Kenangan Ramadhan di Leuven

Seperti hari-hari yang lalu, di awal aktifitas belajarku di kota ini, kesibukan masih di dominasi oleh keresahan menunggu-nunggu. Menunggu alat-alat yang aku pesan untuk melengkapi alat-utama percobaanku. Itu juga kalau menunggu bisa dikatakan sebagai aktifitas. Ashim satu-satunya teman Muslimku di lingkungan kelompok penelitianku menawarkan untuk berbuka puasa bersama di Masjid Mahasiswa di rijscoolstraat. Berhubung konon menu berbukanya menghebohkan, rupa-rupa masakan Maroko, maka aku meng-iyakan saja. Yang membuatku rada males sebenarnya adalah kenyataan bahwa aku harus jalan kaki kesana. Tapi OK lah, bukan karena gratisnya, tapi baik juga untuk menjaga ritme hidup di negeri yg mayoritas katolik ini.

Ketika sang surya mulai beranjak meninggalkan horisonnya aku menelepon teman yang baru dua hari nyampe di Leuven (Rulli) untuk kuajak kesana berbuka bersama, sekalian buat orientasi sih pikirku. Namun ketika senja beranjak tiba, dia tidak muncul-muncul juga. Mungkin tidur pikirku, jet-lag kalee, maklum selisih waktunya lumayan juga-6 jam (Belgia – Malaysia). Akhirnya aku putuskan untuk berangkat saja, meskipun rada malas tapi udah terlanjur janji. Janji ya janji lah, meski ditepati.

Dengan setengah berlari aku menyusuri jalanan Schapenstraat, Parijstraat dan masuk ke Bongnotenlaan. Sandalku yg cukup besar dan tebal berkeciplak-keciplak membuatku sedikit menjadi pusat perhatian pengguna jalan yang seolah ingin cepat-cepat sampai rumah masing-masing meninggalkan udara dingin jalanan kota Leuven. Setelah berputar-putarr mencari, dan terengah-engah karena setengah berlari, akhirnya sampai juga di masjid mahasiswa. Imam sudah hampir salam ketika aku sampai, dan yang mengecewakanku adalah kok yang sholat cuman 5 orang? Terus acara buka puasanya mana? Sia-sia dong lari-larinya?

Dengan expresi tenang, buat jaga imej biar gak dikirain dateng hanya buat cari makan, aku segera mengambil wudhu dan melaksanaakn sholat magrib. Ketika selesai seperti biasa aku komat-kamit ber-express wirid seperti biasanya biar segera pulang dan masak buat berbuka. Namun seorang brother sekilas tertangkap disudut mataku sedikit menyita perhatian. Dia menyalami setiap yang keluar dari masjid dan bercakap-cakap seperlunya berbahasa Belanda yang aku tidak mengerti. Ketika express wirid ku selesai dan kututup dengan mengusap muka diujung doa, aku pun beranjak keluar ke pintu.

Kepalaku sudah pusing dan pandangan sedikit kabur karena entah mengapa selama ramadhan disini aku jarang sekali sahur. Dengan sangat santun sang brother tersebut menyapaku, “Do you want to go for ifthar in Al-Fath Mosque?“, seadanya aku jawab “I am sorry, but i dont know where is Al-Fath mosque“. Senyum tulus pun tersungging di bibirnya. “We can go together by  my car”. “Great“, jawabku singkat.  Setelah sedikit beramah-tamah dan menunggu brother-brother lainnya kami berempat pun berangkat bersama ke Masjid Al-Fath. Dari ngobrol-ngobrol di mobilnya ternyata dia asli orang Belgia dan yang lainnya orang Bagladesh dan orang Turki. Setelah berputar-putar di lajanan sempit kota leuven akhirnya kami sampai juga.

Ternyata sudah rame….

Kami segera mengambil tempat duduk dan menikmati hidangan ayam yang dimasak ala Maroko, enak sih dibanding masakan Belgia, namun dimanapun aku berada, masakan apapun yang aku makan, yang terbaik adalah masakan ibuku. Hidangan lezat itu ku nimati dengan tanggung, bukan karena malu-malu jaga image, cuman kerena kita makan dari satu nampan besar di atas meja dan orang-orang yang makan cuek bebek mengglontorkan sisa-sisa makanan mereka di atas meja makan sehingga tampak jorok sekali. Tapi apa boleh buat, mungkin begitulah mereka, orang-orang afrika makan. Mungkin begitulah cara mereka menghormati makanan, seperti remaja-remaja putri india yang didik untuk mengekspresikan rasa syukur dengan tidak menutup perut mereka ketika berpakaian. Akhirnya, walaupun belum cukup kenyang, dan sebagian besar orang telah meninggalkan tempat begitu saja dalam keadaan yang semrawut penuh sisa-sisa makanan, aku cukupkan makanku.

Aku duduk bengong sendiri berharap tumpangan dari Brother yang tadi numpangin saya berangkat. Setelah aku lirik-lirik ternyata dia juga sudah selesai dan bilang akan antar saya ke student mosque. Aku mengangguk saja, karena aku gak tahu juga baliknya kemana. Cuman yang mengherankan adalah dia mulai mengambil ember, dan lap dan dan kursi membereskan semua meja yang sangat kotor. Memilah-milah sampah dan menaruhnya ditempat masing-masing. Dia me-lap meja dan kursi bahkan menggunakan detergen hingga terlihat begitu bersih dang mengkilap.  Amboi… this is some kind of different person… with unique persona…, interesting!

Melihat hal itu aku berinisiatif membantu dan akhirnya berdua kami membersihkan meja dan kursi makan. Aku pikir cukup itu saja, ternyata dia juga mulai mengepel lantai dan membersihkan bagian-bagian yang tampak kotor dari lantai. Setelah semuanya beres kami pun beranjak pulang. O….ops… ternyata kumpulan serpihan-serpihan roti masih tersisa di pintu keluar, dengan kedua tangannya dia melakukan sentuhan terakhir untuk membersihkan restoran itu. Teriakan terima kasih dari pemilik restaurant itupun seolah-olah menyuarakan hatiku saat itu. Saudaraku ini mengajariku dengan bahasa perbuatan tentang apa arti dari panggilan brother-nya untuk ku. Dia seperti bilang bahwa, aku tidak datang jauh-jauh dari Brussel hanya untuk makan sekenyangnya saja…. tapi lebih dari itu. Kemudian pikiranku menerawang mengenai adat-adat sopan santun yang aku sebelin waktu kecil dulu. Tentang tata krama dan prinsip-prinsip hidup yang tidak lelah disuarkan oleh suara parau ibuku yang tiada hentinya mengingatkanku.

Di perjalanan, dengan sangat santun dia minta agar setiap hari aku berbuka bersama disana. “It is only small community of muslim here, we should solid“. Dia menanyakan apakah aku tahu posisi masjid itu. Kemudian dia menyetir mobil menanyakan setiap bangunan-bangunan yang aku kenal sepanjang jalan sebagai patokan untuk kesana. Namun berhubung posisi masjidnya berlawanan arah dengan arak perjalanan sehari-hariku ke kampus membuat aku tetap tidak tahu. Sampai akhirnya kita sampai di Folkplein pusat kota Leuven disebelah Gereja Katedral yang pasti semua orang yang tinggal di Leuven tahu. Setelah itu, aku pikir dia akan langsung ke student mosque, namun ternyata tidak. Dia berbalik arah dan dari gereja katedral itu kembali ke masjid Al-fath untuk menunjukkan jalan menuju kesana. Meskipun berkali-kali aku bilang bahwa aku bisa mencarinya di peta. Dari Al-Fath mosque kami kembali ke student mosque dan berpisah disana.

Akhir kata, dia bilang “I like to be together with our brother, dont forget to come to iftor tomorrow. In ramadhan we eat with our muslim brother”. Sebuah jawaban sempurna mengobati kepiluan hati yang sangat sepi di ramadhan tahun ini. Kalimat singkat nan sederhana, namun sarat akan makna. Merubah kepiluan menjadi keceriaan, dan menempatkan Ramadhan selalu menjadi bulan terbaik seperti tahun-tahun sebelumnya.

Di ramadhan tahun ini, aku jauh dari gedoran pintu kamar tidur yang biasa dilakukan ibuku, atau adik bungsuku yang meneriakiku atau menunggangiku hanya untuk membangunkanku sahur….. sepi dari permainan counter strike sahabat-sahabatku selama ramadhan di negeri jiran. Hari ini aku merasakan sendiri, bahwasanya dua kalimat syahadat telah mempersaudarakan manusia yang mengikrarkannya dimanapun dia berada. Di antara dentuman bom syahid, teriknya mentari gurun pasir, gemuruh ombak samudra, bekunya udara kutub, atau dinginnya udara leuven di musim pancaroba memasuki musim gugur.

Nyanyian dedaunan yang berguguran di tepi jalan menghiasi perjalanan pulangku malam itu. Berjatuhan seperti jatuhnya jemari Mosart dalam tuts-tuts piano yang menyanyikan simfoni nada yang mengharukan. Bulir-bulir air mataku pun tak tertahan… ikut menikmati keindahan Ramadhan pertamaku di benua biru, Eropa.

(Oktober 2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: