Eat,Pray, Love; Then What? Posisi kaum terdidik melihat realita masyarakat yang menjadi buruh di atas tanah sendiri

Dibalik semakin ganasnya tantangan dan cobaan hidup, banyak hal indah dan patut kita syukuri hidup di zamannya Gates (Microsoft), Page dan Brin (Google) dan Zuckerberg. Teknologi informasi yang semakin maju memungkinkan kita untuk belajar dan mendapatkan inspirasi dari orang-orang terbaik. Saya pernah begitu terkesima menyaksikan Elizabeth Gilbert menyajikan tema kreatifitas dalam sebuah presentasi di acara TED. Pesonanya menyampaikan gagasan orisinal tentang kreatifitas, menggiring saya untuk mengetahui lebih jauh tentang dia, lalu membaca karya-karyanya.

Eat Pray Love, sudah lama saya dengar namun tidak saya pedulikan, meskipun menjadi best seller selama 166 minggu di NY times. Ternyata best seller juga di indonesia. Berkelebat di ingatan saya, kalau buku tersebut sudah tersusun di rak buku kaka ipar saya. Penyajiannya yang hidup dan aduhai, penuh inspirasi, terasa nyata membuai pembaca sehingga tidak hanya inspirasi yang tersiar namun juga promosi dari pembacanya. “Beli, baca, bagus loch, pasti suka juga”, promosi jenis apa lagi yang paling baik selain dari mulut ke mulut?

Di satu pulau sebelah timur bali dimana Eilzabeth Gilbert akhirnya menemukan cintanya, menjulang tinggi gunung rinjani. Di sembalun punggung rinjani, bayangkan seorang petani pulang sumringah dari ladangnya. Baru saja dia selesai menaikkan berton-ton hasil kentangnya ke truk untuk dipasok ke indofood sebagai penadah. Di tengah jalan, dia membeli sebungkus potato chips produk indofood. Sepuluh ribu rupiah, diraguh tanpa ragu dari saku belakang celananya. Apalah arti selembar kertas ini, dibandingkan senyum sumringah anaknya yang mungkin hanya sekali setahun merasakan produk ini. Petani ini tidak pernah sanggup mengerti arti label yang tercetak jelas di kemasan chips itu, berat bersih 100 gram. Dia tidak pernah tahu, bahwa chips yang dibelinya itu setara harganya dengan 10 kg kentang yang dia produksi setiap hari. Added value-nya 100 kali!!! Jangan juga tanya kepadanya tentang apa itu added values (nilai tambah). Dia pastinya tidak tahu, added values hanya dibahas oleh para professor doktor dibangku kuliah, kemudian disegel di menara gading yang bernama universitas dalam lembar-lembar jawaban ujian akhir. Ilmu ini cukup berakhir di sana, bukan konsumsi petani, anak petani atau teman-teman mereka. Bagi petani dan kroni-kroni-nya, berhutang modal dari penadah di awal musim tanam, lalu bekerja sekeras-kerasnya agar panen melimpah hingga hutang bisa tertutupi dari penjualan setoran hasil panen. Setiap musim tanam adalah pertaruhan besar agar dapur mengepul dan anak bersekolah.

Terdengar familiar bukan? Jika tidak, kita harus perjelas penglihatan, pertajam pikiran, bangunkan empati, perbanyak membaca, dan jangan sungkan untuk bertanya. Dari tanjung sampai sajang (lombok timur) ribuan hektar jambu mente dan kakao menghasilkan ratusan hingga ribuan ton biji yang dikirim ke jawa, lalu kembali dalam bungkusan-bungkusan silver queen. Tidak terbeli oleh sebagian besar masyarakat yang memproduksi bahan bakunya. Di amoramor, ribuan ton batu apung diangkut ke luar negeri, lalu kembali dalam bentuk aneka ragam kosmetik, juga tidak terbeli oleh buruh tambang batu apung dan sebagian masyarakat NTB. Aliran air dari kawah rinjani jadi bancakan investor jakarta dan asing. Mereka membangun pembangkit-pembangkit listrik mini- dan mikro-hidro untuk dijual ke PLN. Ujung-ujungnya masyarakat umum juga yang akan ditagih PLN, uang lalu mengalir ke investor-investor luar tersebut. Panas bumi di bantaran punggung rinjani juga jadi bancakan pengusaha industri berat korea. Mereka tahu duit, apasih susahnya mendaki rinjani jika berbaloi ROI (return on investment) dan keuntungan yang berlipat-lipat. Dan masih banyak lagi, tak akan selesai tulisan ini jika harus dirinci satu per satu.*

Fenomena serupa berserakan di sekitar kita, namun cara kita untuk merespon hal tersebut berbeda-beda, tentunya sesuai dengan kapasitas masing-masing. Sebagian besar kaum terdidik melihatnya sebagai hal biasa, normal, tidak ada yang salah sama sekali. Bukan karena tidak peduli, tapi bisa jadi karena IQ jongkok mereka yang tidak mampu melihat, dan memformulasikan masalah. Sebagian kaum terdidik lain tidak risih, juga tidak sedih dan khawatir, karena terpenjara di dalam tempurung kepalanya pikiran picik, bahwa memang sudah semestinya begitu. Golongan ini harus kita buang predikatnya sebagai kaum terdidik, karena orang terdidik itu harus lurus sejak dalam pikirannya.

Di atas keduanya ada kaum terdidik pemandu sorak, mungkin termasuk penulis sendiri. Mereka berteriak-teriak gamang, beretorika lantang, dan beropini cemerlang.
“Hal ini tidak boleh terus terjadi.”
“Haram hukumnya bagi kita untuk jadi penonton atau buruh di tanah kita sendiri.”
“Apa bedanya dengan jaman sebelum merdeka, dimana perusahan belanda VOC berniaga di bumi nusantara.”
“Jika dulu kita sebut mereka penjajah, maka yang terjadi sekarang adalah sebuah bentuk penjajahan baru, invasi ekonomi.”
Blah blah blah ….., terus saja dari alif sampai ya, jadi pemandu sorak paling hebat sedunia. Menunjuk pihak yang salah merupakan langkah cuci tangan paling klasik yang biasa dilakukan. Mereka takut berjanji kepada diri sendiri, apalagi bersumpah pada tanah tumpah darah untuk membayar lunas semua mimpi. Cita-cita besar dan ide brilian, yang dititiskan sebagai solusi dari puncak permasalahan yang disaksikan, jadi omong kosong saja. Jika ada masalah, mereka menunjuk porsi kesalahan semua pihak dengan jari kelingking hingga jari telunjuk; lalu ibu jari  disisakan untuk dirinya sendiri.

Mereka sedikit lebih baik dari kelompok sebelumnya. Ilmu yang dikuasainya memampukan mereka untuk melihat masalah, lalu menyuarakannya namun mengandalkan kelompok lain bertindak menyelesaikannya. Mereka bisa bangun aliansi, bikin kelompok, pimpin demonstrasi, namun tidak pernah mampu menjadi bagian dari solusi. Mereka terekstasi terbang tinggi, namun serta merta jatuh terhenti tanpa berbuat apapun juga.
Bagian paling kecil, namun yang justru paling kita butuhkan adalah kaum terdidik yang terjun jadi praktisi, berwirausaha. Mereka adalah orang-orang yang berkomitmen. Bekal ilmu mereka dipakai untuk berkarya dan memberikan solusi bagi masalah yang ada di sekitarnya. Di lingkungan masyarakat yang mengalami penyakit inferior komplek seperti di NTB, mereka adalah cahaya menginspirasi masa depan. Tidak banyak yang mampu kita tulis tentang mereka, karena sesungguhnya mereka lebih senang bekerja dari pada bicara, apalagi diceritakan, ditulis atau disebut-sebut.

Puluhan bahkan mungkin mungkin ratusan ribu masyarakat Indonesia membeli dan membaca buku Eat Pray Love. Namun mungkin hanya secuil dari itu yang membaca lanjutannya. Committed, sekuel Eat Pray Love bukan best seller, seperti pendahulunya. Mayoritas pembaca hanya berhenti pada ekstasi bermandikan adrenalin di eat pray love, lalu berhenti di situ saja. Mereka lupa, bahwa di balik itu semua hal lain yang diperlukan adalah berkomitmen.

30 Juli 2012, 11 Ramadhan 1433 Hijrah
M. Roil Bilad

* Paragraf ini saya ringkas dari posting inspiratif Adelina Melinda di FDMN. Tulisan ini juga terinspirasi dari posting tersebut. Saya tulis sebagai cermin untuk diri sendiri; sebagai nasihat untuk memegang teguh komitmen.

5 Comments

  1. lmarbelia said,

    July 30, 2012 at 3:07 pm

    supeer sekali mas Roil. didoakan, smoga yg dicita-citakan tercapai.
    skrg jadi pemandu sorak dl gpp. ntar ada waktunya jd kaum terdidik level “paling atas”. amiin.

    btw, saya termasuk golongan yg jelek ini. baca eat pray love, belum baca committed. hahaha. skrg masuk di waiting list buku baca saya.😀

    • M Roil BILAD said,

      July 30, 2012 at 3:08 pm

      Masak-masak…..🙂 Saya belum klik publish sudah dikomentari :p

      • lmarbelia said,

        July 30, 2012 at 4:31 pm

        lha.. belum di publish kok uda ada notifikasi k email saya :p
        yaaa… ni lg siap2… enaak, dibuatin candil ma mbak atun😀😀

  2. sanjaya said,

    August 2, 2012 at 1:13 pm

    assalamu’alaikum mas Roil, saya setuju pendapat mas Roil…smoga saya masih bisa “membaca” kelanjutan “story” dari keadaan yg demikian. bagaimana mas seandainya memang masyrkat terdidik didalam negeri memang sudah kepayahan tergempur arus ganasnya kapitalism? bahkan saya pun pernah bfikir, …saya kalah karena di negeri saya sulit menjaminkan hidup sementara saya dituntut Tuhan melanjutkan generasi saya, jadi saya ikuti perintah Tuhan…(singkatnya..mengurusi kewajiban saya dengan Tuhan, bukan dengan negeri ini yg suka main-main dan tidak serius…..)

  3. Yudi MD said,

    September 13, 2012 at 11:35 am

    “Jika ada masalah, mereka menunjuk porsi kesalahan semua pihak dengan jari kelingking hingga jari telunjuk; lalu ibu jari disisakan untuk dirinya sendiri”…ini kata kuncinya…! alias NATO dan mencerca secara vulgar dan sarkasme kelompok/komunitas/orang lain yang notabene satu bangsa bahkan AGAMA…! (ada posting2 spt ini dari seseorang di FDMN). Belajarlah dari bangsa2 yang sukses dan orang2 spt Dahlan Iskan : kerja…kerja…kerja…!


%d bloggers like this: