Pengantar (Sistem Lumpur Aktif)

Belajar dari pengalaman pasca revolusi industri dimana negara-negara yang menerapkan industrialisasi mengalami kerusakan lingkungan yang sangat parah, kini diterapkan peraturan yang cukup ketat untuk mengoperasikan suatu industri atau pabrik. Aturan ini biasanya berupa kriteria standard ambang batas maksimum yang diperbolehkan. Untuk memenuhi standard tersebut, mau tidak mau, sebuah pabrik harus dilengkapi dengan unit pengolahan limbah sendiri atau menyewa pihak kedua dengan memberikan kompensasi untuk mengolah limbah mereka.

Sistem lumpur aktif (SLA)

Sistem Lumpur Aktif

Teknologi pengolahan limbah cair yang paling sederhana adalah menggunakan sistem lumpur aktif. Secara prinsip, sistem ini memanfaatkan mikroorganisme untuk mengkonsumsi komponen-komponen limbah sebagai sumber makanan atau energi. Berdasarkan jenis mikroorganisme yang digunakan, proses ini dibagi menjadi dua jenis. Proses aerobik (memerlukan oksigen) dan proses anaerobik (tanpa oksigen). Perbedaan kedua proses ini akan dijelaskan secara terperinci di pembahasan khusus. Untuk pembahasan mengenai bioreaktor membran, sistem lumpur aktif mengacu pada proses aerobik.

Diagram alir proses mengenai sistem lumpur aktif diatas merupakan diagram proses yang disederhanakan. Unit-unit peralatan jauh lebih banyak dan kompleks. Air limbah yang mengandung polutan organik masuk kedalam bioreaktor. Didalam bioreaktor tumbuh mikroorganisme yang akan mengkonsumsi komponen organik tersebut. Komponen organik sebagian akan dioksidasi menjadi CO2 dan H2O dan sebagian lagi digunakan untuk reproduksi. Umumnya, pada SLA yang baik, mikroorgaisme membentuk flok sehingga ukurannya bisa mencapai 50-100 mikron. Karena wujud fisiknya secara visual mirip lumpur, maka mikroorganisme pada SLA sering disebut lumpur aktif.

Dari bioreaktor air limbah yang diolah dipisahkan dengan lumpur aktif yang berupa flok di bagian sedimentasi. Flok yang berat akan terendapkan dan air yang telah diolah bisa dipisahkan dengan metode gravitasi saja. Lumpur yang mengendap selanjutnya dikembalikan ke dalam bioreaktor.

Karena terus jumlah mikroorganisme didalam sistem akan terus bertambah. Maka untuk menjaga agar konsetrasinya tetap sama atau sesuai dengan desain, dilakukan pembuangan secara berkala atau kontinu dari bak sedimentasi. Lumpur aktif tersebut selanjutnya di deaktifasi kemudian di saring dan dikeringkan dalam bentuk padatan.

2 Comments

  1. Atika_spongebob said,

    September 13, 2010 at 2:30 am

    like this

  2. nova said,

    June 16, 2014 at 6:45 am

    tampi asih tuk ilmunyaūüôā


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: