Tembakau Virginia

  1. Budidaya Tembakau Virginia Lombok: Sekelumit Permasalahan dan Alternatif Solusinya
  2. Peluang dan Potensi Agrobisnis Tembakau Virginia
  3. Teknik Pengovenan Tembakau Virginia di Lombok
  4. Permasalahan dan Kendala Utama Petani tembakau Virginia Lombok
  5. Konversi BBMT ke batubara dan Deskripsi mengenai Tungku Gasifikasi yang Umum dan Telah Diperkenalkan Kepada Petani Tembakau
  6. Deskripsi dan Evaluasi Teknologi Pengovenan Tembakau
  7. Antisipasi Mendesak dan Langkah-langkah Strategis Untuk Membantu Petani tembakau Virginia Lombok
  8. Dampak Lingkungan Penggunaan Batubara Sebagai Bahan Bakar Pengomprongan Tembakau Virginia
  9. Analisa biaya bahan bakar untuk pengomprongan tembakau
  10. Slide-show pemrosesan tembakau virginia
  11. Analis kalor pembakaran dan harga berbagai alternatif bahan bakar pengomprongan tembakau virginia
  12. Liputan Khusus: Visi Pengembangan Agroindustri Tembakau Virginia Lombok (1)
  13. Liputan Khusus: Visi Pengembangan Agroindustri Tembakau Virginia Lombok (2)

Oleh: M. Roil Bilad

2. Usulan Konsep Pengelolaan

Meninjau berkembangnya agroindustri tembakau dilombok, kita sesungguhnya sangat bersyukur karena agroindustri tembakau tumbuh secara alami sebagai kegiatan ekonomi produktif tanpa meunggu uluran tangan pemerintah. Kegiatan ini murni didasarkan pada kebutuhan suply-demand. Karena dibutuhkan maka diproduksi sehingga tidak ada kesulitan dalam pemasaran.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana memaksimalkan aktifitas ini sehingga memberikan keuntungan sebesar-besarnya untuk pelaksana produksi dan manfaat turunan bagi masyarakat dan pemerintah NTB secara umum. Momen keterpurukan ini, seharusnya menjadi pemicu kebangkitan bagi para stake-holder agroindustri tembakau lombok untuk bangkit dari keterpurukan secepatnya, dan tidak putus asa.

Untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh, neraca barang dan uang untuk agro industri tembakau dapat dilihat pada Gambar 1.

 

Gambar 1: Neraca barang dan uang agroindustri tembakau di NTB.
Gambar 1: Neraca barang dan uang agroindustri tembakau di NTB.

 

Secara umum kita bisa lihat bahwa produk akhir dari agroindustri tembakau di NTB adalah krosok tembakau. Dana masuk melalui hasil penjualan tersebut dan digunakan untuk: pembelian bahan produksi (pestisida dan pupuk), pembelian bahan bakar dan biaya tenaga sisa. Sedangkan sisanya merupakan keuntungan yang diperoleh oleh pelaku produksi.

Untuk memaksimalkan dampak ekonomi secara langsung maupun tidak langsung, dapat dilakukan sebagai berikut: gunakan bahan bakar pengomprongan yang tidak didapatkan dari luar daerah; dan gunakan bahan produksi (pestisida dan pupuk) sebisanya dari dalam daerah. Dengan demikian perputaran dana tahunan sebesar lebih kurang 1 triliun rupiah tersebut bisa dimaksimalkan dan tidak lari keluar daerah.

2.1 Penyediaan kayu sebagai bahan bakar

Setidaknya sampai saat ini, NTB belum memiliki areal pertambangan batubara. Maka solusi alternatifnya adalah: bioetanol, bio oil dari minyak jarak atau kayu bakar. Solusi pertama dan kedua masih belum feasible saat ini karena masih memerlukan pengembangan terlebih dahulu. Solusi praktisnya adalah menggunakan kayu bakar. Berdasarkan kajian pendahuluan, kayu bakar merupakan alternative yang paling diharamkan. Hal ini dengan dasar pemikiran akan memicu penggalakan liar dan penggundulan hutan. Terlebih lagi teknologi tungku kayu juga belum dioptimalkan sehingga sangat boros. Hasil ujicoba awal menunjukkan dibutuhkan 46 kg kayu untuk setiap satu kilogram omprong tembakau. Sehingga diperlukan sekitar 2,3 juta ton kayu bakar per tahun.

Sejak tahun 2005 beberapa non-goverment organization (NGO) bekerjasama dengan perusahaan rokok di afrika, terutama di Malawi dan Zimbabwe mengembangkan model baru oven tembakau berbahan bakar kayu. Kegiatan ini dilandasi atas masifnya pembalakan hutan yang mengakibatkan dampak lingkungan yang sangat merugikan akibat aktifitas agroindustri tembakau. Pada tahun 2008 mereka berhasil mengembangkan teknologi oven sederhana dibangun seluruhnya dari bahan bakar lokal tanpa menggunakan input listrik sama sekali. Oven ini dinamakan “Rocket Barn” (Oven roket), namanya diambil dari “Rocket stove” (tungku roket), karena pada prinsipnya teknologi oven ini menggunakan prinsip tungku roket tersebut. Dengan menggunakan oven roket tersebut, hanya dibutuhkan 2,6 kg kayu bakar untuk setiap kilo gram krosok yang dihasilkan atau sama dengan hampir dua puluh laki lebih irit dibandingkan dengan oven tradisional berbahan bakar kayu di lombok. Dengan mengadopsi teknologi tersebut, kebutuhan bahan bakar kayu dapat diminimalkan. Gambar oven roket ditunjukkan pada Gambar 2.

 

Gambar 2: Oven tembakau roket di Malawi.
Gambar 2: Oven tembakau roket di Malawi.

 

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita bisa menyediakan bahan bakar kayu yang mencukupi? PT. Sadhana Arif Nusa (SAD) sudah lama mencanangkan pengembangan hutan produksi. Hutan produksi tersebut dikelola dengan maksud agar pada rentang waktu tertentu kita bisa memanen kayunya untuk digunakan sebagai bahan bakar pengomprongan tembakau. Lahan yang sudah ditebangi selanjutnya ditanam kembali untuk dipanen sampai pada waktunya. Ini merupakan solusi yang sangat brilian. Selain berkelanjutan, produk krosok yang dihasilkan juga akan meningkat gradenya dengan eco-labeling karena menggunakan bahan bakar yang sustainable yaitu kayu bakar.

Hutan produktif ini dapat dikembangkan di lahan-lahan kritis non produktif yang mencapai puluhan ribu hektar di NTB. Ini juga menjadi solusi bagi krisis air karena hutan-hutan ini akan menjadi lahan penampungan air tambahan. Selain itu, pengembangan hutan baru ini dapat di klaim sebagai bentuk pengurangan emisi gas rumah kaca melalui pasar karbon internasional. Namun demikian untuk mencapai hal tersebut diperlukan pengelolaan yang professional dan handal.

Pohon turi sepanjang pengetahuan penulis hanya popular di pulau lombok. Program budidaya turi konon pernah dilakukan pemerintah orba dan hanya berhasil di lombok. Kebanyakan orang luar lombok malah banyak yang tidak tahu pohon turi. Pohon turi biasanya ditanam di pematang sawah dalam bentuk tumpang sari. Daun muda dan bunganya dapat digunakan sebagai sayur mayor sedangkan daunnya secara umum digunakan sebagai pakan kambing atau sapi. Selain sangat mudah tumbuh tanpa pemeliharaan, pohon ini juga tumbuh dengan cepat. Dalam waktu 2-3 tahun, pohon ini bias mencapai pertumbuhan maksimalnya. Oleh karena ini Turi meruâkan alternatif potensial untuk ditanam di hutan produksi tersebut. Dengan demikian siklus panen hanya memerlukan waktu 2-3 tahun. Selain itu produk samping non-kayu berupa daun dapat dugunakan sebagai pakan ternak untuk menunjang program Bumi Sejuta Sapi (BSS), atau mencanangkan program baru, Bumi Sejuta Kambig (BSK).

 

Gambar 3: Tanaman turi di lombok, ditanam di pematang sawah: (a) pohon muda, (b) daun muda dan bunga, (c) pertumbuhan maksimal.
Gambar 3: Tanaman turi di lombok, ditanam di pematang sawah: (a) pohon muda, (b) daun muda dan bunga, (c) pertumbuhan maksimal.

 

(Bersambung)

%d bloggers like this: