Ahmad Saufi Pilihanku

Saya selalu merasa beruntung pernah mengenyam pendidikan nonformal dengan rajin mengikuti pengajian. Meski saya bukan profil santri yang baik, namun  saya  bahagia karena setidaknya masih memanggul semangat luar biasa dari para tuan guru yang mengajarkan saya tentang ilmu sebagai bekal hidup. Salah satu yang masih terpatri dalam sanubari adalah sebuah pernyataan misi (mission statement) yang berulang kali diwasiatkan, “Jadilah engkau pribadi yang berotak Jerman dan berdada masjidil harom”. Sebuah pernyataan misi yang secara tidak langsung menggambarkan profil seorang muslim untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, menguasai ilmu agama serta berakhlaq yang mulia.Membaca riwayat hidup Ahmad Saufi serta testimoni dari teman-teman terdekat yang mengenalnya membuat saya tertegun. Dia adalah doktor lulusan Jerman yang juga menuai sekian banyak prestasi dan penghargaan. Kapasitas keilmuannya yang tinggi juga disertai kemuliaan hati serta akhlaq dan budi pekerti. Bagi saya, pencapaian yang melekat pada dirinya tepat sebagai contoh hidup dari figur yang sering didengung-dengungkan oleh para Tuan Guru ditempat saya mengaji. Dia secara sederhana menjadi sosok yang hidup dari figur muslim ideal yang berotak jerman dan berdada masjidil haram.

Mengetahui bahwa Ahmad Saufi berkeinginan untuk maju sebagai calon walikota mataram membuat hati saya menjadi miris. Haruskah pribadi baik ini menjatuhkan diri dalam kubangan busuk politik? Mengapa Ahmad Saufi yang bisa saja bekerja sebagai profesional di lembaga penelitian terbaik di dunia harus mengambil risiko terkontaminasi oleh patogen-patogen oportunis yang  bercokol di partai-partai politik dan kursi-kursi dewan.

Mengamati proses demokratisasi indonesia, entah mengapa saya selalu berada pada sisi yang skeptis. Bagi saya, demokrasi bukan lagi menjadi pemuliaan hak manusia untuk bersuara dan diakui, namun telah menjadi ajang jual beli. Bahkan orang-orang yang secara pribadi saya hormati, seringkali melontarkan kata-kata yang mengiris hati. “Politic is just about money, and that’s all”. Berpolitik berarti berdeklarasi untuk melepaskan jubah kejujuran dan memakai topeng penipuan.

Adalah Ahmad Saufi yang dengan teduh menyuarakan semacam antitesis terhadap pandangan skeptis tersebut. Masih ada sudut lain yang dapat kita gunakan untuk memandang politik dalam cara yang lebih bijaksana, demikian ungkapnya dalam email yang dikirimkan kepada saya. Bagi Saufi, maju dalam pilkada merupakan ikhtiar untuk memperbaiki kondisi masyarakat kota mataram. Dia sungguh sadar bahwa pilkada selama ini selalu sarat dengan money-politic. Namun atas dukungan dari berbagai elemen masyarakat Saufi siap maju dengan satu syarat, no money politic, meski ini tidak mudah dan tidak populer. Dia seolah ingin menunjukkan bahwa, ditengah carut marut indonesia, ditengah mayapada politik bergelimang uang, harus ada yang melihat dengan persepsi yang benar dan berusaha bertindak dengan cara yang benar.

Di salah satu dinding sekolah saya, terpahat sebuah mahfudzot besar yang merupakan kutipan dari komunikasi Allah dan nabi Sulaiman. Secara bebas mahfudzot itu bisa diterjemahkan “Telah diminta kepada Sulaiman untuk memilih antara ilmu dan harta, maka ia memilih ilmu. Maka dia mendapatkan keduanya, ilmu dan harta”.   Ahmad Saufi mungkin tidak bisa menawarkan uang dan gelimangan harta untuk membeli suara pemilih, namun dia menawarkan ilmu. Kapasitas beliau yang teruji merupakan sesuatu yang bernilai leih dari sekedar lima puluh ribu rupiah yang ditawarkan oleh penista demokrasi di malam pencoblosan.

Jika kita percaya bahwa setiap kejadian telah tercatat dalam buku Tuhan dan tidak ada satu pun takdir yang tidak  dapat dipenuhi. Jika kita percaya bahwa Allah tidak akan memberikan beban melainkan kita mampu mengatasinya. Jika kita  percaya bahwa seorang pemimpin seharusnya dipilih atas dasar harapan bukan atas dasar ketakutan, ancaman atau iming-iming uang. Maka tepat sekali Ahmad Saufi memilih untuk mencoba berjuang.

Saya pribadi senantiasa berdoa semoga Ahmad Saufi istikomah dalam kata-kata dan perbuatannya. Saya berdoa agar dia mampu sebagai alat Tuhan untuk menunjukkan bahwa dalam keadaan gelap gulita politik sekalipun, masyarakat pemilih akan mampu melihat cahaya.

Akan tiba saatnya pertanyaan yang diberikan ke Sulaiman akan juga diajukan kepada masyarakat pemilih di kota mataram dalam bilik pencoblosan. Entah mereka memilih karena alasan uang atau yang menawarkan ilmu pengetahuan. Pilihan itulah yang akan menentukan ganjaran yang akan diterima dimasa yang akan datang. Apakah kota mataram akan menjadi barang mainan dan dibangun berbasis pada pengembalian uang sogokan atau didasarkan pada kekuatan ilmu dan kejujuran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: