Pesimis vs optimis

Lagu Panggung Sandiwara mungkin paling tepat menggambarkan bagaimana media di indonesia baik elektronik, cetak maupun online menyedot perhatian masyarakat indonesia dari isu demi isu yang menyesakkan. Mudahnya informasi disebar dan diakses menyebabkan kita terus-menerus (dipaksa) menerima dan mencerna informasi tersebut. Informasi yang masuk menjadi bahan makanan urgen untuk dicerna oleh otak sehingga menguras pikiran dan tentunya energi.

Optimist vs Pessimist

Optimist vs Pessimist

Informasi semacam ini bertingkat-tingkat dari level antar-bangsa sampai ke level keluarga. Seorang pengamat dunia islam memberikan perspektif keterpurukan islam di panggung internasional, misalnya tragedi palestina, pemisahan sudah, kerusuhan di tunisia dan isu-isu lainnya. Sementara dalam skala nasional kasus Gayus merupakan isu primadona media, terus menerus terpampang di media cetak dan online, juga di media elektronik. Beberapa hari yang lalu sepulang dari kampus, istri saya menceritakan kejadian titip-menitip keluarga untuk bekerja sebagai pegawai kontrak di instansi pemerintah. Titip menitip ini tentu saja melibatkan uang pelicin yang jumlahnya tidak sedikit. Secara tidak berperasaan hal seperti ini melukai nilai keadilanūüė¶. Kita dihadapkan kepada begitu banyak persoalan publik yang begitu menyita emosi dan energi setiap hari.

Menghadapi keadaan seperti ini, sebenarnya memberikan dampak yang sangat buruk. Dampaknya berskala menengah, tidak kita rasakan langsung karena menyerang mentalitas kita. Kita bisa saja memberikan respon langsung berupa bentuk kekecewaan. Namun tentusaja itu tidak serta-merta menyelesaikan persoalan. Paling hanya membebaskan kita dari emosi sesaat. Dampak yang lebih menakutkan justru yang jangka menengah atau panjang (jika berlanjut). Terus-menerus melihat kegagalan, kekacauan dan ketidakteraturan yang terjadi di sekitar kita membuat kita menjadi biasa dengan keadaan seperti itu. Standar capaian yang kita tempatkan pada diri kita menjadi jauh turun karena begitulah yang ada disekitar kita.Dari memberikan yang terbaik menjadi asal tidak korupsi; melayani sebaik-baiknya menjadi asal melayani, dst.

Bagi mereka yang berfikir tentang trend ke depan, tentunya hal-hal seperti ini memberikan indikasi buruk. Kita menginginkan sesuatu yang ideal, sangat baik atau mungkin baik di masa yang akan datang. Namun apa yang terjadi di sekeliling kita justru membuat kita menilai bahwa sesuatu malah memburuk, dan apa yang dicita-citakan mana mungkin bisa dicapai. Perasaan semacam ini, saya anggap sebagai bentuk pesimisme.

Seoarang kawan di Brussel mengekspresikan kekecewaannya dengan isu-isu yang terjadi di Indonesia. Meskipun dia berusaha tidak membaca berita, namun tetap saja, entah bagaimana caranya¬† iberita-berita itu dia dapatkan yang tentunya berujung kekecewaan, kekesalah, …… Saya pribadi juga melakukan hal yang sama. Daripada harus kecewa, lalu terjerembab jadi pesimis saya cenderung menutup akses terhadap berita buruk seperti itu. Namun tetap saja— saya terima juga, baik melalui chatting atau diskusi langsung dengan teman-teman. Lebih parah lagi bahwa kita cenderung lebih mudah mengingat berita buruk dibandingkan berita baik.

Saya berusaha untuk tetap menyimpan berita baik, meskipun terlepas dari ingatan namun tetap saya jaga di inbox email saya. Di balik bejubelnya berita-berita buruk, ternyata banyak juga berita-berita baik. Indonesia tidak melulu diisi oleh oportunis, namun juga diisi oleh orang jujur dan ikhlas bekerja. Teman-teman I4 telah sukses mengadakan pertemuan pertama ilmuan indonesia internasional yang juga disertai dengan menghadirkan mereka di acara talk show Kick Andy. Pada guru relawan IM sudah mulai berbagi cerita inspiratif mereka  tentang mutiara-mutiara cemerlang, putra-putri pertiwi yang mereka didik di wilayah terpencil indonesia. PPI belanda bergiat menerbitkan majalah online jong Indonesia, 1000guru juga menerbitkan majalah untuk pelajar Jong Indonesia, PPI Dunia segera bergelian melauncing websitenya. Tentunya, dipelosok-pelosok negeri, ditepian hutan ditengah sawah, ditengah danau dan di hamparan samudra, mereka yang jauh dari hingar bingar politik menikmati keadaan dirinya. Bekerja dengan ikhlas dan penuh semangat untuk menafkahkan keluarganya.

Saya hanya ingin mengingatkan diri saya bahwa dibalik carut-marut peristiwa buruk yang mengapung dipermukaan, ada lebih banyak hal-hal baik jauh didasarnya. Jangan sampai perasaan kecewa, marah menjerumuskan kita ke sifat pesimis yang membuat kita kehilangan harapan tentang apa-apa yang ingin kita capai di masa mendatang. Tetaplah optimis kawan!!!

Selamat berkarya!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s