Analis kalor pembakaran dan harga berbagai alternatif bahan bakar pengomprongan tembakau virginia

Oleh: M Roil Bilad

Setelah mempublikasikan beberapa artikel mengenai situasi usaha tembakau virginia di lombok, penulis mendapatkan berbagai respon positif terutama mengenai solusi alternatif bahan bakar pengomprongan tembakau. Pada tulisan ini, penulis akan membuat analisis ekonomis mengenai perbandingan berbagai bahan bakar alternatif yang ditawarkan. Analisis didasarkan pada asumsi bahwa efesiensi penggunaan energi ekivalen dengan teknik konvensional menggunakan minyak tanah. Perbandingan panas pembakaran berbagai bahan bakar ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1 Perbandingan kalor bakar berbagai alternatif bahan bakar untuk pengomprongan tembakau.

Kebutuhan energi dan biaya (satu kali pengomprongan)

Berdasarkan pengalaman yang telah dilakukan bertahun-tahun oleh petani tembakau menggunakan bahan bakar minyak tanah, dibutuhkan lebih kurang 500 liter minyak tanah untuk satu batch pengomprongan. Pada satu batch pengomprongan dikeringkan daun basah sekitar 2.000 kg dengan produk akhir sekitar 300 kg (hasil sangat relatif terhadap berbagai faktor). Dari data tersebut bisa diperoleh kebutuhan minyak tanah untuk pengomprongan sebesar 1,67 liter/kg krosok (1,34 kg minyak tanah/kg krosok) atau setara dengan 61,7 Mj/Kg krosok. Nilai ini selanjutnya dijadikan sebagai basis kebutuhan energi untuk perhitungan bahan bakar lainnya. Rangkuman perhitungan untuk berbagai bahan bakar lainnya dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Biaya pengomprongan untuk setiap satu kilo gram krosok menggunakan berbagai bahan bakar.

Berdasarkan data pada Tabel 4, jika biaya energi untuk pengomprongan dibandingkan dengan minyak tanah bersubsidi sebagai pembanding, dapat dilihat bahwa hanya bahan bakar konvensional (kayu dan limbah pertanian) yang cukup kompetitif. Selain itu bahan bakar konvensional lainnya yang menjadi opsi menarik adalah batu bara. Sedangkan bahan bakar lainnya yang memang belum umum digunakan seperti LPG, etanol dan metanol masih belum ekonomis dibandingkan minyak tanah bersubsidi. Namun jika dibandingkan dengan minyak tanah nonsubsidi, bahan bakar LPG cukup kompetitif.

Implementasi

Perlu ditekankan kembali bahwa analisis biaya diatas dihitung persatuan energi yang diperlukan. Data kandungan energi pembakaran bahan bakar diambil dari data kalor bakar dengan asumsi terjadinya pembakaran sempurna. Sedangkan data mengenai kebutuhan energi pengomprongan diambil dari data pengomprongan menggunakan minyak tanah. Dengan demikian jika efesiensi pembakaran bahan bakar tersebut kurang dari efesiensi pembakaran minyak tanah maka bisa dipastikan bahwa kebutuhan bahan bakarnya akan lebih tinggi. Sebagai contoh, perbandingan kalor bakar minyak tanah dengan batubara adalah 46,2/21=2,2. Itu artinya, jika dalam sekali pengomprongan diperlukan 400kg minyak tanah, maka jika pengomprongan dilakukan dengan bahan bakar batubara diperlukan (2,2 x 400) 880 kg batubara. Namun pada kenyataannya, meskipun menggunakan tungku gasifikasi, dibutuhkan lebih kurang 1500 kg batubara untuk satu bacth pengomprongan. Hal ini berarti, efesiensi pembakaran batu bara tersebut jauh lebih rendah dibandingkan minyak tanah. Kondisi sebaliknya bisa terjadi untuk LPG, karena LPG berwujud gas, proses pencampuran dengan oksigen ketika dibakar menjadi lebih mudah dan efesiensi pembakaran juga lebih baik.

Untuk membandingkan kelayakan bahan bakar perlu juga dipertimbangkan aspek investasi. Ketika mengganti bahan bakar maka diperlukan peralatan baru atau modifikasi konstruksi. Untuk diketahui, pada proses konversi dari minyak tanah ke batu bara, petani harus melakukan investasi pembelian tungku gasifikasi dan modifikasi konstruksi oven dengan biaya tidak kurang dari 12 juta rupiah. Demikin juga ketika menggunakan kayu bakar dan limbah pertanian, diperlukan modifikasi oven dengan penambahan alat penukar panas serta tungku kayu khusus.

Berdasarkan pengalaman lapangan, struktur harga bahan bakar juga sangat bergejolak pada musim pengomprongan. Sebagai contoh, pada musim omprongan 2009, ketika minyak tanah subsidi masih tersedia, harga minyak tanah yang sedianya Rp3500/kg bisa melonjak mencapai Rp8000/kg pada musim pengomprongan. Hal ini terjadi akibat kelangkaan bahan bakar. Jika hal ini terjadi maka sangat sulit untuk membuat estimasi biaya, kecuali jika penjual bahan bakar bisa menjamin ketersediaan bahan baku dan tingkat harga. Hal demikian juga dapat terjadi jika petani beralih ke bahan bakar yang ketersediaannya terbatas lainnya, seperti kayu dan limbah pertanian. Oleh karena itu, skema pengovenan saat ini mengarah ke sistem multi bahan bakar sehingga jika satu bahan bakar terbatas dapat digantikan bahan bakar lainnya.

Contoh skema pembiayaan bahan bakar campuran LPG-Batubara

Sebagai contoh, berikut penulis kutipkan analisis pembiayaan pengomprongan tembakau menggunakan bahan bakar campuran LPG-batubara. Sistem ini ditawarkan oleh salah satu perusahan mitra petani tembakau di lombok.

Teknik pengovenan

Pengovenan tembakau dilakukan dengan prosedur biasa, yang berbeda hanyalah bahan-bakarnya saja. Pada sistem ini bahan bakar yang digunakan bukan minyak tanah atau kayu melainkan gas LPG dicampur dengan batu bara. Pembakaran LPG menggunakan dua jenis kompor yaitu kompor penguning dan kompor pengejos. Kompor penguning digunakan pada kondisi pengovenan yang tidak memerlukan suhu tinggi sedangkan kompor pengejos digunakan pada suhu tinggi untuk membantu peningkatan suhu. Sedangkan batu bara digunakan untuk mempertahankan panas dan dibakar pada lubang api dan tidak memerlukan kompor khusus. Dengan demikian teknik ini tidak memerlukan perubahan desain konstruksi oven untuk memasang alat penukar panas di bagian bawah oven seperti yang dilakukan pada pengovenan menggunakan bahan bakar batubara (gasifikasi) atau kayu.

Kebutuhan bahan bakar

Secara umum sangat sulit untuk memberikan data mengenai kebutuhan bahan bakar. Kebutuhan bahan bakar sangat ditentukan oleh kondisi bahan baku, desain oven, teknik pengovenan dan kondisi cuaca. Namun demikian berdasarkan pengalaman oleh lebih dari 300 petani mitra KPT-Virginia pada musim pengovenan sebelumnya (2009), dapat dirincikan kebutuhan bahan bakar untuk sekali pengovenan sebagai berikut:
•    3 tabung @ 50 kg.
•    Briket batu bara 30 dus.

Peralatan

Untuk dapat melaksanakan pengovenan tembakau virnia menggunakan bahan bakar campuran LPG dan batu bara tidak diperlukan perubahan konstruksi pada oven. Peralatan tambahan yang diperlukan adalah  satu set kompor gas LPG. Jika belum memiliki termometer, untuk memonitor kondisi krosok, bagi petani mitra yang berminat dapat membeli termometer digital dengan harga yang sangat ekonomis.

Rincian harga peralatan, bahan-bakar dan biaya pengomprongan

•    Satu set kompor LPG, Rp2.8000.000,- (Garansi 3 tahun)
•    Tabung LPG non-subsidi kapasitas 50 kg, Rp495.000,-
•    Batu bara bentuk briket, Rp32.500,-
•    1 set termometer (jika diperlukan), Rp200.000,-
Biaya sekali pengovenan (bukan satu musim)=3xRp495.000 + 30x Rp32.500 =Rp2.460.000,- Ketersediaan bahan bakar terjamin untuk setidaknya 5000 petani.

Analisis harga

Berdasarkan data kebutuhan bahan bakar diatas, kayu merupakan alternatif bahan bakar yang paling ekonomis. Namun demikian penggunaan kayu dilarang keras oleh pemerintah dan ketersediaannya sangat terbatas. Dengan demikian sangat besar kemungkinan terjadinya kelangkaan bahan bakar kayu sehingga harganya menjadi sangat tinggi. Setelah kayu, batu bara merupakan opsi selanjutnya. Untuk dapat menggunakan batu bara, diperlukan tungku gasifikasi khusus yang harganya sangat tinggi (6-12 juta). Selain itu, perlu dilakukan perubahan konstruksi tembakau dengan biaya tidak kurang dari 12 juta rupiah. Kualitas tungku juga sangat diragukan karena dibuat berdasarkan tender pemerintah yang dilakukan secara terburu-buru. Selain itu, belum ada satupun perusahaan penyedia tungku yang produknya pernah digunakan secara luas oleh petani tembakau. Dengan demikian resiko terjadinya kegagalan menggunakan tungku gasifikasi batu bara sangat besar. Oleh karena itu, opsi penggunaan sistem campuran bahan bakar LPG dan batu bara seperti yang kami tawarkan merupakan opsi yang paling menarik dan ekonomis.

Prosedur kemitraan, servis dan pelayanan

  • Petani yang berminat menjadi mitra diharuskan mengisi formulir pendaftaran dengan mengisi biodata lengkap dan nomor kontak.
  • Sebagai bukti kemitraan petani memberikan pembayaran untuk satu set kompor gas sebesar dua juta delapan ratus ribu rupiah.
  • Petani mitra akan mendapatkan pelatihan teknis tahap awal mengenai tata-cara pengovenan menggunakan bahan bakar LPG-batu bara.
  • Untuk mendapatkan bahan bakar, petani cukup menghubungi pihak supplier dan seluruh pesanan akan dihantarkan ke tempat pengovenan.
  • Petani akan mendapatkan pendampingan secara langsung selama 1 x 24 jam jika terdapat pertanyaan, keluhan atau permasalahan teknis selama pengomprongan. Tim KPT virginia akan langsung datang membantu penyelesaian masalah yang dihadapi.

Informasi lebih lanjut tentang pengomprongan tembakau LPG-batubara: http://www.kptvirginia.com

Informasi lebih lengkap dan terstruktur mengenai Tembakau Virginia dapat dilihat pada link berikut.

.

2 Comments

  1. July 17, 2012 at 11:37 pm

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Ulasan Pak Doktor ini menggambarkan kecintaan pada daerah dan masyarakat, semoga Allah mengganjarnya berlipat ganda.

    Para pencita yang juga berkenan meluangkan fikiran, tenaga dan bahkan hartanya perlu bertemu serius untuk beberapa hal:

    1. mencarikan solusi paska pencabutan subsidi minyak tanah tahun depan, apapun alasannya hal ini akan menimbulkan huru hara jika tak segera ditemukan penggantinya;

    2. Lombok perlu memiliki Pusat penyedia bahan bakar untuk keperluan para petani tembakau ini, apapun bentuk bahan bakar itu jika tidak maka masyarakat akan melakukan beberapa alternatif yang miris dari segi ekonomi:
    a. Tidak mau menanam lagi;
    b. Merusak lingkungan dengan illegal logingnya;
    c. Menanam dan membeli bahan bakar berapapun harganya sehingga kepastian merugi dan bangkrut;

    3. Lombok memiliki pusat pengomprongan yang menerima order pengomprongan dari petani dengan jaminan harga dan kwalitas yang baik;

    4. Lombok memiliki pusat riset utk menunjang efisiensi seluruh proses;

    ***saat ini tiang sedang membibitkan sepuluh juta bibit pohon CEPAT TUMBUH DAN BERKEMBANG untuk sesegera mungkin membangun HUTAN KAYU BAKAR di ex bencana alam Sambelia dst…/kemungkinan bisa produksi sekitar lima tahun kedepan >>> ADAKAH USUL SARAN DARI PAK DOKTOR dan Kawan-kawan para pencinta?

    Saya menunggu

  2. hasanainjuaini said,

    July 17, 2012 at 11:42 pm

    Reblogged this on Hasanain Juaini's Media.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: