Membangun Pariwisata Lombok, Pelajaran dari Negara-negara Eropa

Jika kita berkelana berdarmawisata dinegara-negara eropa, jujur saja tidak banyak yang bisa dilihat atau dinikmati. Setidaknya begitulah yang dirasakan penulis setelah menelusiri Belgia, Belanda, Jerman dan Prancis. Tidak ada bentangan alam untaian zamrud manikam yang indah pada bentangan tanah mereka. Malah cuaca sangatlah buruk, susah sekali diprediksidan snagat tidak bersahabat.

Paket wisata terutama hanya berupa tour religi mengunjungi ritus-ritus gereja atau bangunan-bangunan bersejarah lainnya. Namun yang mengesankan adalah bagaimana yang sedikit ini dikemas begitu menarik sehingga memberikan nilai tambah yang begitu besar. Bisa dihitung dengan jari, yang menawarkan keindahan alam pegunungan atau bentangan pasir putih yang berkilauan oleh pancaran fatamorgana seperti yang banyak ditemui di negara zamrud khatulistiwa-Indonesia.

Salah satu konsep pengemasan yang sangat brilian adalah dengan membuat segmentasi pasar yang sangat baik. Menyadari bahwa tidak setiap orang yang ingin berdarma wisata adalah orang kaya multi milioner, maka paket wisata murah pun dibuat. Turis-turis ini sangat populer disebut back packer, kemana mana selalu bawa tas punggung untuk mengangkut barang-barangnya.

Strateginya adalah dengan menawarkan alternatif-alternatif pemenuhan kebutuhan wisata yang murah. Paket transportasi yang murah, tempat makan yang murah, tempat tinggal yang murah, dan tentu saja tempat mendapatkan cendera mata atau oleh-oleh unik dari daerah atau negara tersebut lagi-lagi dengan harga yang murah. Pokoknya yang murah deh. Memang kedengarannya jadi murahan, namun dibalik itu membawa banyak keberkahan. Transportasi yang murah bukan didapatkan dari pesawat berkelas atau bus-bus full AC, makanan murah juga hampir mustahil tersaji di meja makan restoran ternama, dan penginapan murah bukan ada di hotel berbintang.

Share holder dari paket wisata “murahan” seperti ini justru adalah masyarakat marjinal pengelola warung pojok, soir angkutan umum, atau hostel-hostel yang dikelola oleh usaha keluarga. Di sebagian tempat, malah banyak diantara masyarakat yang menggunakan sebagian kamar yang ada dirumahnya untuk di komersialkan sebagai hostel. Tidak diperlukan hotel-hotel berbintang, atau fasilitas megah yang menawarkan kemewahan surga dunia.

Nilai tambah ekonomi dari kegiatan pariwisata seperti ini secara langsung dirasakan oleh masyarakat setempat. Dan keindahanya adalah ketika skema ini sudah berjalan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat setempat akan menjadi bola salju, terus berkembang membesar dan memberikan manfaat yang maksimum. Mereka akan bergerak sendiri, secara kolektif dan masif terus menuju perbaikan. Potensi wisatawan kelas menengah ini semestinya jangan pernah dilepaskan begitu saja. Mari kita tangkap peluang ini.

Tentu saja hal ini mustahil terjadi pada lingkungan masyarakat yang tidak aman dan nyaman, sistem transportasi yang amburadul, atau penataan kota yang hancur. Hal ini merupakan elemen yang paling mendasar untuk menunjang terlaksananya program tersebut.

Bisakah langkah tersebut ditiru di lombok?

Saya sangat yankin justru program seperti inilah yang realistis dan relatif mudah dijalankan secara instan di lombok. Untuk menjalankannya, kita tidak harus menunggu investor arab dengan nilai investasi triliunan rupiah untuk mengembangkan infrastruktur mewah dan bandara internasional di lombok selatan. Kita tidak harus menghabiskan lahan-lahan produktif untuk ditutupi beton-beton dan jalan-jalan lebar untuk menghormati wisatawan-wisatawan pongahyang datang sebagai tuan dan menjadikan kita pembantu dirumah sendiri. Kita tidak memerlukan tenaga-tenaga profesional dari luar daerah untuk menyerbu dan menyisihkan tenaga lokal yang kurang profesional dan berpengalaman. Yang paling saya takutkan adalah adanya kedatangan secara masif tenaga kerja non-lokal dan menjadikan asyarakat setempat hanya sebagai penonton. Mari kita jadikan masyarakat sasak yang mendapatkan imbas terbesar dari gumi sasak.

Sedikit kalkulasi potensi ekonomi yang bisa didapatkan secara langsung oleh masyarakat. Kita asumsikan saja yang berkunjung 1000 orang perbulan, masing-masing berkunjung 3 hari 2 malam. Jika biaya transportasi, penginapan, dan makan dan pembelian souvenir mereka selama tinggal masing-masing 100 ribu rupiah. Maka ada potensi 400 juta rupiah per bulan yang akan diserap langsung oleh masyarakat. Ini masih kalkulasi yang sangat kasar dan menggunakan angka-angka minimum. Dengan manajemen yang baik, bukan tidak mungkin kita menyerap jauh lebih besar dengan potensi yang juga lebih besar dari jumlah diatas.

Pengembangan program pariwisata mercusuar seperti apa yang dicanangkan di lombok tengah (bagian selatan) tentu saja akan memberikan dampak pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat setempat dan masyarakat lombok pada umumnya. Namun yang patut diingat bahwa investor yang sudah kaya raya itu datang dengan tujuan hanya satu, bertambah kaya. Merekalah yang akan mendapatkan keuntungan finansial terbesar.

Hal-hal yang perlu dipersiapkan

Hal yang paling pertama dan utama yang harus dimiliki adalah kesaradan masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Masyarakat perlu dibekali pendidikan mengenai arti penting program dan bagaimana mereka dapat berpartisipasi dalam program ini termasuk kemampuan bahasa inggris sekedarnya.

Infrastrktur terutama transportasi yang mudah. Jangan sampai begitu sampai rembige atau lembar sudah di gruguti pencopet dan perampok. Selama kondisi seperti ini masih terjadi mustahil lombok bisa menjadi tujuan wisata bagi turis cekak seperti ini.

Cukup dengan mensosialisasikan ide ini kepada masyarakat, saya rasa banyak dari masyarakat lombok yang memiliki kamar lebih dari yang dibutuhkan anggota keluarganya. Kamar ini bisa dijadikan hostel untuk disewakan. Sudah terhampar sekian banyak warung-warung nasi murah. Cukup ditata dan dipoles dikit. Dinaekkan brand nya dan ditingkatkan pelayanannya. Saya yakin seluruh infrastruktur yang diperlukan telah tersedia. Namun belum di organisir dan ditata sesuai kebutuhan saja.

Marketing juga sangat penting dilakukan. Ini adalah corong untuk menginformasikan paket-paket wisata murah yang ditawarkan. Sebuah website yang informatif dan representatif saya rasa mutlak diperlukan untuk menunjang berjalanya proses. Kegiatan marketing juga bisa dilakukan melalui paket-paket kerjasama dengan pihak swasta. Misalnya dengan maskapai penerbangan, agar memberikan paket tiket murah-bahwan gratis ketika non-peak-time (meniru strategi air asia) untuk tujuan lombok. Masih banyak ide-ide marketing lain yang bisa kita gali.

Pada awalnya kita bisa mulai dari segmentasi pasar wisatawan domestik. Saya rasa tidak sedikit para karyawan-karyawan industri yang ingin melepaskan kepenatan kerjanya dialam lepas seperti lombok jika biaya yang harus dikeluarkan terjangkau. Mereka sudah melek teknologi, melek internet dan berduit. Paket wisata sederhana seperti ini akan jauh lebih menarik dibandingkan mereka melepaskan kepenatan dengan ber ajep-ajep di gemerlap lampu diskotek. Pada kenyataannya mereka sekarang banyak lari ke singapura yang notabene akan memakan biaya yang jauh lebih besar. Puluhan mungkin teman penulis yang sering bertanya-tanya mengenai lombok sebagai tujuan wisata. Bagaimana kesananya, apa yang aan dikunjungi, berapa biayanya, dan tentu saja juga menanyakan ketersediaan paket-paket wisata murah dan terjangkau. Namun minimnya informasi yang tersedia membuat mereka jadi ragu untuk mencoba.

Tidak hanya wisatawan domestik saja yang sangat potensial untuk dibidik. Wisatawan asing terutama dari negara jiran malaysia juga sanggat banyak yang berminat. Ketika penulis berkesempatan studi di Malaysia, banyak sekali yang bertanya-tanya tentang bagaimana berkunjung ke bali maupun lombok. Lagi-lagi ketika mereka mencari informasi bahkan di dunia maya, tidak ada yang mereka dapatkan. Dengan adanya masakap penerbangan internasional murah seperti air asia, para-mahasiswa juga tidak jarang membuat sendiri paket-paket wisata ke luar negeri, terutama negara-negara tetangga.

Lombok diberkahi anugerah alam yang sangat indah, keragaman budaya yang berlimpah, dan sopan santun masyarakat yang begitu ramah. Paket-paket wisata singkat 2-3 hari berupa kunjungan alam maupun pagelaran budaya bisa dikemas dengan unik, ciamik dan eksentrik untuk menarik minat wisatawan. Belum lagi berbagai keunikan-keunikan lain yang bahkan mungkin kita sendiri orang sasak tidak kita tahu semuanya.

Ketika semua infrastruktur telah ada, segmentasi pasar wisatawan berlimbah, dengan alternatif tujuan wisata yang begitu beragam, kita hanya tinggal menatanya. Sunguh jauh lebih mudah berucap dari pada bekerja. Jauh lebih mudah mengkritik daripada memberi saran. Akhir kata, penulis ingin mengutip kata-kata bijak yang sering didengar dari orang-orang Flemmish di Belgia semoga bisa memotivasi kita; “Als er een wil is, is er een manier“, dalam bahasa Inggrisnya “If there is a will, there is a way“, jika ada kemauan pasti ada jalan.(CKS-M Roil Bilad)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: