Ayunan langkah

Akhir-akhir ini, perjalanan kurang lebih 1 km dari studio-kampus lebih senang saya lalui dengan berjalan kaki. Meski kadang-kadang harus melawan hawa dingin sampai -10°C, namun tetap juga jalan kaki. Justru kadang semakin nikmat, karena sesembari bisa saling lempar bola salju dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang juga berjalan kaki. Entah mengapa, suasana dan aura berjalan kaki mampu meresonansi otak  untuk berfikir lebih mendalam tentang berbagai hal. Ayunan langkah seolah seperti derigen yang mempertahankan dan mengatur ritme otak, dari satu idea ke idea berikutnya. Seumpama dentuman drum  yang ditabuh untuk memicu para pedayung agar mengayuh seirama dengan kekuatan penuh.

Menulis tentang “langkah” jadi teringat nasihat dari ustadz ketika mengaji di surau di pinggir kampung. Pada setiap langkah yang ditapaki oleh para penuntut ilmu selalu diiringi dengan sahdu tasbih dan do’a dari para malaikat yang mendoakan penuntut ilmu tersebut. Makanya, tidak jarang, teman-teman mengaji dahulu memilih jalan memutar untuk memperbanyak langkah perjalanan mereka dari rumah ke surau tempat mengaji. Mungkin saya baru benar-benar menyadari sekarang bahwa berjalan adalah sebuah teknik ampuh mempertajam daya pikir dan meningkatkan kualitas pikiran. Padahal jika diingat kembali, saya banyak melakukan internalisasi dari pelajaran-pelajaran kuliah dulu ketika harus pulang jalan kaki dari kampus (Ganesa) ke kost (Cisitu lama). Banyak jalan, makin sehat dan tentu saja banyak idea.

Menikmati berjalan kaki telah saya rasakan bahkan jauh-jauh hari sebelumnya begitu saya nikmati. Saya banyak melalkukan internalisasi pemahaman untuk pelajaran-pelajaran sekolah diperjalanan pulang pergi repok-sekolah. Di perjalanan pergi, saya berangkat pagi sekali, ketika butir-butir embun pagi masih membasahi rerumputan di pematang sawah yang harus saya lalui untuk berangkat sekolah dari rumah nenek ke kota.

Lebih surut ke belakang, ketika masa-masa kanak-kanak dulu ternyata saya pernah mengalami kejadian luar biasa. Hingga usia menginjak dua tahun konon katanya, menurut cerita ibu saya belum bisa berjalan. Yang saya lakukan hanya ngesot namun dengan kecepatan optimum hingga Roil kecil selalu terlihat tidak lebih lambat dari balita yang lain.  Mungkin secara psikologis, pada masa itu bisa berjalan merupakan sebuah karunia spesial. Sehingga Allah memberikan nikmat lebih ketika kini saya begitu menikmati berjalan kaki.

Tahun lalu (2009), ketika saya pulang ke tanah air, kembali melangkahkan kaki di tanah kelahiran di lombok, sebuah kejadian menarik terjadi. Ketika kami (Saya dan istri) akan berkunjung ke rumah nenek yang kebetulan jaraknya kurang lebih 1 km dari rumah orang tua saya. Rupanya kendaraan umum seperti angkutan pedesaan maupun dokar/cidomo sudah sedemikian jarang lagi, digantikan dengan ojek yang berseliweran kesana kemari. Kami memutuskan untuk berjalan kaki, sambil menikmati hijaunya permukaan bendungan batujai yang tertutupi eceng gondok. Namun sayang sekali, ketika baru saja akan berangkat, ibu saya menguap-uap memanggil. “Ini duit lima ribu, tunggu cidomo, jangan jalan kaki, nanti diomongi oleh orang sekampung”, ujarnya. Meskipun kami berat untuk menerima sarannya, akhirnya kami terima juga. Daripada berdebat, yang bisa menghabiskan waktu yang setara dengan yang dibutuhkan untuk berjalan kaki ke rumah nenek.

Padahal, aku sangat merindukan kembali ayunan langkah yang dulu, ketika uang saku tidak cukup untuk membeli handbody (body lotion)untuk memperbaiki penampakan kulit yang kasar dan kering, maka dengan bangga aku lap permukaan rumput membasahkan telapak tangan, kemudian sisa embun di tangan itu diusapkan ke lengan dan kaki, digunakan sebagai lotion alami untuk menjaga kelembaban kulit.

Langkah demi langkah  telah ditapaki. Semakin banyak aku melangkah semakin banyak yang ingin aku tuju. Lalu kapan berhentinya? Jangan pernah berfikir tentang akhir kawan, karena akhir itu ditentukan saat ini.

Wallahu a’lam—

Repok: perkampungan mini, terpisah dari kampung utama namun jaraknya hanya beb

Ngesot: merangkak yang dilakukan dengan menggeser-geser pantat dan tetap dalam posisi duduk.

2 Comments

  1. wien said,

    July 25, 2010 at 11:56 am

    Hahaha🙂
    Kenapa harus jadi gunjingan sekampung ton, kan sudah sah😀. Saat jalan-jalan berduaan istri juga suka otomatis menggaet tangan, termasuk kalau dikampung.
    Ah jadi pingin pulang lagi meski blm seminggu😀.

    • M Roil BILAD said,

      July 27, 2010 at 10:29 am

      Ya elah—
      Biase lah org kampung, gengsi.
      Jalan kaki= miskin
      jalan kaki = orang kaya takut miskin
      Kemana-mana jalan kaki = orang kikir


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: