Biourine atau Urin Sebagai Pupuk Organik Cair: Memilih Alternatif yang Lebih Baik

Biourin merupakan istilah yang populer dikalangan para pengembang pertanian organik. Biourin merupakan urin yang diambil dari ternak, terutama rumansia yang terlebih dahulu di fermentasi sebelum digunakan. Ketika dicari lebih lanjut, informasi tentang biourin ini telah banyak ditulis di blog-blog pribadi bahkan diliput oleh media cetak seperti di The Jakarta Post. Meskipun penulis telah lama mendengar tentang konsep ini, namun baru-baru ini sempat mendalami lebih lanjut.

Urin sebagai pupuk?

Urin sebagai pupuk?

Kritik tentang proses produksi
Membaca tentang proses produksi biourine yang dipublikasikan melalui blog-blog menggelitik penulis untuk mengkritisinya. Secara umum, proses pembuatan biourine dari sumber berikut (dengan sedikit modifikasi) dirinci sebagai berikut:

Bahan-bahan:

  • Air Kencing/Urine Sapi yang ditampung dalam Bak Penampungan
  • Fermentor RB (Rummino Bacillus) dan AZBA (Azotobacter)
  • Pompa
  • Nutrisi tambahan (Tetes Tebu/Molasses 750 ml, dan empon-empon seperti temulawak, Temuireng, Kunyit dll) 5kg.
  • Aerator Bio Urine

Teknik Produksinya :

  • Tampung Urine (Air Kencing) ternak sapi di dalam Bak Penampungan.
  • Masukkan nutrisi tambahan.
  • Masukkan Fermentor (RB dan AZBA) kedalam bak penampungan Urine, dengan takaran Untuk 800 Liter urine di fermentasi dengan RB : 1 Liter dan AZBA : 1 Liter
  • Diaduk dengan Aerator selama 3 sampai dengan 4 Jam
  • Setelah proses pengadukan selesai, Bak ditutup dengan penutup seperti plastik atau triplek, untuk proses Fermentasi, diamkan hingga 7 hari.
  • Aduk selama 15 menit setiap hari sampai hari ke-7.
  • Pada hari ke-8, urine diputar dengan pompa menuju tangga aerasi selama 6 sampai dengan 7 jam dengan tujuan untuk penipisan, untuk mengurangi kandungan gas ammonia yang berbahaya bagi tanaman.
  • Urine bisa diambil dan dikemas dalam wadah untuk selanjutnya digunakan atau disimpan.

Setelah mencari-cari lebih jauh sumber yang lebih kuat mengenai biourin penulis dapatkan di Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol.  30, Np. 6 tahun 2008. Makalah ini menjelaskan secara lebih rinci mengenai proses pembuatan dengan hasil pengujian lapangan. Lebih lanjut jika urin dicampur dengan kotoran ternak dapat dibuat biokultur. Pencampuran ini sepertinya ditujukan untuk menyediakan/menggantikan/menambahkan nutrisi seperti pada proses yang disebutkan sebelumnya. Analisis unsur N menunjukkan bahwa proses fermentasi dapat meningkatkan ketersediaan unsur N pada biourin dibandingkan dengan urine. Hal ini dijelaskan sebagai akibat dari pengikatan nitrogen dari udara oleh RB dan AZBA. AZBA merupakan mikroba diazotrop yang berfungsi mengikat gas nitrogen dari udara sedangkan BR merupakan campuran dari 2 bakteri, yaitu Rummino Coccus yang memiliki fungsi sebagai dekomposer dan Bacillus thuringiensis yang berfungsi sebagai dekomposer, serta merupakan biofestisida, yang membantu memproteksi tanaman dari gangguan bakteri-bakteri pathogen (sumber).

Lebih lanjut, hasil percobaan lapangan menujukkan peningkatan produktifitas pertanian yang cukup mencengangkan. Too good to be true. Percobaan pada tanaman jagung, bawang merah, kopi dan kakau menujukkan peningkatan produktifitas sekurang-kurangnya 25% jika dibandingkan dengan kontrol. Berdasarkan proses dan hasil tersebut, dapat disimpulkan (sementara) bahwa biourin diperoleh dari fermentasi anaerobik dari urine dengan nutrisi tambahan menggunakan mikroba pengikat nitrogen dan mikroba dekomposer lainnya. Dengan demikian kandungan unsur nitrogen dalam biourin akan lebih tinggi dibandingkan dengan pada urine.

Sekilas, penambahan nitrogen dengan strategi diatas memang tampak sangat memungkinkan, namun demikian jika melihat sifat-sifat dari AZBA, fiksasi nitrogen hanya dimungkinkan jika tidak terdapat sumber N pada media pertumbuhannya. Jika terdapat sumber N lain seperti amonium, nitrat atau nitrit maka proses fiksasi tidak dimungkinkan. AZBA akan menggunakan sumber N tersebut sebagai nutrisi (sumber). Dengan demikian fermentasi lanjut urine, bukannya meningkatkan ketersediaan unsur N terlarut malah sebaliknya, N akan dikonsumsi oleh inokulan yang ada. Selain itu, pertumbuhan inokulan juga akan terhambat oleh keberadaan amonium yang terbentuk dari hasil penguraian urea oleh enzim urease. Jadi penambahan BR juga sebenarnya tidak akan efektif karena pertumbuhannya akan terhambat akibat meningkatnya pH larutan. Lebih lanjut pada pH tinggi amonium yang terbentuk dari dekomposisi urea akan semakin mudah menguap. Akibatnya kandungan N akan semakin berkurang tidak hanya melalui penguapan amonium tetapi juga melalui pengambilan sumber N oleh inokulum.

Pemakaian biourine/urin di negara-negara maju (Telaah Literatur)
Jika menelusuri literatur di jurnal ilmiah, biourine yang diperoleh menurut proses diatas justru tidak ditemukan. Di sebagian besar negara-negara Eropa, terutama di skandinavia, urine manusia justru digunakan secara langsung (tanpa fermentasi) setelah dilarutkan dengan air sebagai pupuk pertanian. Pemakaian urin ini, diproyeksikan menggantikan kebutuhan pupuk urea sebesar 10-20%.

Idea penggunaan urine sebagai pupuk sudah lazim dan justru populer dalam jurnal-jurnal ilmiah diawal abad ke-19. Aplikasinya justru dilakukan beberapa dekade terakhir ini dengan alasan untuk mengurangi keberadaan N pada limbah cair. Keberadaan N dalam jumlah besar memerlukan teknik pengolahan limbah yang jauh lebih kompleks dan lebih mahal (Nitrifikasi, denitrifikasi). Oleh karena itu, pemisahan urine yang berkontribusi besar terhadap keberadaan N pada limbah cair dipisahkan sejak awal. Biasanya dilakukan dengan memisah saluran urine dan feaces pada toilet.

Urine sangat baik digunakan sebagai pupuk organik cair karena memiliki kandungan hara yang lengkap. meskipun fluktuatif bergantung pada lokasi dan sumbernya (manusia), Kandungan N sekitar 1.5-2% serta P dan Snya 0.15-0.2%. Unsur N nya 75-90% berada sebagai urea asedangkan sisanya dalam bentuk amonium atau kreatinin. Sedangnkan P dan S hampir 90-100% berbentuk inorganik terlarut serta secara langsung dapat dikonsumsi oleh tumbuhan. Adanya aktifitas urease menyebabkan terjadinya dekomposisi secara cepat menjadi air dan amonium. Reaksi ini memicu meningkatnya pH sampai 9 dan meningkatkan penguapan amonium serta menurunkan populasi bakteri.

Dalam pemakaiannya urine disarankan tidak ditebarkan secara langsung tetapi dilarutkan 10-20 kali. Pemakaian urin tidak terlebih dahulu melalui fermentasi menjadi biourin sebagaimana yang populer di Indonesia. Hasil uji coba penanaman menunjukkan bahwa produktifitas lahan biasanya setara dengan pupuk kimia. pemakaian urin sebagai pupuk diformulasikan ekivalen dengan jumlah N yang diberikan di pupuk inorganik. Pemakaian urin memiliki kelebihan dengan meningkatkan resistensi tanaman terhadap hama dan mengurangi populasi hama pengganggu. Hal ini diakibatkan karena Urine juga mengandung nutrisi mikro lainnya yang secara kumulatif memberikan dampak merugikan bagi hama tanaman.

Referensi bisa diunduh disni.

12 Comments

  1. February 22, 2011 at 1:37 pm

    Alhamdulillah , , , mudahan banyak berguna khususnya tiang pribadi dan juga buat kawan2 lain yang peduli pada nasib para petani yang makin terbebani biaya produksi yang terus meningkat
    terima kasih
    wassalam , , ,

    • M Roil BILAD said,

      February 22, 2011 at 1:54 pm

      Insyaalloh saya akan lampirkan beberapa publikasi yang bersesuaian. Lebih detailnya bisa dilihat disana.

  2. Zarwazi said,

    February 23, 2011 at 3:42 am

    Terima kasih Bajang Roil…smoga bermanfaat…akan saya jadikan tambahan sumber utk bahan pengembangan pertanian Organik…

  3. faizal said,

    June 12, 2011 at 2:11 am

    Oh ternyata fermentasi malah bisa mengurangi kandungan N ya? Lalu bagaimana dengan penelitian-penelitian yg ada yang menunjukkan bahwa proses fermentasi berhasil menciptakan pupuk yg bagus utk tanaman, apakah penelitian itu tidak valid?

    Tapi selama ini, saya juga menggunakan urine terlarut (tanpa fermentasi) utk tanaman cabe, alhamdulillah menunjukkan hasil yg signifikan dalam pertumbuhannya. Dahulu, waktu belum diberi urine, pohon cabe tidak pernah menunjukkan adanya pertumbuhan daun baru di pucuknya. namun, begitu menggunakan urine, tanaman cabe saya tidak pernah berhenti mengeluarkan daun baru.

    • M Roil BILAD said,

      June 12, 2011 at 5:06 pm

      Saya pikir metodenya yang salah. Saya lakukaan telaah pustaka juga karena proses fermentasinya tidak masuk akal🙂
      Kalau memang sudah membuktikan pemupukan urin segar (dicampur air), berarti mendukung hipotesis saya.

      Mohon sharing pengalamannya juga ya🙂

  4. M Roil BILAD said,

    August 24, 2011 at 11:20 am

    Asalamualaikum, mas, saya petani kelapa sawit dan memelihara 6 ekor sapi. Saya juga membuat bio urine dari kencing sapi dengan produksi rata2 200 liter per 2 minggu. Hanya sayang, saya tidak tahu bagaimana caranya potensi ini dapat dijadikan satu sumber pendapatan yang menguntungkan.
    Tks, wasalam.
    parluji05@yahoo.com/0741-64755

    ———————————————————————-

    aalaikum salam,

    Pemasaran urin (bukan biourin) sebagai pupuk cair memang sepertinya agak sulit. Paling banyak urin digunakan untuk keperluan sendiri. Jika mengasumsikan bahwa urin dijadikan sebagai sumber asupan N, maka urin akan jadi jauh lebih ekonomis. Jika dibandingkan dengan urea yang mengandung sekitar 46% N maka satu kilogram urea setara dengan sekitar 23 liter urin. Jika urea bersubsidi berharga Rp.2200 per kilogram (berdasarkan harga eceran tertinggi), maka urin akan dihargai sekitar Rp.100 per liter. Jadi sangat tidak ekonomis.

    Namun, urin sebagai pupuk cair bisa jadi ekonomis untuk pasar tertentu, misalkan untuk pupuk taman. Jika dikemas dengan baik dan dijual berpaketan dengan kompos mungkin bisa memeliki daya jual dan menguntungkan. Saya doakan agar pak Parluji tetap istikomah memanfaatkan limbah untuk pertanian.

  5. ira susanti said,

    October 16, 2011 at 4:50 am

    Asslkm wrwb.. mas, tp bagaimana ya pengaruh feses yang biasanya bercampur dengan urin sapi. apakah ada pengaruhnya, bila diaplikasikan pada tanaman…

  6. wibowo said,

    February 28, 2012 at 7:03 am

    Di mana saya bisa mandapatkan Rummino Bacillus dan azobacter..saya tinggal di jakarta

    • M Roil BILAD said,

      February 29, 2012 at 11:25 am

      Saya kurang tahu pak, tapi berdasarkan artikel itu, seharusnya bs didapat di BPTP bali.

  7. Septiandy said,

    April 16, 2012 at 12:56 am

    Terima kasih mas roil atas artikelnya yang sangat bermanfaat bagi pengembangan pertanian organik di Indonesia, dan membantu para petani untuk memperoleh pupuk organik yang terjangkau


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: