera dalam perencanaan BSS bahwa prioritas ditujukan untuk sumber daya lokal yang notabene seharusnya adalah jenis sapi bali. Sejak zaman baheula, sapi bali telah dikenal luas sangat berhasil dibudidayakan di NTB.

Analisa mengenai tujuan pembelian sapi untuk mensubstitusi agar sapi lokal tidak dipotong justru yang paling lucu. Ngapain pemerintah yang harus membeli sapi? Import sapi seharusnya diserahkan ke sektor swasta untuk menggerakkan roda ekonomi. Katanya mau bangun 100 ribu wirausahawan baru., bagaimana nih, kalau begini bisa jadi para pejabat sekalian rangkap jadi pengusaha. Memang pemerintah mau beralih fungsi jadi saudagar sapi?

Ketika kita melihat kembali target pencapaian untuk tahun 2009-2010, indikatornya ditandai dengan kemampuan mensubstitusi impor sejumlah 20 ribu ekor. Dengan kata lain, seharusnya populasi sapi NTB sudah meningkat sehingga mampu menambah suplai untuk kebutuhan nasional sejumlah 20 ribu ekor. Lal dimana hasil tukar-kepemilikan sapi yang diprogramkan ditahun sebelumnya? Realitanya kok malah sebaliknya, bukannya jual sapi kok malah justru beli sapi. Duhai TGB, sebagai penutup ijinkan saya mengutip sebuah kata bijak dari Stephen A. Brennan tentang bagaimana seharusnya kita memposisikan suatu rencana dalam langkah aksi kita.  “Our goals can only be reached through a vehicle of a plan, in which we must fervently believe, and upon which we must vigorously act. There is no other route to success.”

Penulis tidak pernah berhenti mencurahkan doa dan harapan, semoga program terobosan bumi sejuta sapi konsisten dijalankan sesuai rencana, bukan malah dipelesetkan menjadi BSS, beli sapi saja. Jangan sampai orang jadi menduga-duga kalau BSS hanya maenan oknum-oknum tertentu saja, terutama agar ada alasan untuk projek pengadaan yang melibatkan transaksi di bawah meja, naudzubillah. [MRB]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: