Dampak Lingkungan Penggunaan Batubara Sebagai Bahan Bakar Pengomprongan Tembakau Virginia

Provinsi NTB terutama pulau lombok merupakan daerah penghasil tembakau virginia terbesar di Indonesia. Jumlah produksi rata-rata dan luas areal penanaman mencapai 31.507 Ton/19.873 Ha (2006),  33.046 Ton/17.124 Ha (2007) dan 46.824 Ton/22.824 Ha (2008). Pada tahun 2008 berhasil memenuhi 80% kebutuhan tembakau virginia nasional dan diperkirakan mencapai lebih dari 50 ribu ton pada tahun 2009 dan memenuhi 90% kebutuhan nasional. Kebutuhan minyak tanah untuk pengomprongan tembakau di lombok saja per tahun (2008) mencapai 40.000 kilo liter. Dengan demikian  jumlah subsidi BBMT mencapai lebih dari 250 milyar rupiah. Pemerintah menilai subsidi BBMT hanya menguntungkan perusahaan-perusahaan pemasok tembakau untuk pabrik rokok, sehingga mulai tahun 2009 subsidi BBMT untuk pengomprongan tembakau sudah dicanangkan untuk dicabut sepenuhnya dan akan dikonversi menjadi bahan bakar batubara.

Polusi akibat pembakaran batubara

Polusi akibat pembakaran batubara

Akibat terlambatnya konversi bahan bakar untuk pengomprongan tembakau pada tahun 2009, pemerintah menunda pencabutan subsidi BBMT. Rencananya pada tahun 2010 ini, sudah tidak akan ada lagi subsidi yang diberikan. Dengan demikian, mau tidak mau atas dasar alasan ke-ekonomian petani akan beralih mengunakan bahan bakar lainnya seperti batubara atau kayu.

Jika ditinjau dari harga persatuan energi, maka hanya dua alternatif pengganti yang secara ekonomis setara atau bahkan lebih murah dari penggunaan BBMT bersubsidi, yaitu kayu bakar (kalor bakar, 15MJ/Kg, harga Rp. 550 per kg, atau Rp. 36/MJ) dan batu bara (Rp. 1,250/kg, kalor bakar 27MJ/kg, atau Rp. 46/MJ). Harga ini sebenarnya lebih murah dari penggunaan BBMT subsidi (Rp. 3,562/kg, kalor bakar 56 MJ/kg, atau Rp. 64/MJ). Karena alasan diatas, pemerintah provinsi NTB sudah merekomendasikan dan sedang dalam tahap pelaksanaan program konversi bahan bakar ke batubara. Penggunaan kayu bakar dilarang karena akan mengancam pelestarian lingkungan dan memberi dampak kerusakan lingkungan yang fatal. Berdasarkan perkiraan, jika seluruh bahan bakar untuk pengomprongan tembakau menggunakan kayu, diperlukan sebesar ± 480 ribu m3 kayu bakar per tahun, bila potensi hutan kayu bakar 40 m3/ha maka dibutuhkan 12.000 hektar hutan kayu bakar untuk memenuhi kebutuhan tersebut per tahun. Namun demikian, sepertinya pemerintah provinsi nusa tenggara barat (NTB) hanya mencari solusi pintas dengan hanya merekomendasikan batubara. Pertimbangan aspek lingkungan mengenai dampak pembakaran batubara tidak diindahkan.

Pembakaran batubara, seperti bahan bakar fosil lainnya, terjadi akibat reaksi eksotermik antara komponen batubara dan oksigen yang terdapat di udara. Batubara mayoritas tersusun dari karbon (C), dan komponen kecil lainnya seperti belerang (S), oksigen (O) dan hidrogen (H). Reaksi antara batubara dan udara akan menghasilkan karbon dioksida (merupakan komponen utama gas rumah kaca) dan air pada kondisi pembakaran sempurna, bersama dengan belerang, terutama belerang dioksida SO2 dan berbagai macam nitrogen oksida lainnya (NOx). Karena hidrogen dan nitrogen merupakan komponen penyusun udara, hidrida dan nitrida dari karbon dan belerang juga diproduksi selama pembakaran batubara. Ini juga termasuk hidrogen sianida (HCN), belerang nitrat (SNO3) and berbagai senyawa beracun lainnya.

Lebih jauh lagi, hujan asam dapat terjadi ketika belerang dioksida yang diproduksi dari pembakaran batubara, bereaksi dengan oksigen membentuk belerang trioksida (SO3). Senyawa ini kemudian bereaksi dengan molekul air (H2O) di atmosfer menjadi asam sulfat (H2SO4). Asam sulfat dikembalikan lagi ke tanah dalam bentuk hujan asam. Bentuk lain dari hujan asam juga terjadi akibat emisi karbon dioksida dari pembakaran batubara adalah asam karbonat (H2CO3). Ketika di atmosfer, molekul karbon dioksida bereaksi dengan molekul air untuk menghasilkan asam karbonat. Senyawa ini jatuh kembali ke tanah sebagai senyawa yang korosif.

Salah satu permasalahan lain dari pembakaran batubara adalah sulitnya dicapai pembakaran sempurna. Pada pembakaran sempurna dapat diproduksi gas karbon monoksida (CO) yang sangat membahayakan kesehatan. Senyawa ini memiliki afinitas penyerapan dipara-paru lebih tinggi dibandingkan oksigen (O2) sehingga mengganggu pernafasan. Keracunan karbon monoksida diindikasikan oleh sakit kepala, vertigo, flu, dan pada tingkat yang lebih tinggi dapat meracuni sistem saraf pusat dan hati, bahkan menyebabkan kematian. Karbon monoksida juga sangat membahayakan janin jika dihirup oleh ibu hamil. Pada tingkat rendah sampai kronis bisa menyebabkan depresi, pusing dan kehilangan ingatan. Karbon monoksida mengakibatkan dampak lebih lanjut ketika berikatan dengan hemoglobin dalam darah dalam bentuk karbohemoglobin (HbCO). Senyawa ini mencegah pengikatan oksigen ke dalam darah, sehingga mengurangi kapasitas transport oksigen darah, yang selanjutnya menyebabkan hipoksia (kekurangan oksigen) yang mengganggu proses pencernaan dan penyerapan makanan di dalam tubuh. Karbohemoglobin bisa dihilangkan dari hemoglobin, namun memerlukan proses yang p sulit dan lama karena komplek-HbCO cukup stabil.

Batubara dan produk buangannya, berupa abu ringan, abu berat, dan kerak sisa pembakaran, mengandung berbagai logam berat; seperti arsenik, timbal, merkuri, nikel, vanadium, berilium, kadmium, barium, cromium, tembaga, molibdenum, seng, selenium, dan radium, yang sangat berbahaya jika dibuang di lingkungan. Batubara juga mengandung uranium dalam konsentrasi rendah, torium, dan isotop radioaktif yang terbentuk secara alami yang jika dibuang akan mengakibatkan kontaminasi radioaktif. Meskipun senyawa-senyawa ini terkandung dalam konsentrasi rendah, namun akan memberi dampak signifikan jika dibung ke lingkungan dalam jumlah yang besar.  Emisi merkuri ke lingkungan terkonsentrasi karena terus menerus berpindah melalui rantai makann dan dikonversi menjadi metilmerkuri, yang merupakan senyawa berbahaya dan membahayakan manusia. Terutama ketika mengkonsumsi ikan dari air yang terkontaminasi merkuri.

Jika diperhitungkan secara kasar maka NTB khususnya pulau lombok mulai tahun 2010 akan membakar sekitar 375 ribu ton batubara pertahun. Pembangkit listrik berbahan bakar batubara 3 x 25 MW saja, diperkirkan akan mengkonsumsi 175 ribu ton batubara pertahun ditambah lagi dengan pembakaran batubara untuk pengomprongan tembakau yang diperkirakan mencapai 200 ribu ton per tahun. Tidak terbayangkan, bagaimana dampak lingkungan yang akan diakibatkan pada tahun-tahun mendatang.

Pada musim pengomprongan tembakau tahun 2009 yang lalu, sebagian petani tembakau sudah menggunakan batubara sebagai bahan bakar. Namun demikian akibat dampak lingkungan yang mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar, tidak sedikit yang akhirnya beralih dari batubara ke kayu bakar dengan merusak tungku batubara mereka. Berbagai macam penyakit pernafasan diderita masyarakat sekitar lingkunagn pengomprongan, padahal ini baru hanya sebagian kecil saja. Maka tidak bisa membayangkan dampak lingkunagn dan dampak sosialnya dimasa yang akan datang ketika batubara sudah digunakan secara menyeluruh oleh petani tembakau dan pembangkit listrik 3 x 25 MW sudah mulai beroperasi di tahun 2010 ini.

Ilustrasi mengenai polusi akibat pembakaran batubara dapat dilihat pada video berikut:

Informasi lebih lengkap dan terstruktur mengenai Tembakau Virginia dapat dilihat pada link berikut..

2 Comments

  1. Teguh Kurniawan said,

    February 20, 2010 at 1:03 am

    Penggunaan batubara ditinjau secara ekonomis terhadap proses yang dilakukan memang menguntungkan, namun efek langsung maupun tidak langsung akan sangat merugikan. Ditambah pula dengan stock dan kualitas batubara indonesia yang tidak begitu baik akan menambah ketergantungan petani tembakau terhadap input dari luar. sebaiknya pakai teknologi yang menggunakan bahan bakar terbarukan (kemurgi) dan bisa diperoleh lokal. Kayu lokal yang tumbuh cepat dalam waktu beberapa tahun mungkin bisa dijadikan alternatif bahan bakar, atau rumput-rumputan yang cepat tumbuh juga bisa dijadikan bahan bakar. meminjam istilahnya pak Tatang, kita perlu”kebun energi”

  2. M Roil BILAD said,

    February 23, 2010 at 11:18 am

    Tunggu solusinya di artikel lanjutannya Guh, masih malas nulis dan ngedit nih.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: