Bukan salah paham

Opini ringkas ini ditulis sebagai reaksi atas kerusuhan yang terjadi di sumbawa (Januari 2013)

Untuk kesekian kali kerusuhan mencederai buku rapot keamanan NTB. Kembali lagi, cermin identitas generasi baru terkerak oleh cerita pilu. Setelah isu “penculikan anak” menyabung sekian banyak nyawa, kini datang lagi anarki mencederai hati. Lombok berduka kehilangan banyak nyawa tak berdosa, kini sumbawa rusuh anarkis tersulut oknum tiada berjiwa (1).

Mudah dan murahnya penyebaran informasi melalui media sosial, membuat siapa saja seakan-akan punya otoritas untuk membuat berita dan menyebar-luaskannya tanpa ada cek dan re-cek. Fakta jadi mudah terbumbui dengan opini pembuat berita, apalagi kondisi pada kondisi panik. Masyarakat mudah tersulut emosinya, sehingga gampang terprovokasi. Lalu tidak sedikit oknum-oknum yang memanfaatkan keadaan untuk berbuat semena-mena. Benar dan salah sama samarnya dengan gosip dan fakta, baik dan buruk sudah tidak jelas lagi batasnya. Oknum-oknum bertindak semaunya, anarkis tidak terkendali.

Opini yang berkembang, menjelaskan bahwa kerusuhan ini hanya semata-mata dipicu karena salah paham. Logikanya, akibat kesalahanan informasi, salah dalam memahami lalu salah dalam bertindak. Dengan kata lain, andai saja informasi yang diberikan benar maka tentu saja pemahaman yang diterima benar dan aksi anarkis tidak terjadi.

Salah paham dilandasi oleh satu asumsi kuat bahwa yang menerima informasi punya niat-baik. Jadi, andai informasi dan pemahamannya salah, bukan serta-merta tindakan salah akan dilakukan. Kebaikan bersumber dari nilai-nilai luhur yang dipupuk dan disemaikan dsepanjang hidup alam sanu bari setiap insan. Ia bisa berasal dari ajaran agama, adat istiadat, maupun diadopsi dari luar. Ia menjadi kompas moral yang diacu dalam setiap tindak-tanduk peri kehidupan.

Jika kompas moral tersebut tidak mampu lagi memberikan arah yang tepat, maka bisa jadi seseorang berbuat keliru. Tapi benarkah kerusuhan sumbawa karena salah paham? Masyarakat ingin membela hak seorang korban, lalu pertokoan di jarah dan dibakar, beberapa rumah masyarakat dibakar, ekonomi seketika lumpuh dan kepanikan memenuhi angan-angan masyarakat. Seluruh nilai luhur yang disemaikan oleh ulama, tokoh adat, orang tua dan para guru tidak mampu membendung dari perbuatan rusuh dan anarkis tersebut.

Bisa jadi “salah paham” ini digunakan untuk meredam gejolak, menunjukkan bahwa masalah sesungguhnya sangatlah kecil. Namun, tidak serta-merta membuat kita lalai melakukan diagnosa mendalam.

Apa dan siapa yang salah? Salah satu penjelasannya dapat dilihat menurut kaca mata critical mass (2). Suah terdapat cukup syarat agar sebuah peristiwa yang melibatkan masyarakat kolektif dapat terjadi. Dalam kontek kerusuhan di NTB, peristiwa rusuh sesungguhnya sudah memenuhi semua elemen pembentuknya, yang kurang hanya pemantik untuk memulainya. Oleh karena itu, berita-berita bohong yang tidak jelas sumbernya dengan mudah memantik terjadinya bencana moral seperti ini. Jika memang demikian, maka secara kolektif moral masyarakat kita telah sakit, kondisinya akut dan butuh penyehatan dini. Kompas moral tidak lagi akurat, sehingga benar dan salah sudah tidak jelas batasnya, baik dan buruk sudah jadi satu. Jika ada sebagian masyarakat yang sehat, maka penyakitnya adalah membiarkan orang disekitarnya sakit.

Saatnya kita buka buku lama tentang benar dan salah, baik dan buruk, yang terpuji dan yang terhina. Bisa jadi kita sudah terlalu sombong menilai kapasitas diri, padahal lautan peristiwa tiada jemu memberikan pertanda, bahwa kita sedang sakit akut. Kangker ganas menggerogoti moral kita sehingga kita sudah jauh melampaui batas. Mari asah pikir dengan logika, bahwa tidak semua dapat dipercaya. Mari jabat erat sesama saling bicara berbagi isi kepala, karena bisa jadi obat yang dicari terbagi diantara kita.

M. Roil Bilad
Leuven, 23 Januari 2013

Referensi:
(1) http://www.sumbawanews.com/berita/foto-foto-terkini-pasca-kerusuhan-221-sumbawa
(2) http://en.wikipedia.org/wiki/Critical_mass_%28sociodynamics%29

6 Comments

  1. Tio said,

    January 23, 2013 at 4:44 pm

    semoga lekas selesai persoalannya

  2. Dimas said,

    January 23, 2013 at 5:32 pm

    Kira-kira masalah utamanya apa? Semoga semuanya bisa kembali sedia kala

  3. komarudin01 said,

    January 23, 2013 at 5:56 pm

    Dalam kontek kerusuhan di NTB, peristiwa rusuh sesungguhnya sudah memenuhi semua elemen pembentuknya, yang kurang hanya pemantik untuk memulainya. Boleh minta ditambahkan Bung Roil, elemen pembentuknya apa saja?

  4. lmarbelia said,

    January 24, 2013 at 2:04 am

    Ngeri ya mas Roil. Orang-orang di Indonesia akhir-akhir ini emg reaktif bgt, cepet marah, dan sering perbuatannya jd tidak masuk akal/manusiawi.😦


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: