OK, O.K., Oke, Okey, Okey Dokai, Orangnya Kyai

Entah siapa yang memulai, namun tentunya tren menyingkat idiom atau nama kini menjadi kebiasan umum. Bisa jadi berawal dari usaha mempermudah untuk tidak menulis terlalu panjang dalam layanan pesan singkat (sms) atau twitter yang membatasi jumlah karakter, atau dalam ber-miling-list, sehingga singkatan baru menjamur dimana-mana. Saking populernya, trend ini terkulminasi dengan munculnya generasi 4l4Y (alay). Mereka adalah generasi hiper-kreatif yang over-improvisasi sehingga terlalu susah bagi kalangan non-alay untuk mengerti. Selain irit karakter, singkatan juga mempermudah penyebutan. Dari pada secara penuh menyebut Susilo Bambang Yudhoyono atau Jusuf Kalla, tentu lebih mudah SBY atau JK. Singkatan kian populer dan semerbak mewangi seiring gegap gempita pemilihan langsung a la demokrasi.

Membuat tagline, slogan atau jargon merupakan hal yang gampang-gampang susah. Harus ada semacam chemistry yang berfungsi mengaitkan antara pemberi dan penerima pesan. Tentunya jauh lebih sedikit yang mengingat jargon “Ingat tanggal lima, coblos nomor lima” dari PPP dengan Hamzah Haz sebagai bintang iklannya, dibandingkan dengan “coblos moncong putihnya”, PDI-Perjuangan, dua di antara sekian banyak jargon yang dielu-elukan di era kampanye parpol tahun 2004.

Sebagai calon gubernur yang paling pertama mendeklarasikan diri, Suryadi Jaya Purnama (SJP) menggebrak dengan berbagai variasi selogan kreatif dari kepanjangan inisial namanya. Sebut saja: Serekan Jeri Pemimpin, Sukses Jeri Pemimpin, Siap Jauq Perubahan, dan lain lain. Setelah pasangan-pasangan calon gubernur diresmikan, selogan-selogan kreatif pun semakin bertaburan, seperti Harum, Lanjutkan Ikhtiar, dan lain-lain. Dari semua singkatan-singkatan yang kian populer di pilgub NTB, yang paling menyita perhatian penulis adalah “Zul-Ichsan OK”. “OK untuk Orangnya Kyai”. Ketertarikan ini karena keunikan sejarah dari kata “OK” itu sendiri. Kata OK juga populer melalui kampanye pemilihan langsung presiden Amerika yang kebetulan juga punya banyak kesamaan dengan langkah Zul-Ichsan dalam pilgub NTB 2013.

Allan Metcalf penulis buku “OK: The Improbable Story of America’s Greatest Word” mengklaim bahwa OK adalah kata bahasa Inggris Amerika yang paling sukses di eksport dan paling banyak digunakan di dunia. OK merupakan kata paling penting di Amerika yang (menurut Allan Metcalf) mematri filosofi mereka, merepresentasikan secara luas cara berpikir orang amerika. Semuanya teringkas hanya dalam dua huruf, “O” dan “K”. Sebagai contoh, Amerika punya cara pandang yang sangat pragmatis. Fokus pada pencapaian, meskipun tidak sempurna, indah atau menakjubkan; sekedar cukupun pun tak mengapa. “OK”menggambarkan sesuatu yang netral. “OK” berarti tidak sempurna namun juga tidak kurang.

Dibalik kepopulerannya, sesungguhnya “OK” bukanlah sebuah kata yang “sungguhan”. “OK” berasal dan bermula dari plesetan canda “oll korrect” yang sesungguhnya juga salah (seharusnya “all correct” dan disingkat AC, bukan OK), ironis dari makna “OK” yang kita kenal sekarang. Pelesetan ini, dipublikasikan pada salah satu surat kabar di Boston pada tahun 1839, di masa singkatan-singkatan lucu sedang trendy di negara paman Sam Amerika. Setelah dipublikasikan, singkatan ini seakan hilang termakan waktu dan menemukan momentumnya menjadi terkenal pada masa kampanye pemilihan presiden Amerika tahun 1840. Calon incumben Martin Van Buren menggunakan “OK” sebagai jargon kampanyenya, dan “OK Club” sebagai sebutan untuk kelompok pendukungnya. Dalam hal ini, “OK” merupakan singkatan singkatan dari “Old Kinderhook”, tempat lahir Martin Van Buren di kota New York. Lalu inklusi “OK” dalam kalimat bahasa Inggris pun dimulai, “Are you OK?”, saat itu bukan bermaksud menanyakan kabar, namun tentunya menanyakan keberpihakan mengenai pasangan yang akan dipilih.

Ada beberapa kesamaan lain antara situasi Zulkifli Mahali dengan Martin Van Buren, selain sama sama-sama menggunakan “OK”. Martin Van Buren merupakan satu-satunya calon presiden yang bukan keturunan British atau Irish; Kyai Zul juga bukan sasak. Bahasa ibunya juga bukan Inggris, tapi Belanda; Kyai Zul juga berbahasa ibu bukan-bahasa sasak sebagai etnis mayoritas di NTB.

Pemilihan OK-Orangnya Kyai oleh tim sukses Kyai Zul bisa jadi tidak berhubungan sama sekali dengan sejarah kata “OK” itu sendiri. Kebetulan sekali, “Orangnya Kyai” juga memiliki asosiasi makna yang sangat dekat dengan “OK Club”, meskipun menurut penulis mengandung unsur eksklusivisme sempit. Secara literal bisa berarti, orang yang dibawah kekuasaan Kyai, atau anteknya kyai, …….. atau makna detail lain yang cenderung berasosiasi negatif.

Meskipun sukses mempopulerkan “OK” dengan “OK Club-nya”, Martin Van Buren justru menerima hasil sebaliknya, KO, knock out. Dia gagal terpilih untuk kedua kalinya. Salah satu kekalahan partai demokrat terparah dalam sejarah pemilihan presiden langsung Amerika. Apakah hasil yang sama juga akan diraih oleh Kyai Zul? Kita tunggu saja 13 Mei 2013. Ada yang bilang sejarah selalu berulang, bisa jadi perulangan yang sama terjadi lagi, Kyai Zul di Knock Out dan terkapar di ronde pertama.

Lalu bagaimana dengan pembaca? Are you “OK”? FYI, I am not sure yet. What I am sure is that it is a secret I will never tell 😉

Leuven, 5 Mei 2013
Muhammad Ro’il Bilad

Beberapa referensi:
http://blog.quickanddirtytips.com/2011/09/19/is-ok-okay/
http://en.wikipedia.org/wiki/Martin_Van_Buren
http://en.wikipedia.org/wiki/Okay
http://www.thefreedictionary.com/ok
http://www.nytimes.com/2010/11/21/books/review/Blount-t.html?_r=0

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: