Nilai Sekaleng Tuna

Orang bijak bilang, jika kamu ingin mengetahui berapa besar karunia Allah yang engkau terima, maka lihatlah orang yang kurang beruntung dibandingkan dirimu.

Hari ini, saya menyaksikan sebuah acara televisi yang cukup menarik. Enam orang anak muda (tiga perempuan dan tiga laki-laki) yang biasa hidup berkecukupan di UK, mengikuti sebuah program untuk bekerja di negara berkembang. Tepatnya di industri atau proses produksi yang produknya dapat mereka peroleh dengan murah di supermarket-supermarket yang ada di UK.

Pada kesempatan ini mereka harus bekerja di proses pengolahan ikan tuna di sulawesi, Indonesia. Ikan tuna merupakan salah satu komoditi eksport Indonesia yang mampu diolah memenuhi standard untuk di eksport ke UK. Selama bekerja,  mereka terpaksa harus tinggal (ngekost) di perumahan penduduk. Berbagai kejutan mereka dapatkan, ada yang muntah-muntah melihat WC, geleng-geleng kepala melihat dapur dan perlengkapan ala kadarnya serta tempat tidur yang seadanya. Tentu saja jauh dan sangat berbeda sekali dengan fasilitas hidup mereka sehari-hari. Buang air di kakus, mandi di sumur dan tidur tanpa kasur terpaksa harus dijalani.

Di hari pertama kerja, mereka harus antri bersama delapan ratus pekerja lainnya di shift pagi. Memasuki pabrik mereka dipaksa memotong kuku sebagai pra-syarat untuk bisa masuk dan mencegah kontaminasi. Hari pertama di lalui dengan mengikuti proses pelatihan, mulai dari mengeluarkan isi perut, menguliti ikan tuna, sampai mempersiapkan produk akhir (menghilangkan tulang dan membersihkan lemak yang menempel di daging). Pekerjaan-pekerjaan tersebut harus dilakukan terus menerus sepanjang shift berlangsung (8 jam) dengan break selama 15 menit.  Pekerjaan harus dilakukan dengan sangat cepat (satu tuna per dua puluh detik), dengan kontrol kualitas yang sangat ketat untuk bisa memenuhi standard export.

Salah satu peserta pingsan ketika pertama kali masuk line kerja. Baginya hal ini merupakan pekerjaan yang paling menjijikkan di dunia. Sesaat sebelumnya supervisor pabrik mengatakan bahwa pekerjaan dengan bayaran 44  ribu rupiah per hari  (kurang dari 4 Pound) itu merupakan pekerjaan yang paling bagus di daerah itu. Lain lagi peserta laki-laki yang sangat emosi sehingga berkelahi sesamanya hingga salah seorang dari mereka terpaksa mereka keluarkan. Pekerjaan memerlukan konsentrasi tinggi dan dilakukan di ruangan yang kedap dengan temperatur diatas 35°C, dan tentu saja sangat lembab membuat mereka merasa bagaikan di dalam oven panas.

Di hari selanjutnya, tim wanita kembali ke pabrik pemrosesan ikan. Pertama-tama mereka ditempatkan di line pembersihan produk. Namun karena lambatnya bekerja dan buruknya hasil, kehadiran mereka justru merusak ritme pekerja lainnya. Hal ini menyebabkan mereka harus berpindah ke bagian pengeluaran isi perut namun tetap tidak mampu juga untuk memenuhi standard kualitas sehingga pada akhirnya mereka hanya ditempatkan untuk menyusun kaleng tuna. Bekerja seharian penuh membuat mereka mendapatkan upah yang sangat minim. Uang yang mereka dapatkan dengan bekerja seharian hanya cukup untuk membeli softdrink dan makanan ringan.

Sementara anggota tim laki-laki pada hari kedua ikut berlayar menangkap ikan tuna. Pelayaran dilakukan 24 empat jam bersama kru yang jumlahnya puluhan orang di kapal penangkap ikan. Sebagian kru tersebut menghabiskan seluruh hidup mereka di kapal tersebut. Hanya beberapa waktu saja mereka pulang mengunjungi keluarga. Mereka tidur di sela-sela dek kapal sambil menunggu kapten menemukan areal laut yg cocok untuk memancing tuna. Untuk pekerjaan yang full time ini mereka mendapatkan upah tidak lebih dari seratus ribu rupiah per minggu. Dua anggota tim ini hanya bisa termangu-mangu saja. Betapa yang mereka makan sehari-hari harus didapatkan dengan usaha dan pekerjaan yang sedemikian keras oleh para pekerja pabrik di negara berkembang.

Pekerjaan berat sepanjang hari dengan risiko besar hanya sebanding dengan pekerjaan sambilan menjaga toilet kurang lebih 15 menit di UK. Betapa hal-hal yang mereka habiskan sehari-hari merupakan hasil jerih payah para pekerja yang dihargai dengan sangat minimal di negara-negara produsen. Betapa pekerjaan yang begitu berat dan berisiko dihargai sedemikian rendah. Bekerja seumur hidup hanya mampu untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan dasar pangan dan sandang mereka.

Di akhir program, pemuda-pemudi itu menyampaikan penghormatanya kepada para pekerja rutin yang ada. Orang-orang yang menikmati hidupnya dalam sauna karena tetesan keringatnya bekerja tanpa punya sisa untuk dinikmatinya selain untuk bertahan hidup. Bagi mereka para pemuda/i UK tersebut ini merupakan pengalaman yang sangat berharga untuk membuat mereka benar-benar menikmati apa yang dulunya biasa-biasa saja bagi mereka.

Leuven, 13 Februari 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: